Gone With The Wind-Part IV

Bagian keempat Gone With The Wind kembali mengambil setting di Atlanta tahun 1866, dimana Scarlett yang mengalami kesulitan membayar pajak Tara yang sangat tinggi memutuskan untuk menemui dan menggoda Rhett Buttler daam pesonanya. Tentu saja hal ini dilakukannya agar dia bisa meminjam uang untuk membayar pajak Tara yang tinggi. Namun semua tidak berjalan sesuai rencana karena ternyata Rhett sendiri sedang dalam kesulitan dan mmbaut Scarlett harus memutar otak untuk mencari jalan keluar atas kesulitannya tersebut. Saat itulah datang Frank Kennedy yang telah lama menjalin hubungan dengan Suellen, adik yang kurang disukai Scarlett.

Dari sedikit obrolan dengan Frank, Scarlett mendapat informasi tentang kekayaan yangberhasil diperoleh pria itu yang rencananya akan Frank investasikan pada bisnis penggergajian kayu. Dari sinilah timbul ide pada diri Scarlett untuk merebut kekasih adiknya tersebut. Dengan melakukan sedikit tipu muslihat akhirnya Scarlett berhasil memperdaya Frank dengan mengatakan bahwa adiknya telah berpindah hati kepada pria lain sehingga Frank merasa patah hati dan perlahan merasa tertarik padanya dan menikahinya.

Frank ternyata tidak sepandai dan sesehat yang Scarlett kira sehingga wanita itu segera mengambil alih segala urusan bisnis yang dengan cepat dia kuasai. Pertemuannya kembali dengan Rhett yang merasa dikhianati karena Scarlett lebih memilih Frank karena uang yang dimilikinya membuat wanita itu merasa menyesal tidak menunggu Rhett beberapa saat karena ternyata Rhett lebih kaya daripada Frank.

“Kematian, pajak, dan kelahiran! Ketiganya selalu datang pada waktu yang salah!” Scarlett, p.729

Keberadaan Scarlett sebagai pengelola pabrik tentu saja mendapat reaksi keras dari masyarakat Atlanta, terlebih lagi pada masa itu sungguh sangat tabu bagi para wanita kulit putih yang sedang hamil untuk menampakkan diri bahkan melakukan berbisnis dengan para Yankee. Walaupun sudah menikah dan hamil, namun Scarlett sering melakukan pertemuan dengan Rhett sehingga hal ini semakin memperburuk citranya di masyarakat Atlanta.

“Sebelumnya aku tidak begitu menyukaimu, Scarlett. Kau keras seperti batu. Juga sewaktu masih kecil. Tapi aku suka dengan caramu menghadapi masalah. Kau tidak berkeluh kesah meyesali kenyataan yang tidak bsia diubah, walau kenyataan itu sagat pahit. Kau terima semua apa adanya.” Nenek Fontaine, p.780.

Kematian Gerald membuat Scarlett terpaksa pulang ke Tara dan menemukan banyak hal yang sudah terjadi dimana Will akan menikahi Suellen dan Carreen akan menjadi biarawati. Scarlett pun merelakan Will yang baik hati dan pekerja keras untuk menangani Tara karena memang pria itu sangat kompeten. Sementara itu scarlett berhasil membujuk Ashley dan Melanie untuk kembali ke Atlanta dan juga memaksa Ashley untuk bekerja di salah satu pabrik penggergajian kayunya walaupun sejak awal pria tersebut menolak dan memang hasilya tidak terlalu memuaskan karena Ashley seperti tidak punya gairah untuk bekerja.

Keluarga Scarlett memelihara budak sejak lama, namun mereka tidak pernah memperlakukan para budak tersebut dengan semena-mena dan memandang rendah mereka. Bahkan Scarlett menganggap mereka sebagai anggota keluarga saking dekatnya hubungan mereka. Hal ini tentu dipandang aneh oleh sebagian besar masyarakat kulit putih yang menganggap diri mereka lebih tinggi daripada orang kulit hitam. Hal ini diperparah dengan keberadaan kelompok Ku Klux Klan yang terang-terangan menentang keberadaan para orang kulit hitam.

Sebuah perisitiwa mengejutkan yang melibatkan orang-orang terdekat Scarlett dan Melanie terkait dengan kelompok Ku Klux Klan membuat seluruh Atlanta gempar. Terlebih dengan kenyataan bahwa hal tersebut juga berkaitan dengan seorang wanita penghibur di bar milik Rhett Buttler. Tepat beberapa saat setelah kehilangan suami keduanya, Frank yang tewas karena tragedi tekait Ku Klux Klan, Scarlett menerima lamaran Rhett Buttler yang semakin membuat para penduduk Atlanta tercengang dengan sikapnya tersebut. Akhirnya Rhett Buttler memutuskan untuk membawa pindah Scarlett ke New Orleans untuk menempuh hidup baru.

Di bagian keempat ini tidak ada hal yang banyak berubah dari sifat dan sikap Scarlett, kecuali bahwa dia semakin licik dan licin dalam memanipulasi orang untuk mendapatkan keinginannya. Yang menjengkelkan tentu saja adalah sikap keras kepalanya dalam hal mencintai Ashley Wilkes dengan membabibuta walaupun kenyataan terburuk tentang pria tersebut sudah ada di depan matanya, namun Scarlett masih menganggapnya pria sempurna tanpa cacat.

Akhirnya Scarlett kehilangan suaminya karena sikapnya mengabaikan peringatan banyak orang untuk tidak berkeliaran di kota sendirian tanpa pengawalan. Namun tetap saja hal itu tidak membuat Scarlett terlalu jera karena tak lama kemudian dia menerima lamaran Rhett, pria yang selama ini menjadi teman sekaligus lawan tandingnya dalam berdebat dan juga satu-satunya pria yang tahu sifat aslinya.

One thought on “Gone With The Wind-Part IV

  1. Pingback: Lalu Bersama Angin | Melihat Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s