Reunion in Death – Reuni dalam Kematian

Indonesian Cover

Detail buku:
Judul asli: Reunion in Death
Penulis: J.D. Robb
Penerjemah:
Tebal: 566 halaman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan I, 2012
SBN: 978-979-22-874-00

Sinopsis:

Buku ke-14 seri Dalam Kematian

Pesta ulang tahun kejutan menjadi lokasi reuni mengerikan dengan pembunuh dari masa lalu Letnan Eve Dallas.

Walter Pettibone tiba di rumah dan disambut seruan meriah sejumlah besar teman serta kerabatnya. Ini hari ulang tahunnya. Walaupun sudah tahu soal pesta ini, ia belum menerima kejutan yang sebenarnya. Ketika seorang pelayan wanita dengan mata sewarna zamrud dan berambut merah menyerahkan segelas sampanye kepadanya, tak seorang pun curiga. Namun setelah sesesap minuman ulang tahun itu, Walter pun tewas.

Nama wanita itu Julie Dockport. Tidak seorang pun di pesta itu yang mengenalnya. Namun Letnan Eve Dallas tahu pasti siapa wanita itu. Eve punya andil dalam menangkap dan memenjarakan wanita itu sepuluh tahun lalu. Dan sekarang, bebas atas dasar kelakuan baik, wanita itu tidak melupakan niat jahatnya. Wanita itu ingin bertemu kembali dengan Eve dalam reuni yang takkan mereka berdua lupakan….

Menggunakan nama pena J.D. Robb, Nora Roberts menghadirkan serial baru dengan nuansa roman-misteri yang mengisahkan perjalanan karier dan cinta Letnan Eve Dallas.

Resensi:
Buku-buku dalam serial Kematian ini semang selalu memuaskan pembaca, terutama para penggemarnya. Untukku yang bukan penggemar berat serial ini namun selalu membaca setiap versi terjemahan Indonesianya, kali ini buku keempat belas ini kurang memuaskanku. Well, bukan karena para tokohnya menjadi tidak menarik karena pada dasarnya mereka merupakan karakter-karakter kuat yang masing-masing mempunyai daya tarik tersendiri, namun karena menurutku kasus utama yang ditangani Eve terasa kurang nendang secara intrik.

Adalah seorang Julie Docport yang ternyata punya dendam masa lalu dengan Eve dan orang-orang yang telah menjebloskannya ke penjara sepuluh tahun lalu. Dari beberapa kali temuan, sosok Julie tidak terlihat mengintimidasi, namun di balik kelembutan sikap dan ketaatan serta kesantunan yang ditampilkannya di hadapan banyak orang selama di penjara ataupun saat menghadapi para korbannya, Julie menyimpan ketidakstabilan emosi yang terbentuk sejak kecil dan terpicu oleh ambisinya untuk mendominasi para lelaki.

“Aku percaya pada kejahatan dan hukuman, dan sebagian orang belajar dari itu. belajar cukup baik untuk mengubah cara hidup mereka di dunia nyata. Aku juga percaya ada orang yang tidak bisa berubah, atau memang tidak mau.” Eve Dallas. p.146

Julie memilih racun sebagai alat pembunuhan dan dia menikmati melihat korbannya mati pelan-pelan karenanya. Sasaran balas dendam Julie kepada Eve tentu saja lewat Roarke yang merupakan sasaran ideal bagi siapapun yang ingin membuat Eve luluh lantak sehingga mau tidak mau Eve lagi-lagi harus melibatkan suaminya dalam menangkap kembali Julie. Walaupun berada di atas angin karena tahu siapa sasaran Julie berikutnya, namun tetap saja Eve harus berhati-hati karena Julie adalah orang yang cerdas yang manipulatif dan sempat membuat Eve babak belur. Sekali lagi, kombinasi wajah cantik dan otak encer adalah kombinasi mematikan.

Selain kasus Julie Docport, Eve juga menangani sebuah kasus pembunuhan seorang ibu rumah tangga yang diduga berselingkuh. Eve melimpahkan kasus tersebut ke Peabody karena dia menganggap bawahannya tersebut mampu menyelesaikannya. Walaupun pada akhirnya Peabody membutuhkan sedikit bantuan dari Eve, namun tetap saja itu adalah kasus pertama yang berhasil dipecahkan oleh kekasih MacNab itu.

Pada buku ini diceritakan juga bahwa kedua orang tua Peabody datang berkunjung dan bertermu secara langsung dengan Eve, pimpinan yang selama ini Peabody kagumi. Ternyata kedua orang tua Peabody kemampuan khusus yang membuat Eve sempat merasa tidak nyaman dan tertekan saat berada di sekitar mereka, terutama setelah ayah Peabody tanpa sengaja menyentuhnya dan mampu melihat sekilas ke dalam pikiran Eve. Untuk membantu Eve melupakan masa lalunya, Roarke mengajak istrinya itu untuk berdamai dengan masa lalunya dengan cara berkunjung ke lokasi tempatnya menewaskan sang ayah tanpa sengaja saat membela diri. Walau merasa sangat tersiksa namun Eve berhasil menguasai dirinya dan akhirnya berdamai dengan masa lalunya tersebut.

Kover buku ini menurutku keren. Warna biru pada nama penulisnya berhasil menarik perhatian di atas dominasi warna abu-abu gelap yang menjadi latar dari gambar gelas dan botol sampanye. Buku ini tentu saja menjadi koleksi wajib bagi para penggemar Eve Dallas dan Roarke dan para tokoh ciptaan J.D. Robb lainnya yang fenomenal ini. Sungguh tidak sabar untuk menunggu buku terjemahan selanjutnya dari serial Kematian ini.

Sensasi rasa untuk buku ini: 3/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s