Gone With The Wind-Part I

Indonesian Cover

Akhirnya aku membaca juga Gone With The Wind, buku karya Margaret Mitchell yang kuketahui keberadaannya setelah aku menonton filmnya beberapa tahun silam di televisi. Buku ini terdiri dari 5 bagian, dimana masing-masing bagian menceritakan setiap perkembangan kehidupan sang karakter utama, Scarlett O’Hara sejak masih gadis remaja hingga menjadi wanita dewasa yang mengalami banyak kejadian sepanjang hidupnya di masa Perang Saudara Amerika (1861-1865).

Bagian pertama buku ini menceritakan masa remaja Scarlett O’Hara di kota kelahirannya, Georgia dan juga sekilas tentang sejarah keluargnya. Scarlett terlahir sebagai sulung dari tiga bersaudara dari seorang imigran Irlandia, Gerald O’Hara dan istrinya, Ellen Robillard. Tara, rumah yang saat ini ditinggali keluarga O’Hara didapat Gerald melalui pertaruhan dalam bermain kartu di masa mudanya. Memiliki tanah perkebunan yang luas dengan sebuah rumah besar di tengahnya telah menjadi impian Gerald sejak lama karena dengan memiliki tanah dia merasakan kekuasaan dan dihormati oleh orang lain.

“Tanah adalah satu-satu milik yang paling berharga di dunia. Karena tanah adalah satu-satunya benda yang abadi di dunia. Jangan luapakan itu! Hanya demi tanahlah kita patut bekerja keras, berperang… dah hidup.” Gerald O’Hara. p.45

Di tanah impian ayahnya itulah Scarlett lahir, menghabiskan masa kecil, dan tumbuh menjadi seorang gadis tomboy yang lebih sering menghabiskan waktu bermain bersama anak laki-laki daripada bergaul dengan gadis-gadis lainnya. Hal ini sempat membuat ibu dan pengasuhnya khawatir Scarlett tidak akan mampu menarik minat para pria untuk melamar dan menikahinya. Namun Scarlett yang berkeyakinan diri tinggi mampu berpenampilan lembut, anggun, dan terhormat di hadapan umum serta mempesona banyak pria walaupun pada dasarnya dia sebenarnya keras kepala, meledak-ledak, sombong, dan egois.

Sifat buruk Scarlett hanya diketahui Mammy, pengasuh Scarlett sejak kecil, semnetara Ibu Scarlett yang sangat dipuja gadis itu tidak dapat melihat sifat asli puterinya tersebut. Sementara sang ayah sangat membanggakan penampilan fisik Scarlett yang disebutnya tercantik di lima county. Scarlett sediri beranggapan bahwa penampilan fisik merupakan senjata utamanya untuk menarik perhatian para pria sehingga Scarlett lebih memilih mempercantik diri daripada mempelajari pengetahuan umum yang dianggapnya sia-sia saja.

Namun begitu nasib berkata lain ketika Ashley Wilkes, pria yang dicintai Scarlett sejak remaja akan bertunangan dengan Melanie, seorang gadis pemalu yang dirasa Scarlett tidak memiliki kelebihan apa-apa dibandingkan dengan dirinya. Scarlett langsung memutar otak untuk merebut Ashley. Ketika akhirnya Scarlett mendapat kesempatan berbicara dengan Ashley dan mengungkapkan perasaannya, pria tersebut ternyata memberikan jawaban yang membuatnya patah hati.

“Cinta saja tidak cukup untuk menjamin perkawinan yang bahagia, apalagi antara dua orang yang sangat berbeda seperti kita. Kau menuntut keseluruhan diri seorang pria, Scarlett. Tubuhnya, hatinya, jiwanya, dan pikirannya. Kau tidak puas jika tidak memiliki semuanya. Dan aku tidak bisa memberikan keseluruhan diriku padamu… atau pada siapa pun.” Ashley p.135.

