Memory and Destiny (Amore 02)

#bukubiru

Detail buku:
Penulis: Yunisa K.D.
Editor: Hetih Rusli
Co Editor: Raya Fitrah
Tebal: 264 halaman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I, 2010
ISBN: 978-979-22-5658-1

Sinopsis:
Memory and Destiny. Kisah cinta dua dunia. Apakah teman khayalan itu benar-benar ada? Ataukah itu malaikat pelindung anak kecil?

Maroon Winata, calon dokter, yakin bahwa Donald-nya benar-benar ada. Sejak pertemuan pertama di Westminster Abbey, pada hari terakhir Maroon kecil di kota London, sampai Maroon di Jakarta dan berjuang menyesuaikan diri dari lidah bule ke bahasa ibunya, Donald adalah teman bermain dan belajar.

Maroon dan Donald dewasa bertemu, namun mereka belum menemukan tali penghubung memory masa lalu mereka. Nasib mempermainkan mereka. Lalu muncullah David yang tampan dan kaya. Lelaki itu percaya destiny telah mempertemukannya dengan Maroon. Memory dan destiny dalam hidup Maroon pada akhirnya menunjukkan bahwa Tuhan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya.

Resensi:

Buku dengan kover berwarna dominasi biru ini terlihat keren saat terpajang di toko buku, namun dengan catatan jika hanya menampilkan gambar Westminster Abbey dengan Big ben di latar belakangnya. Gambar pria yang ada di latar depan terasa sangat mengganggu karena sekali pandang saja langsung terlihat bahwa posisi Mas Jose Antonio Reyes sebagai visualisasi tokoh pria dalam buku ini salah perspektif*sigh*

Hanya sebatas itulah kelebihan buku ini, karena kalimat “don’t judge a book by it’s cover” amat sangat berlaku untuk buku yang selanjutnya akan disebut sebagai #bukubiru ini.

Begitu menerima paket #bukubiru yang dipinjam langsung dari teman sang penulis ini, aku menyempatkan diri membuka halaman pengenalan penulis dan langsung menemukan kata-kata yang tidak enak untuk dibaca. Hmm, tergoda go international dan melupakan keinginan menjadi dokter? Bukannya di luar negeri juga bisa belajar kedokteran ya? Hmm, lupakan. Di daftar karyanya ternyata cukup banyak juga, sampai menyebutkan tentang keikutsertaan sang penulis dalam lomba kecantikan segala. Hmm, mulai terasa narsisnya nih.

Kemudian aku beralih ke halaman ucapan terimakasih. Langsung kutemukan beberapa kalimat-kalimat yang tidak nyaman dibaca serta nyempil beberapa bahasa inggris yang mungkin lupa diterjemahkan karena sebenarnya ada kata  dalam bahasa indonesia yang lebih pas…eh, tapi ini buku berbahasa Indonesia kan ya? *silent* Hmm, lanjut sajalah.

Masuk ke Bab I aku langsung dihadapkan dengan kenyataan bahwa kalimat ketiga yang disajikan mampu membuatku mendadak terdiam sesaat dan terpaksa membaca ulang dari awal untuk mencerna kalimat yang cukup pajang itu. Err, ini novel genre romance dewasa kan ya? Kenapa ada kalimat yang membawa-bawa syukur kepada Tuhan atas sapaan sinar matahari yang kaya vitamin D segala? Ah, lanjutkan sajalah.

….

Hmm, kenapa istilah best man dan bride’s maid harus dijelaskan segala? Pembaca wanita dewasa di zaman sekarang pasti sudah kenal istilah tersebut bukan? Lanjut lagi…

Oh, sudah pindah adegan usai kecelakaan. Hm, gadis berambut bob sebahu yang tergerai di tiup angin musim panas? Bukannya mereka sedang berada di dalam bangunan Westminster Abbey? Dari mana angin musim panasnya berembus?

….

Ketika diceritakan bahwa Donald “mengikuti” Maroon pulang ke Indonesia, aku merasa sangat heran. Sebegitu kuatkah magnet ketertarikan Donald pada gadis kecil berumur sepuluh tahun yang hanya sekali ditemuinya tersebut hingga jiwa kelana pria tersebut bisa diimpor ke Indonesia? Yang banyak kutemui dalam umumnya sebuah cerita dengan tema yang sama, jiwa kelana tersebut paling banter berada di lain kota, kota sebelah, bukan lain negara. Apa nggak seram ya kalau jiwa kelana tersebut nggak bisa balik ke tubuhnya karena jarak tempuh yang harus dilaluinya terlalu jauh? >__<”

….

Jiwa kelana itu tak kasat mata kan? Lalu bagaimana mungkin jiwa kelana Donald bisa membaca dan membolak-balik buku namun tidak bisa melalukan CPR pada papa Maroon yang mengalami serangan jantung sehingga dia harus merasuki gadis kecil tersebut untuk menolong sang papa?

