To Kill a Mockingbird

11436054

Gold Edition Cover by Qanita

Detail buku:
Judul asli: To Kill a Mockingbird
Penulis: Harper Lee
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penyunting: Berliani Mantili Nugrahani
Proofreader: Emi Kusmiati
Desain sampul: Windu Tampan
Penerbit: Qanita
Tebal: 536 hlm
Cetakan: 50th edition (Gold Edition), Oktober 2010
ISBN: 978-602-8579-34-6

Sinospsis:
Kehidupan Scout dan Jem Finch berubah total saat ayah mereka menjadi pembela seorang kulit hitam. Ketika Atticus membela seorang yang dianggap sampah masyarakat, kecaman pun datang dari seluruh penjuru kota. Di tengah terpaan masalah yang menimpa keluarganya, si kecil Scout belajar bahwa kehidupan tidak melulu hitam dan putih.
Dikisahkan dari sudut pandang gadis delapan tahun warga Maycomb, Alabama, novel ini akan menunjukkan bahwa sebuah prasangka sering kali membutakan manusia. Dan sebuah keadilan hanya dapat dilahirkan dari rasa cinta yang tak membedakan apa pun latar belakang seseorang. Harper Lee telah berhasil menyuguhkan sebuah novel menawan yang amat berkesan dan tak lekang oleh zaman.

Resensi:

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya, hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya.”

Mengambil setting tahun 1960-an, To Kill a Mockingbird berhasil menceritakan kehidupan masyarakat Amerika di daerah Selatan, tepatnya di Maycomb, Alabama, dimana isu rasialisme di era tersebut sangatlah kental. Masyarakat masih menganggap orang kulit putih superior, lebih baik daripada orang kulit hitam yang mereka sebut dengan panggilan negro/nigger, sebuah panggilan yang sangat kasar dimana kini digantikan istilah Afro-America untuk memperhalus sebutan orang kulit hitam.

Kenyataan bahwa sebagian besar orang kulit hitam awalnya adalah budak dan pekerja kasar yang bekerja kepada orang kulit putih semakin memperparah ketidakadilan perlakuan yang mereka terima. Sejak kanak-kanak pun orang kulit putih sudah dibiasakan untuk memandang rendah orang kulit hitam sehingga banyak perlakuan tidak adil harus diterima oleh para warga kulit hitam hanya karena perbedaan warna kulit tersebut. Bahkan orang kulit hitam bisa dihukum tanpa adanya pembelaan dan bukti yang jelas sehingga semakin memperparah prasangka yang berkembang di masyarakat.

3175211

1st edition cover by Qanita

Tokoh utama dalam buku ini adalah seorang anak perempuan berusia delapan tahun, Scout dan kakaknya, Jem Finch, yang sejak kecil dididik dengan penuh kebebasan berpikir oleh ayah mereka, Atticus. Ibu mereka telah meninggal saat Scout berusia dua tahun, sehingga mereka juga diasuh oleh Calpurnia, seorang wanita kulit hitam yang menjadi pembantu rumah tangga di rumah keluarga Finch. Scout yang tomboy menjadi ekor Jem dimana keduanya kompak melakukan kenakalan-kenakalan anak kecil bersama teman baru mereka, Dill, seorang anak laki-laki yang kemudian diceritakan naksir Scout.

Sebagai seorang anak yang penuh rasa ingin tahu, Scout selalu memperhatikan sekitarnya. Dia selalu mengungkapkan pendapatnya yang sering berbeda dari anak-anak seusianya, mengulang berbagai perkataan kasar yang didengarnya, dan meluapkan kemarahan dan rasa bencinya dengan banyak cara, termasuk berkelahi dengan anak laki-laki. Dari sudut pandang Scout pulalah para pembaca diajak mengenal satu persatu saudara keluarga Finch, para tetangga yang menjadi korban keisengan Scout dan Jem, guru di sekolah yang tidak begitu Scout sukai, dan juga keluarga Radley yang misterius.

“Keberanian adalah saat kau tahu kau akan kalah sebelum memulai, tetapi kau tetap memulai dan kau merampungkannya, apapun yang terjadi.”

3847055

2nd edition cover by Qanita

Kehidupan masa kanak-kanak Scout dan Jem harus berubah seketika setelah Atticus memutuskan untuk membela Tom Robinson, seorang warga kulit hitam yang dituduh melakukan pemerkosaan. Scout dan Jem harus menjadi dewasa saat harus menghadapi sikap perlawanan orang-orang di sekitar mereka atas keputusan kontroversial Atticus yang tentu saja ditentang oleh masyarakat sekitarnya tersebut.

Keluarga Finch tidak hanya dikucilkan oleh tetangga-tetangga sekitar, namun juga oleh keluarga dekat mereka sendiri. Walaupun harus berjuang mati-matian dan melawan masyarakat tempatnya tinggal, namun Atticus berhasil mengungkapkan kebenaran dan menyelamatkan nyawa orang tak bersalah yang dituduh hanya karena perbedaan warna kulit mereka.