Dalam keadaan patah hati itulah Scarlett bertemu kembali dengan Rhett Buttler setelah sebelumnya Scarlett merasa terintimidasi oleh pria tersebut pada pertemuan pertama mereka. Scarlett semakin tidak menyukainya setelah mendengar tidak tanduknya di masa lalu dan menganggapnya tidak sopan karena menguping pembicaraan orang. Rhett mengabaikan Scarlett, membuat gadis itu semakin membencinya.

Scarlett merasa putus asa dan hampir menyerah menghadapi situasi yang tidak berpihak padanya, namun bukan Scarlett O’Hara namanya jika harus menyerah begitu saja. Scarlett pun mengambil keputusan gegabah dengan menerima pinangan Charles yang tidak lain adalah kakak Melanie, calon tunangan Ashley.

Bagian pertama dari buku ini diakhiri dengan kepindahan Scarlett ke Atlanta setelah menjanda sepeninggal Charles yang tewas di medan perang. Selain merenggut nyawa Charles, Perang Saudara Amerika tersebut akan membawa dampak sangat besar bagi kehidupan orang-orang selatan yang selama ini hidup dengan memelihara budak. Menilik sifat dan tingkah laku Scarlett yang tidak biasa pada zamannya, bagian kedua dan seterusnya dari buku ini akan menyajikan cerita yang lebih menarik, selain tentu saja kelanjutan kisah cintanya dengan Rhett Bulttler di kemudian hari.

FYI:

Sejak awal aku tidak terlalu menyukai karakter Scarlett yang cukup menjengkelkan sebagai tokoh utama wanita dalam cerita ini. Sikapnya yang sombong, keras kepala, dan ingin selalu mendapatkan yang diinginkannya cukup menggangguku karena pada dasarnya aku tidak suka karakter orang seperti itu. Untuk Ashley yang dicintai Scarlett dengan membabi buta, aku tidak pernah menyukainya karena menurutku dia terlalu penakut untuk mengambil risiko mencintai gadis seliar Scarlett. Saat pertama kali tahu nama pria yang membuat Scarlett tergila-gila ini bernama Ashely aku hanya berpikir, kok namanya Ashley? Maklum saja selama ini aku lebih familier mendengarnya sebagai nama seorang gadis. Namun ternyata aku salah karena ternyata nama Ashley sebenarnya adalah nama untuk anak laki-laki😀

Karakter Rhett yang bengal dan melawan arus sudah terlihat sejak kemunculannya pertama kali di pesta yang dihadiri Scarlett. Pandangannya yang tidak biasa terhadap perang memicu pertentangan dengan para pemuda di sekitar Scarlett yang pada umumnya pesolek yang tidak terlalu cerdas dan sangat bergantung pada budak mereka. Rhett juga menyimpan masa lalu yang penuh skandal sehingga lengkaplah sudah image bukan pria baik-baik yang disandangnya. Lawan tanding yang sepadan untuk Scarlett, bukan?😀

14 thoughts on “Gone With The Wind-Part I

  1. Saya blom pernah baca gone with the wind, cuma nonton filmnya aja.. dan saya kok malah suka karakter dia ya, kuat.. gara2 itu, saya jadi beli lanjutan gone with the wind “Scarlett”, dengan penulis yang beda,, sayangnya saya kurang suka.. ~(*+﹏+*)~

    • memang Scarlett itu love to hate, jdi ad yg sebel n ad yg suka sma karakter kuat dia itu..

      pda dasarnya aq kurang suka cewe manipulatif sih, teruas juga aq udah liat versi filmnya dan disitu Scarlett bener2 ngeselin *persis yg di buku* xD

      aq mau bli lanjutannya tpi tertunda terus, ga terlalu bagus ya? versi filmnya sndiri aq jga kurang suka, pmerannya terlihat lebih licik dri yg Vivien Leigh, mana kurang ‘mempesona’ >_<

  2. Memang rata2 pada gak suka sama Scarlett yg terlalu egosentris dan oportunis (yg terakhir ini akan semakin kelihatan di Part2 selanjutnya). Dan memang, kayaknya memang Rhett yg paling bisa memahami Scarlett ya, kan sikap mereka juga sama2 nyebelinnya?😛

  3. Pingback: Lalu Bersama Angin | Melihat Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s