Catching Fire – Tersulut

catching_fire1

Indonesian Cover

Detail buku:
Judul asli: Catching Fire
Penulis: Suzanne Collins
Penerjemah: Hetih Rusli
Tebal: 424 halaman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I, Juli 2010
ISBN: 978-979-22-5981-0

Sinopsis:

Api pemberontakan sudah tersulut. Dan Capitol ingin membalas dendam
Katniss Everdeen berhasil keluar sebagai pemenang Hunger Games bersama Peeta Mellark. Tapi kemenangan itu menyulut kemarahan Capitol. Kemenangan Katniss ternyata membangkitkan semangat pemberontakan di beberapa distrik untuk menentang kekuasaan Presiden Snow yang kejam.
Presiden Snow mengancam Katniss untuk meredakan kegelisahan penduduk distrik dalam Tur Kemenangan-nya. Satu-satunya cara untuk meredakan kegelisahan penduduk adalah membuktikan bahwa dia dan Peeta saling mencintai tanpa ada keraguan sedikit pun. Jika gagal, keluarga dan semua orang yang disayangi Katniss menjadi taruhannya….

“Collins berhasil menulis buku kedua yang lebih bagus daripada buku pertama.”
–The New York Times

“Buku ini jauh melampaui perkiraanku Sama serunya dengan The Hunger Games, tapi lebih mengena di hati… Luar biasa. Kau bakal rela bagadang membacanya. ” – Stephenie Meyer, penulis Twilight Saga

Resensi:
Sebagai sekuel, Catching Fire membuat para fans buku pertama bertanya-tanya, misteri dan petualangan seperti apa yang selanjutnya akan ditampilkan di buku kedua ini. Bukankah dengan berakhirnya Hunger Games berarti Katniss dan Peeta sudah terbebas dari ancaman kematian? Ternyata jawabannya adalah tidak.

Sikap Katniss yang dianggap membangkang dengan berbagi buah berry di akhir buku pertama yang membuatnya dan Peeta memenangi permainan mematikan Hunger Games secara dramatis membuat Capitol merasa terancam. Terlebih lagi mulai timbul desas-desus bangkitnya kembali semangat pemberontakan di berbagai distrik di negara Panem tersebut.

Capitol melakukan berbagai cara untuk menjatuhkan mental Katniss dengan mengancam keselamatan orang-orang yang disayanginya. Ancaman Presiden Snow yang manipulatif membuat Katniss fokus untuk memenuhi segala permintaan Sang Presiden.

Penampilan Katniss dan Peeta sebagai “sepasang kekasih” pun terpaksa harus dilanjutkan sepanjang tur mereka di dua belas distrik Panem. Padahal dalam dirinya Katniss merasa gundah, terlebih lagi perasaannya kepada Gale semakin kuat. Di sisi lain dia juga tidak bisa mengabaikan perasaannya kepada Peeta yang mulai muncul sejak keduanya berada di arena Hunger Games.

Kepatuhan Katniss kepada Presiden Snow dan Capitol harus dibayar mahal karena di berbagai distrik yang dikunjunginya bersama Peeta, dia semakin melihat bukti nyata kekejaman Sang Presiden dalam menekan kebebasan rakyatnya.

Pada akhirnya Katniss mengatur strategi bersama Haymitch untuk menyelamatkan Peeta ketika keduanya terpaksa terjun ke Hunger Games untuk kedua kalinya. Dia selalu menganggap bahwa Peeta lebih pantas memenangkan Hunger Games karena dia lebih pintar dan banyak disukai orang dengan pembawaannya yang tenang dan pandai bicara.

Pada Hunger Games yang disebut juga dengan Quarter Quell ketiga ini, Katniss dan Peeta mereka akan berhadapan langsung dengan para pemenang dari Hunger Games tahun-tahun sebelumnya dengan jumlah peserta dua kali lipat dan tingkat kesulitan yang berlipat pula.

Keikutsertaan Katniss dan Peeta dalam Hunger Games kembali sempat membuatku was-was dengan jalan cerita yang itu-itu saja, atau paling tidak mirip dengan adegan perjuangan bertahan hidup Katniss di buku pertama. Namun ternyata aku salah. Arena permainan yang unik, mematikan dari segala sisi, dan menyimpan misteri disajikan dengan bagus oleh Suzanne Collins yang pada akhirnya membuatku berdecak kagum dengan ide tersebut.

Bahkan sejak awal memasuki arena, Katniss menemukan kejutan luar biasa dengan ketidakbiasaan lokasi arena pertarungan tersebut. Perjuangan ekstra keras dan kesabaran luar biasa sangat diperlukan untuk mampu bertahan di arena Hunger Games kali ini.

Kemunculan tokoh-tokoh baru seperti Finnick, Beetee, Wiress, dan Johanna Mason yang memiliki keahlian masing-masing membuat para pembaca menebak-nebak berada di pihak siapakah mereka sebenarnya. Interaksi para tokoh baru dan tokoh lama yang cukup intens membuat para tokoh baru tersebut terkesan sudah dikenal sejak buku pertama. Bahkan bisa dipastikan tokoh Finnick-lah yang mencuri perhatian karena dia bisa dikatakan sebagai deskripsi sempurna pemenang Hunger Games yang diimpikan para wanita, baik secara fisik maupun kecerdasan.

Kali ini Katniss pun harus mengesampingkan ego dan rasa tidak percayanya kepada orang lain karena dia harus membangun aliansi dengan peserta lain demi melindungi Peeta, salah satu bentuk perlawanannya yang lain kepada Capitol dan Presiden Snow.

Berhasilkah Katniss selamat dan menyukseskan misinya bersama Haymitch demi menyelamatkan Peeta, anak laki-laki yang memberinya roti itu? Jawabannya hanya dapat ditemukan di akhir buku kedua seri the Hunger Games ini.

Sensasi rasa untuk buku ini: 3,5/5

Sekilas kata:
Argh, nanggung banget endingnya. Untung aku termasuk pembaca kloter akhir sehingga tidak harus menunggu lama untuk membaca buku ketiganya😀

Aku penasaran dengan visualisasi arena Hunger Games versi Quarter Quell ketiga yang mematikan ini pada versi filmnya yang semoga tidak mengecewakan dan bisa lebih baik dari film pertama🙂

Oh ya, review ini dibuat dalam rangka posting bersama @bbi_2011 untuk genre Fantasi

5 thoughts on “Catching Fire – Tersulut

  1. Pingback: Top 5 Most Favorite Books 2012 | Melihat Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s