Rules of Surrender – Aturan Menyerah

Indonesian Cover

Detail buku:
Judul asli: Rules of Surrender (Governess Brides #1)
Penulis: Chistina Dodd
Tebal: 494 halaman
Penerbit: Oak Tree
Cetakan I, 2012
ISBN: 978-602-926-782-2

Sinopsis:

The Rules of Employement

Untuk Akademi Guru Privat Terkemuka.

Selalu ingat lingkungan Anda. Bagaimanapun juga, posisi Anda lebih tinggi dibandingkan para pembantu rumah, namun Anda bukanlah anggota keluarga. Pastikan menciptakan suasana belajar yang berdisiplin dan mengambil makanan dengan sebuah baki. Dan JANGAN pernah terlalu akrab dengan tuan rumah.

Rules of Behavior

Lady Charlotte Dalrumple dikenal sebagai seorang guru privat yang paling dapat diandalkan di Inggris, seorang wanita yang tidak pernah melakukan kesalahan dalam pergaulan sosial dan percintaan. Ia tampak sangat cocok untuk menerima tantangan mengubah perilaku Lord Wynter Ruskin yang lahir di Inggris, namun sayangnya menjadi tak beradab karena terlalu sering bepergian ke luar negeri.

Rules of Seduction

Namun, laki-laki tampan yang keras tabiatnya itu tidak punya keinginan untuk belajar tatacara sopan santun. Ia sekilas melihat kecantikan murni yang tersembunyi di balik penampilan luar yang rapi dan teliti, dan Lord Wynter lebih suka menghabiskan hari-harinya, siang malam mengajarinya mengenal cinta.

Ketika keinginan dan hasrat muncul di tengah-tengah mereka, Charlotte mengalami nikmatnya hasrat yang ada dan Wynter mengalami gejolak hasrat hati, namun sebelum dapat saling mencintai, keduanya lebih dulu harus saling menguasai.

Rules of Surrender

Resensi:
Sebuah akademi guru privat yang dikelola oleh tiga orang gadis terdengar tidak profesional pada zaman dimana cerita ini dikisahkan. Untuk mengubah image tersebut dan mendapat kepercayaan klien, Charlotte Dalrumple menerima pekerjaan sebagai guru privat dua orang anak Lord Wynter melalui nenek mereka, Adorna. Charlotte pun harus mengambil risiko menghadapi kembali masa lalu yang ditinggalkannya beberapa tahun lalu dengan menetap di rumah Lord Wynter.

Ternyata bukan hanya kedua anak Lord Wynter yang harus mendapat pelajaran tata krama dan etiket ala Inggris, ayah mereka sendiri juga ternyata membutuhkan hal yang sama karena terlalu lama berada di luar El Bahar, Mesir.

Penampilan Wynter yang sangat terpengaruh gaya berpakaian orang Arab, sifat liar, dan seenaknya sendiri pada diri pria tersebut membuat Charlotte risih. Semuanya bertentangan dengan prinsip yang gadis itu pegang sehingga Charlotte berusaha mengindari terlibat lebih jauh dengan Wynter.

Namun apa mau dikata, sang pria sudah bertekad untuk mendapatkan Charlotte. Dan setelah beberapa kali tarik ulur yang tidak banyak diperlukan karena Charlotte sendiri diam-diam tertarik dengan Wynter, keduanya menikah dan happy ending.

Tidak banyak konflik antar pasangan yang terjadi dalam buku ini. Karakter Charlotte yang semula tegas dan berprinsip di awal cerita perlahan luntur hanya karena kekeraskepalaan Wynter mendekatinya. Cukup mengecewakan juga karena kupikir bakal banyak interaksi tarik ulur dan pendekatan yang lebih elegan dari Wynter kepada Charlotte. Sikap liar Wynter pun tidak berubah bahkan setelah dia menikah dengan Charlotte. Bahkan pria ini terkesan bangga melakukan berbagai tindakan tanpa tata krama dan memalukan di hadapan umum. Satu bukti bahwa sebenarnya Charlotte gagal mengajarkan tata krama kepada Lord tersebut.

Beberapa hal yang terasa mengganggu dan terkesan hanya dipaksakan muncul adalah cerita tentang ‘hantu’ di rumah Lord Wynter. Tiba-tiba saja keberadaan ‘hantu’ tersebut terkuak di akhir buku tanpa adanya penyelidikan lebih lanjut dari si empunya rumah, padahal semua pelayan merasa terganggu dengan keberadaan ‘hantu’ tersebut.

Sikap permusuhan dari keluarga Paman Charlotte yang seenaknya dan mendadak berubah di hari pernikahan Charlotte terasa janggal. Juga keberadaan Lord Howard yang masih memaksa Charlotte di hari pernikahannya dengan Wynter terasa mengada ada terlebih sebelumnya diceritakan Lady Howard tertarik pada Wynter.

Ide menjadikan Timur Tengah sebagai tempat pelarian Wynter dan membuatnya beristrikan orang asli El Bahar sempat membuatku senang, namun kemudian penceritaannya akhirnya memberi kesan bahwa orang Timur Tengah liar dan tanpa aturan apabila dibandingkan dengan Inggris.

Yang kusuka dari buku ini hanya kasih sayang Lord Wynter kepada kedua anaknya dan bagaimana kedua anak tersebut berinteraksi dengan Charlotte yang sayangnya tidak terlalu banyak porsinya setelah Lord Wynter mulai mengejar sang guru privat.

Untuk kover versi Indonesia buku ini aku suka. Visualisasi wanita cantik dan kastilnya memberi kesan historical romance dalam sekali lihat. Hanya mungkin Charlotte tidak digambarkan secantik itu😛

Sensasi rasa untuk buku ini: 2,5/5

Sekilas kata:
Buku Oak Tree kedua yang aku baca. Untunglah kali ini gaya penerjemahannya lumayan bisa diikuti walaupun masih banyak terdapat typo dan juga kalimat yang terasa terpotong di beberapa bab serta ada kalanya aku bingung dengan time line cerita yang terasa meloncat-loncat😛

Oh ya, judul buku versi Indonesia-nya sempat mebuatku mengernyit heran. Beneran ini? :O

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s