Where She Went – Setelah Dia Pergi

Indonesian Cover

Detail buku:
Judul asli: Where She Went (If I Stay #2)
Penulis: Gayle Forman
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Editor: Diniarty Pandia
Tebal: 240 halaman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I, Oktober 2011
ISBN: 978-979-22-7650-3

Blurb:

Lanjutan Jika Aku Tetap Di Sini (If I Stay)

Tiga tahun sudah berlalu sejak cinta Adam menyelamatkan Mia setelah kecelakaan yang memorakporandakan hidup gadis itu…

…dan tiga tahun sejak Mia pergi dari kehidupan Adam untuk selamanya.

Sekarang Mia bintang muda sekolah musik klasik Juilliard dan Adam bintang rock terkenal. Ketika Adam terjebak di New York sendirian, takdir mempertemukan mereka lagi, untuk satu malam terakhir.

Sambil menjelajahi kota yang sekarang menjadi rumah Mia, Adam dan Mia kembali mengunjungi masa lalu dan membuka hati untuk masa depan—serta satu sama lain

Resensi:

First you inspect me
Then you dissect me
Then you rejrect me
I wait for the day
That you’ll resurrect me

Animate-Collateral Damage

Jika buku pertama menceritakan bergentayangannya roh Mia karena kecelakan yang merenggut nyawa keluarga intinya, buku kedua ini menceritakan kehidupan Adam, sang kekasih, tiga tahun setelah Mia berhasil sadar dari komanya.

Janji Adam untuk melakukan apa saja untuk Mia ternyata harus dipenuhi pria itu walaupun caranya sangat tidak mengenakkan untuknya. Mia pergi meninggalkan kota mereka untuk belajar di sekolah musik, sementara Adam tenggelam dalam kesedihan sebelum akhirnya bersama band-nya mencetak sukses besar dengan merilis album pertama mereka. Seluruh lagu pada album tersebut diciptakan Adam usai memutuskan bangkit dari keterpurukannya, dan semuanya terinspirasi dari Mia.

Ketika berada di puncak ketenaran inilah Adam menghadapi salah satu risiko menjadi orang terkenal. Dia menderita kecemasan akut yang pelan-pelan menggerogoti jiwanya. Hal ini diperparah dengan hubungannya dengan Bryn, seorang aktris yang menjadi kekasihnya beberapa waktu terakhir. Sebagai pasangan populer, Adam dan Bryn selalu menjadi berita di hampir setiap surat kabar, sehingga mau tidak mau Adam harus menjaga tingkah lakunya selama di hadapan publik.

Puncak kecemasan Adam terjadi ketika ada seorang reporter yang mulai menanyakan masa lalu Adam dengan Mia. Adam tentu saja mengelak untuk menjawabnya, terutama karena sejak awal debut Shooting Star, orang-orang di sekitarnya tidak pernah menyinggung lagi tentang keberadaan Mia, bahkan seperti ada aturan tersendiri di antara anggota band bahwa tabu untuk menyinggung nama gadis itu di hadapan Adam.

Namun begitu, Adam seperti terpicu untuk menyelesaikan urusan masa lalunya yang belum selesai dengan Mia. Dia menunda keberangkatannya ke luar negeri untuk tur dan memilih untuk menyendiri sambil berharap kecemasan yang membelenggunya dapat teredam. Bosan berdiam diri saja, Adam berusaha membunuh sepi dengan berjalan-jalan di New York dan tanpa sengaja dia seperti diarahkan takdir untuk melihat konser Mia.

Adam akhirnya bertemu kembali dengan Mia dan melalui beberapa jam terbaik dalam hidupnya semenjak debut albumnya merenggut kehidupan pribadinya. Mia membawa Adam menjelajah sisi lain New York yang selama ini menjadi bagian hidupnya setelah bersekolah di Juilliard. Ketika akhirnya waktu semakin sempit dan memaksa mereka memilih jalan hidup mereka ke depannya, Adam menyadari bahwa selama ini bukan Mia yang perlu diselamatkan dari kehancuran setelah kecelakaan yang menimpa gadis itu, melainkan dirinya sendiri. Kecemasan yang dia derita sejak mengalami kehidupan layaknya selebriti Hollywood terkenal akhirnya perlahan sirna bersama beban masa lalunya yang dipikulnya selama ini.

“Berhenti tidak sulit. Memutuskan untuk berhentilah yang sulit. Tapi, begitu kau sudah melakukan lompatan mental itu, sisanya mudah.” Mia, p.165

Sebagai buku lanjutan dari If I Stay yang cukup fenomenal, Where She Went mampu memberikan akhir kisah yang terasa pas bagi Mia dan Adam yang setelah kecelakaan di buku pertama mengalami banyak hal yang mengubah hidup mereka secara drastis. Gaya penceritaan maju mundur seperti di buku pertama kembali disajikan pada buku kedua ini, membawa kita menyelami perlahan-lahan bagaimana Adam sebagai  seorang ‘pria’ yang sangat setia pada Mia di buku pertama bisa berubah menjadi ‘cowok’ galau seperti sekarang ini.

Entah mengapa setelah Adam dan Mia bertemu, alur cerita buku ini sedikit mengingatkanku pada film Before Sunrise. Pasangan yang baru berkenalan dalam film tersebut mengabiskan waktu berdua untuk menjelajah kota hingga menjelang pagi, sama seperti Mia dan Adam yang baru bertemu setelah sekian lama berpisah untuk kemudian saling menyelami kembali sisi kehidupan masing-masing yang terlewat.

Lirik yang ditulis Adam untuk Mia menjadi pembuka setiap bab masa kini, sebagai pembeda bab yang menceritakan kilas balik kehidupan Adam di masa lalu. Lirik itu merupakan rintihan kepedihan Adam sepeninggal Mia, sehingga maknanya terasa dalam dan sangat pas untuk para remaja yang sedang galau karena cinta. Di sepanjang cerita aku terngiang-ngiang salah satu lagu Muse yang sama-sama berjudul Collateral Damage seperti nama band Adam.

Sensasi rasa untuk buku ini: 3,5/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s