….

Ketika akhirnya Maroon kecil dan Donald berpisah karena suatu hal dan cerita beranjak ke masa dewasa Maroon, aku semakin sering menemukan banyak hal yang terasa tidak pas pada tempatnya, membuatku berkali-kali berhenti membaca, mengernyitkan dahi sambil mencerna kembali setiap kalimat yang ada dan tak jarang mencela karena ketidakjelasan kalimat yang tidak nyambung tersebut. Bahkan ketika di pertengahan cerita dimunculkan tokoh-tokoh baru seperti Sharon, Lembayung, Olivia, dan juga David yang nantinya dimaksudkan sebagai orang ketiga di dalam “hubungan” Maroon dan Donald, aku semakin pusing dan bosan membaca buku ini. Namun rasa penasaran dengan akhir seperti apa yang disajikan oleh YKD membuatku menahan diri untuk berhenti membaca di tengah jalan.

Ketika akhirnya kuselesaikan membaca #bukubiru ini, aku mengalami apa yang dinamakan galau akut yang baru pertama kali aku alami sepanjang sejarahku membaca buku. Galau? Ya, tentu saja! Bagaimana aku tidak galau kalau hampir di setiap halaman aku menemukan banyak keganjilan seperti pengulangan deskripsi berlebihan tentang para tokohnya terutama pesona fisik, kepandaian, dan kekayaan sang tokoh utama pria dan juga berbagai kelebihan sang tokoh wanita yang terkesan tidak memberi celah kekurangan sedikit pun untuk para tokoh tersebut.

Pengulangan adegan saat para tokoh kebetulan berada di tempat yang sama namun tidak saling menyadari, penggunaan banyak kata destiny yang juga berulang-ulang sebagai ganti kata takdir setiap kali ada sebuah kejadian kebtulan, dan berbagai penjelasan tidak perlu yang diungkapkan di hampir setiap bab dalam buku ini sampai hingga ke akhir cerita yang klise dan hanya segitu saja benar-benar mengecewakanku. Kesabaran dan perjuanganku mengatasi kegalauan sepanjang membaca #bukubiru karya YKD ini ternyata tidak terbayar sama sekali dengan kepuasan karena sulitnya kumencerna cerita yang disajikan.

Orang yang melantunkan nyanyian untuk hati yang sedih adalah seperti orang yang menanggalkan baju di musim dingin. Atau seperti cuka yang menetesi luka. Ouch! p.144

Mengapa kutipan ini aku sajikan di sini? Inilah kutipan yang sukses membuatku mendelik heran dan berteriak kaget sewaktu membacanya. “Hah, maksudnya apa? Nggak nyambung, ah.”  Ini maksudnya lagu sedih kan ya, bukan setiap lagu? Jadi maksudnya orang yang sedang sedih hatinya saat mendengarkan lagu sedih akan semakin merasa hatinya bagai disayat sembilu, perih seperti luka ditetesi cuka kan? Jadi bukan orang yang menyanyikan lagu (kalau menilik dari kutipannya berarti setiap lagu) untuk orang yang bersedih hati itu yang akan menggingil kedinginan karena membuka baju di musim dingin kan? Jujur, inilah kutipan terkonyol dan salah artian yang pernah kutemukan sampai hari ini.

Bukan maksud hati merendahkan #bukubiru ini, namun apa daya ketika pembelaan dari sang penulis yang ngotot bahwa untuk membaca buku ini perlu otak prima, buku ini mengandung pesan/nilai moral, dan keengganan sang penulis mengakui secara legowo bahwa bukunya punya banyak kekurangan terutama dalam gaya penulisan dan penceritaan, telah membuat banyak orang mau tidak mau memandang sebelah mata pada karya dan penulis itu sendiri.

Mungkin memang banyak pesan moral yang ingin disampaikan penulis (pentingnya suntikan hepatitis B, perlunya meneliti dosis resep sebelum menebus ke apotek, cara memberi pengertian tentang KB kepada anak kecil, percakapan akrab tentang urusan BAB, protes tentang minimnya troli di Bandara Singapura, susahnya mendapatkan taksi di New York, dan banyak lagi lainnya), namun bagaimana mengolah pesan moral sarat informasi tersebut dalam kemasan cerita novel yang bagus itu butuh keahlian tersendiri. Bagaimana membuat para pembaca bisa menerima informasi penting tanpa merasa digurui dan tanpa embel-embel pemberitahuan “ini loh pesan moralnya” adalah pekerjaan para penulis dan untuk kasus kali ini adalah sebuah peer besar YKD. Begitu juga perlunya melakukan logical check untuk berbagai hal kecil yang ternyata salah kaprah seperti yang sudah tersaji di dalam buku ini. YKD perlu melakukan riset kecil-kecil, atau kalau perlu melakukan riset mendalam terkait dunia kedokteran yang secara sadar atau tidak telah menjadi obsesinya sejak awal menulis dan menerbitkan novelnya.

