Frankenstein

Indonesian Cover

Detail buku:
Judul asli: Frankenstein
Penulis: Mary Shelley
Penerjemah: Maria Lubis
Tebal: 312 halaman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I, 2011
ISBN: 978-979-22-5096-1

Sinopsis:

Dokter Victor Frankenstein ingin menciptakan makhluk sempurna dengan menggabungkan ilmu pengetahuan dan ilmu gaib. Dari sisa-sisa tubuh orang mati, ia membuat makhluk raksasa dengan kekuatan luar biasa… dan menghidupkannya. Tetapi ketika makhluk itu membuka mata, Frankenstein melarikan diri dengan rasa takut yang amat sangat.

Makhluk itu pun keluar ke dunia ramai, berusaha mencari teman dan cinta, namun yang diperolehnya justru kebencian dan ketakutan. maka ia pun bersumpah akan membalas dendam pada sang pencipta yang telah memberikan napas hidup baginya. Dengan kekuatannya yang luar biasa, ia berkelana hingga ke ujung dunia… untuk menghancurkan semua orang yang dicintai Frankenstein

Resensi:
SPOILER ALERT!

“Sadarilah betapa berbahaya orang memiliki ilmu pengetahuan. Dan juga yakinlah betapa lebih bahagia orang yang menganggap kota kediamannya sebagai dunianya, daripada orang yang ingin menjadi lebih besar daripada yang diizinkan kondratnya.” p. 63

Seberapa jauh ilmu pengetahuan dapat menjawab semua pertanyaan, rasa ingin tahu, dan obsesi seorang manusia, bahkan yang melebihi akal sehat sekalipun? Seberapa jauh ilmu pengetahuan dapat menyamai kekuasaan Sang Pencipta, seperti menciptakan makhluk hidup misalnya? Hal itulah yang menjadi inti cerita Frankenstein karya Mary Shelley ini.

Cerita dibuka dengan sebuah surat dari seorang pria, Robert Walton, kepada sang adik, Margaret Saville, tentang perjalanannya dengan kapal pada abad 17. Pria ini menceritakan bagaimana dia haus pengetahuan dan membutuhkan sahabat untuk berbagi obsesinya tersebut. Selang beberapa waktu kemudian, dalam suratnya Robet Walton mengungkapkan bahwa dia menemukan seorang pria dengan kondisi mengenaskan yang akhirnya dia rasa mampu menjadi tempatnya berbagi impian dan obsesinya selama ini akan ilmu pengetahuan.

Pria yang kemudian diketahui bernama Victor Frankenstein itu segera memberi peringatan kepada Walton agar tidak terjebak dalam pemikiran terlalu mendalam dan menggebu-gebu tentang penciptaan makhluk baru karena hasilnya tidak akan terduga dan bahkan membawa bencana. Kemudian Frankenstein menceritakan sebuah kisah yang membawanya terdampar ke tempat Walton menemukannya, kisah menggemparkan tentang penciptaan makhluk yang terasa tidak mungkin terjadi karena menyalahi kekuasaan Tuhan.

Frankenstein kecil hidup bahagia bersama kedua orang tua, seorang adik angkat-yang kemudian dia cintai, Elizabeth, dan dua orang adik kandung, William dan Ernest, serta seorang sahabat dekat, Clerval. Perkenalannya dengan ilmu pengetahuan kuno terjadi secara tidak sengaja yang berlanjut pada keinginannya untuk mempelajari ilmu pengetahuan secara lebih mendalam di universitas. Kematian sang ibu menjelang kepergiannya ke universitas membawa dampak cukup dalam bagi Frankenstein yang kemudian mempertanyakan sebuah pertanyaan yang dianggap lancang karena mempertanyakan kuasa-Nya.

“Darimana sebenarnya asal nyawa setiap makhluk hidup?” p. 60

Dari ketekunannya mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan, terutama fisika, kimia, biologi, dan matematika, Frankenstein berhasil menemukan cara unutk menghidupkan benda tak bernyawa. Semakin terbawa oleh kesuksesan tersebut, dia mengembangkan penelitiannya untuk menciptakan manusia tiruan dalam skala yang lebih besar, berukuran dua setengah meter yang akhirnya berhasil dilakukannya.

“Sungguh aneh hakikat ilmu pengetahuan! Sekali masuk ke otak, ilmu pengetahuan akan terus berpegangan erat-erat seperti kancing-kancingan melekat pada batu.” p.163

Namun dasar manusia tak pernah puas, saat keinginannya terpenuhi, mendadak Frankenstein merasakan ketakutan luar biasa melihat betapa buruknya makhluk ciptaannya itu yang memang bagian-bagian tubuhnya diambil Frankenstein dari mayat yang diambil dari kuburan yang dijahitnya satu persatu untuk menjadikannya sebagai tubuh utuh manusia. Frankenstein menolak menghadapi makhluk ciptaannya, membencinya, dan bahkan meninggalkannya begitu saja.