Mockingbird menyanyikan musik untuk kita nikmati, hanya itulah yang mereka lakukan. Mereka tidak memakan tanaman di kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung, mereka tidak melakukan apapun, kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita. Karena itulah, membunuh mockingbird itu dosa.” Miss Maudie, hlm.179

Filosofi tentang mockingbird yang tidak pernah mengambil apapun yang bukan miliknya ini sagat pas dengan kondisi masyarakat kulit hitam yang dihakimi secara sepihak oleh kaum kulit putih hanya karena perbedaan warna kulit mereka. Namun di kalangan kaum kulit putih sendiri dalam buku ini masih ada rasialisme dimana rasa curiga terhadap seseorang membuat masyarakat mengabaikan kebaikan hati orang tersebut yang akhirnya mengakibatkan prasangka berkepanjangan.

Memandang sebuah masalah besar dari sudut pandang seorang anak kecil yang polos memang sangat ironis, namun dari kaca mata merekalah kita biasanya tahu kebenaran yang ada yang terkadang lebih mengejutkan.

“Menurutmu, kenapa Boo Radley tak pernah kabur?”
“Mungkin dia tak punya tempat yang dituju kalau kabur…” Scout, hlm. 277

Selain memenangkan Pulitzer di tahun 1961 pada minggu ke-41-nya memuncaki best seller, di tahun yang sama buku ini juga memperoleh Brotherhood Award dari National Conference of Christians and Jews, dan the Paperback of the Year award dari Bestsellers magazine di tahun 1962.

Sensasi rasa yang tertinggal: 4,5/5

Tentang penulis:
Harper-Lee_lNelle Harper Lee atau yang lebih dikenal dengan nama Harper Lee adalah seorang penulis kelahiran Monroeville, Alabama, Amerika. Bungsu dari empat bersaudara ini kuliah di fakultas hukum di University of Alabama sebelum akhirnya tertarik untuk menulis. Lee adalah sahabat dekat Truman Capote yang juga seorang penulis.

To Kill a Mockingbird menjadi novel karya Lee satu-satunya yang meraih kesuksesan karena setelah menerbitkan buku tersebut dia cenderung menarik diri walaupun masih cukup aktif menulis beberapa karya yang tidak selesai. Lee mendapat gelar Doktor Kehormatan dari University of Notre Dame pada tahun 2006 dan dianugerahi Presidential Medal of Freedom di tahun 2007.

Film adaptasi:
To_Kill_a_Mockingbird_poster
To Kill a Mockingbird diadaptasi menjadi sebuah film dengan judul yang sama di tahun 1962. Film ini disutradarai oleh Robert Mulligan dalam format hitam putih dan dibintangi oleh Gregory Peck, Robert Duvall, William Windom, dan Alice Ghostley.

Aku sendiri belum sempat menonton film adaptasi novel To Kill a Mockingbird ini, namun akan segera kuselipkan waktu untuk menontonnya karena seperti halnya versi novelnya, versi film ini mendapat respon bagus dan mendapat banyak penghargaan. Beberapa penghargaan tersebut antara lain Academy Award 1962 (Best Actor, Best Art Direction, dan Best Adapted Screenplay), Golden Globe 1962 (Best Actor-Motion Picture Drama, Best Original Score, dan Gary Cooper Award di Festival Film Cannes 1962.

Sekilas kata:
Buku ini pertama kali kubaca tahun 2009 dari seorang teman adikku (Qanita 1st edition). Walau sempat terabaikan selama hampir setahun, namun ketika akhirnya kubaca, ternyata buku ini memang tidak bisa dilepaskan hingga akhir cerita. Begitu pun saat kubaca ulang buku ini (Qanita Gold edition) untuk dibuat reviewnya dalam rangka event Posting Bareng BBI edisi pemenang pulitzer, buku ini seakan tidak rela dilepaskan sampai kututup halaman terakhirnya.

fye-button

To Kill a Mockingbird termasuk dalam classic, bildungsroman, dan award’s winner, maka sekalian saja kumasukkan review ini ke dalam FYE.  Buku ini aku rasa cocok dibaca untuk anak usia pra remaja, sekitar 13 tahun ke atas karena memuat tema rasialisme, pemerkosaan, dan kekerasan di beberapa bab di dalamnya.

*ditulis dalam rangka Posting Bareng BBI untuk Pemenang Putlizer dan FYE

11 thoughts on “To Kill a Mockingbird

  1. Pilihan bacaan kita sama mbak Dani *salaman*
    Pepatah biar lambat asal tetap baca ternyata memang hrs diterapkan terhadap timbunan buku sejenis ini — ternyata bgs banget😀

  2. Pingback: A Reading Challenge on Mystery | Melihat Kembali

  3. wah, baca ulang ya.. jadi pengen baca lagi, hehe.. filosofi mockingbird-nya itu keren ya. dan bukan cuma rasis, tapi juga hubungan sosial orang semacam Boo Radley.

  4. Pingback: Wishful Wednesday (20) | Surgabukuku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s