If I Stay – Jika Aku Tetap Di Sini

Indonesian Cover

Detail buku:
Judul asli: If I Stay (If I Stay #1)
Penulis: Gayle Forman
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Editor: Diniarty Pandia
Tebal: 200 halaman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I, Februari 2011
ISBN: 978-979-22-6660-3

Sinopsis:

Mia memiliki segalanya: keluarga yang menyayanginya, kekasih yang memujanya, dan masa depan cerah penuh musik dan pilihan. Kemudian, dalam sekejap, semua itu terenggut darinya.

Terjebak antara hidup dan mati, antara masa lalu yang indah dan masa depan yang tidak pasti, Mia menghadapi satu hari penting ketika ia merenungkan satu-satunya keputusan yang masih dimilikinya—keputusan terpenting yang akan pernah dibuatnya.

“Amat sangat menyentuh.” –Publishers Weekly, starred review

“Brutal sekaligus indah.” –School Library Journal, starred review

Resensi:

Buku ini sempat heboh beberapa waktu lalu karena katanya bagus dan membuat pembaca menangis saking sedihnya serta mendapat banyak review positif dari kalangan pencinta buku. Hal ini tentu saja membuatku penasaran sehingga aku pun rela menanti sekian lama sebelum akhirnya seorang teman berbaik hati meminjamkan dua seri lengkapnya padaku.

Begitu membaca buku ini, aku langsung terhanyut dengan alur cerita sejak halaman pertama. Deskripsi adegannya pas dan terjemahannya juga enak. Adegan roh Mia menyaksikan kondisi keluarganya pasca kecelakaan membuatku ikut merinding dan merasa miris membayangkannya. Ketika kemudian diketahui roh Mia mulai bergentayangan tanpa arah sementara tubuhnya sendiri yang terluka parah luar dalam dioperasi, entah kenapa aku menjadi kurang menemukan keterikatan dengan karakter gadis itu.

Untunglah kilas balik kenangan Mia bersama orang-orang terkasihnya memberi gambaran bagaimana kehidupan keluargan mereka sebelum kecelakaan itu terjadi dan membuat cerita tidak terlalu monoton dengan kegalauan hati Mia untuk tinggal atau pergi. Penggambaran tentang bagaimana orang tua Mia yang semula kurang peduli terhadap masa depan, menjadi orang tua teladan setelah mereka memiliki Mia dan adiknya, Teddy juga memberi nilai tambah buku ini karena hal itu benar-benar terjadi di dunia nyata.

Sebagai remaja, Mia juga mengalami fase mempertanyakan eksistensinya. Walaupun memiliki kelebihan bermain cello sejak kecil, namun Mia merasa dia bukanlah bagian dari keluarganya karena secara fisik dia berbeda dari orang tua dan adiknya. Bahkan walaupun sama-sama menggemari musik, Mia lebih memilih musik klasik daripada musik rock yang sempat dimainkan ayahnya semasa masih bergabung dalam bandnya. Namun begitu Mia dapat mengatasi fase tersebut dengan bantuan Kim, sahabat dekatnya, dan juga Adam, kekasihnya.

Keberadaan Adam cukup mendominasi kehidupan masa remaja gadis itu. Mereka bertemu karena musik, menjadi dekat karena musik, bahkan mulai menjalin hubungan juga karena musik. Musik, Mia, dan Adam terasa tak terpisahkan walalupun mereka berdua memilih genre musik yang berbeda. Mia pemain cello klasik, sementara Adam pemain gitar rock. Mia sendiri merasa tidak cocok bergabung bersama teman-teman Adam, dia seringkali menutup diri sebelum akhirnya pada sebuah kesempatan dia bisa melebur bersama dunia rock Adam. Masalah besar yang akhirnya harus Mia dan Adam hadapi adalah keputusan Mia untuk melanjutkan kuliah ke Juilliard, New York.

“Semua hubungan itu sulit. Persis seperti musik, kadang-kadang kau mendapatkan harmoni dan di lain waktu kau mendapatkan suara sumbang.” Kat Hall. p. 175

Ketika pada akhirnya Adam meminta Mia untuk tinggal, musik jugalah yang ikut menentukan keputusan Mia. Musiklah yang merasuk ke bawah alam bawah sadarnya yang memberinya jawaban untuk segala pertanyaannya selama dia meninggalkan tubuhnya.

Salah satu adegan yang membuatku sangat trenyuh adalah saat kakek Mia yang selama ini terlihat pendiam dan tidak terlalu dekat dengan para siapapun berbisik kepada Mia dan memintanya tinggal.

“Tidak apa-apa. Kalau kau mau pergi. Semua orang ingin kau tinggal. Aku ingin kau tinggal lebih daripada apapun yang kuinginkan di dunia ini.” Gramps. p. 151.

Buku ini telah diterbitkan di banyak negara dan hampir sebagian besar dengan kover yang berbeda-beda. Kover versi Indonesia buku ini tentu saja menampilkan suasana musim dingin, sesuai dengan waktu terjadinya kecelakaan yang merenggut nyawa seluruh keluarga inti Mia. Kursi taman berwarna merah yang kosong seakan menunggu kepastian Mia untuk pergi atau tinggal.

Sensasi rasa untuk buku ini: 3,5/5

2 thoughts on “If I Stay – Jika Aku Tetap Di Sini

  1. aku juga sempat penasaran dengan buku ini, dan akhirnya pinjem Sulis. Aku suka banget cerita Mia tentang keluarga dan adiknya. Ceritanya bikin semakin menghargai kebersamaan dengan keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s