“Semua orang membenci apa saja yang punya buruk rupa. Tapi mengapa aku harus dibenci kalau keadaanku paling penyedihkan di antara semua makhluk hidup. Bahkan kau, penciptaku, membenciku dan mencelaku, ciptaanmu?” p.131

Dampak dari perbuatan Frankenstein tersebut rupanya sangat fatal. Sang makhluk ciptaan awalnya tidak tahu apa-apa seperti layaknya bayi baru lahir, namun sejalan dengan kebutuhan untuk berjuang hidup di dunia yang masih sangat baru baginya, Sang Makhluk Ciptaan mulai belajar dari alam, beradaptasi dengan lingkungn, dan juga mempelajari keseharian manusia dengan sembunyi-sembunyi. Ya, keburukan rupa fisik Sang Makhluk Ciptaan membuatnya ditakuti oleh setiap manusia yang ditemuinya, bahkan orang-orang yang selama ini dianggapnya teman. Dari perlakuan yang diterimanya itulah, Sang Makhluk Ciptaan kemudian memupuk dendam kepada Sang Penciptanya, Frankenstein. Maka dimulailah teror kepada Frankenstein melalui orang-orang terdekatnya.

Ketika bertemu muka dengan Frankenstein, Sang Makhluk Ciptaan memohon padanya untuk memberinya pasangan agar mereka berdua bisa hidup di pedalaman sehingga tidak perlu bertemu dengan para manusia yang tidak tahan melihat rupa fisiknya. Dengan segala macam pertimbangan akhirnya Frankenstein mau menuruti permintaan tersebut. Namun kemudian pada detik terakhir penciptaan makhluk baru itu Frankenstein mengurungkan niat dan menambah murka Sang Makhluk Ciptaan.

Yang terjadi kemudian adalah tragedi. Semua orang terdekat Frankenstein mengalami nasib buruk dan tinggallah Sang Pencipta itu sendirian, merana kehilangan semua orang terdekatnya. Dalam kondisi itulah Frankenstein bertemu dengan Robert Walton dan menceritakan kisah mengerikan yang terjadi akibat obsesi dan keingintahuannya yang sangat besar untuk memecahkan misteri dengan ilmu pengetahuan.

Walton masih meragukan kebenaran cerita Frankenstein sebelum akhirnya bertemu langsung dengan Sang Makhluk Ciptaan sebelum ajal menjemput Sang Pencipta tersebut. Kematian Frankenstein membuat makhluk tersebut meradang dan memutuskan untuk menghilang dari kehidupan manusia. Masih hidup atau tidakkah makhluk itu di kemudian hari tiada yang tahu, karena keberadaannya sendiri dapat dikatakan telah menyalahi kodrat alam.

Membaca buku ini akan membawa kita pada dunia masa lampau dimana ilmu pengetahuan diagung-agungkan dan dipercaya menjadi jawaban untuk segala pertanyaan yang kemudian bermunculan seiring dengan perkembangan zaman. Di sisi lain kita akan belajar bahwa sebuah obsesi yang terlalu tinggi seringkali tidak membawa kebahagiaan hidup. Penyangkalan terhadap hasil ciptaannya membuat Frankenstein malah menciptakan monster, padahal di awal penciptaannya, walaupun secara fisik rupanya  sangat buruk, makhluk tersebut sama polosnya seperti bayi dan membutuhkan bimbingan untuk bertahan hidup di dunia yang kejam ini.

Untuk kover buku, buku terbitan GPU ini sangat sederhana, keseluruhan berwarna hitam dengan sedikit corak abu-abu gelap dan warna merah pada judul, pengarang, dan logo penerbit di sudut kanan atas. Pilihan warna hitam ini mampu mewakili suasana muram, suram, kelam, dan misterius yang tersaji sepanjang cerita.

Quotations:

“Kita beristirahat, tetapi impian mampu meracuni tidur lelap.
Kita bangun; satu pikiran akan mengeruhkan perasaan.
Kita merasakan, membayangkan, mempertimbangkan; tertawa atau menangis.
Memeluk kesedihan, atau melemparkan kemalangan.
Semua sama saja: sebab sbaik kegembiraan maupun kesedihan akan lenyap dengan mudah.
Kemarin takkan sama dengan esok.
Semua akan selalu berubah-ubah!” p. 129

“Dalam masyarakat manusia kekayaan selalu dijunjung tinggi dan keturunan orang berbangsa selalu bertalian dengan harta kekayaan.” p.162

Sensasi rasa untuk buku ini: 4/5

Sekilas kata:

Frankenstein (1994)

Selama membaca buku ini yang ada di bayanganku adalah film Frankenstein (1994) yang pernah kutonton beberapa tahun lalu di televisi. Ingatanku tentang jalan cerita film tersebut hanya tersisa samar-samar, namun dengan membaca buku ini memberiku penjelasan tentang awal mula pembuatan Sang Makhluk Ciptaan.

Review ini dibuat dalam rangka posting bersama @bbi_2011 untuk genre Gothic (walau telat sehari tapi untunglah masih bulan Juni :P)

13 thoughts on “Frankenstein

  1. Pingback: [Wrap Up Post] Name In A Book Challenge 2012 | Melihat Kembali

  2. Pingback: Top 5 Most Favorite Books 2012 | Melihat Kembali

  3. Having read this I thought it was rather enlightening. I appreciate you finding the time and energy to put this information together.
    I once again find myself personally spending way too
    much time both reading and leaving comments. But so what, it was still worthwhile!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s