Over all, aku tahu bahwa menulis dan menerbitkan sebuah buku itu tidak mudah, lebih mudah mencela, mencerca, dan mengkritik habis-habisan tanpa memberi solusi, namun tidaklah bijak apabila seorang penulis tidak mau menerima kritik dan saran dari orang-orang yang menyempatkan diri membaca buku yang dia tulis. Menjadi seorang penulis yang berhasil menerbitkan sebuah buku harus siap dengan segala konsekuensinya, termasuk apabila buku tersebut gagal total menarik perhatian sebagian pembaca untuk menikmatinya dan akhirnya malah mencetak rekor besar di goodreads sebagai buku kacrut of the year di tahun 2010.

 Sensasi rasa untuk buku ini: 1/5

15 thoughts on “Memory and Destiny (Amore 02)

  1. hihi,. aku sempat liat aksi pembelaan penulis di goddreads mbak. By the way premis ceritanya agak mirip-mirip salah satu cerita FTV yah (kalau gak salah diperanin masayu anastasia). Tapi jadi penasaran juga nih pengen baca😀

    • kesan yang kutangkap sih si penulis memang menjawab pertanyaan tapi tidak lupa menekankan bahwa karya dia tanpa cela dan tanpa menerima satu pun kritik dan saran yang jelas2 kalau dibaca orang nyata adanya dan memang pantas disalahkan.

      tentang pernah ada FTV-nya..aku perna baca juga di komen sapa gitu, tpi tetep gtw FTV yg mana😀

      silakan baca dan rasakan sendiri sensasi perlunya otak prima+seberapa galau yg melanda saat membaca buku ini, bahkan sejak halaman pertama! >__<"

  2. Itu loh, judulnya Cinta Untuk Cinta. Pemerannya Masayu Anastasia dan Dimas Seto kalo nggak salah.

    Dan CUC itu nyontek plek film Just Like Heaven yg diperankan Reese Witherspoon dan Mark Ruffalo.

    Sedangkan JLH sendiri merupakan adaptasi dari buku If Only It Were True – Andai Dia Nyata by Marc Levy

    Jadi intinya…

    *kepanjangan boook*

  3. kebetulan aku cukup mengikuti berita soal penulis ini… dan maaf saja, aku tak suka padanya, gak suka pribadinya (yang tercermin dari caranya membela diri) dan gak suka karyanya

    hihihihi

    • lah ini saya baca juga karena heboh huru-hara gonjang-ganjing review buku ini di goodreads, mbak. modal cumi aja ke tmen yg dpt gratisan bukunya dri si pnulis krna sempet satu sekolah sma tu cewe🙂
      FYI, diskusi di goodreadsnya masih saja panas smpe skrg ya krna EGO si penulis yg WOW itu😛

      • ini bahkan sampe ada kelompok penguntit buat dia loh Dan hahaha… saking bener2 nih penulisnya yang bilang kalo semua orang yang ngeledekin dia otaknya adalah otak teflon hahahaha

      • di grup BBI facebook maah kmbali mncuat karena adanya troll -kmungkinan tmen/sodara/knalan pnulis-yg ngebelain pnulis n mencela review seorg tmen di GR *sigh* da akhirnya pada melihat kembali ke blog dia yg itu tuh😛

  4. brb komen. hehehe. iseng-iseng nyari review good books di GR. eh, malah ketemu kasus begini. dan jadi kelupaan buat nyari buku. *god!* dan yeah… aku juga ngerasa ini penulis kok nyebelin ya? bukan masalah dia ngejawab setiap komen pembaca yang ngereview dan ngasih bintang 1 buat bukunya. tapi, persepsi dia sama orang yang baca bukunya dan ngasih bad review bahwa orang tersebut tidak membacanya dalam kondisi otak prima. hello… bahkan adik gue yang masih smp mungkin bakalan langsung nggeletakin buku ini begitu aja di kasur gue (kalo gue dapet pinjeman) dan lebih memilih baca J.D. Robb yang gue sembunyiin di dalam tas karena ga lulus sensor untuk anak smp *hehehe*.

      • hoho. bener banget. eh, emang ada sekuelnya? #tepokjidad. yaudah. tunggu aja. anyway, salam kenal.😀

      • iya, pda mnduga2 itu cerita ttg Olivia dan David, cowo yg smpat ngejar2 si Maroon😛

        salam kenal balik, feel free to enjoy this moodybookblog🙂

      • aku jadi penasaran dengan #bukubiru dengan sampul cowok asia itu. kayak apa ya? apa aku harus membacanya setelah uts agar otakku benar-benar prima? yeehh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s