Harry Potter and the Philosopher’s Stone – Harry Potter dan Batu Bertuah

1611537

Indonesian Cover

Detail buku:
Judul asli: Harry Potter and the Philosopher’s Stone a.k.a. Harry Potter and The Sorcerer’s Stone (Harry Potter #1)
Penulis: J.K. Rowling
Penerjemah: Listiana Srisanti
Tebal: 384 halaman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke-27, Agustus 2007
ISBN: 978-979-655-851-3

Sinopsis:

HARRY POTTER belum pernah jadi bintang tim Quidditch, mencetak angka sambil terbang tinggi naik sapu. Dia tak tahu mantra sama sekali, belum pernah membantu menetaskan naga ataupun memakai Jubah Gaib yang bisa membuatnya tidak kelihatan.

Selama ini dia hidup menderita bersama paman dan bibinya, serta Dudley, anak mereka yang gendut dan manja. Kamar Harry adalah lemari sempit di bawah tangga loteng, dan selama sebelas tahun, belum pernah sekali pun dia merayakan ulang tahun.

Tetapi semua itu berubah dengan datangnya surat misterius yang dibawa oleh burung hantu. Surat yang mengundangnya datang ke tempat luar biasa, tempat yang tak terlupakan bagi Harry–dan siapa saja yang membaca kisahnya. Karena di tempat itu dia tak hanya menemukan teman, olahraga udara, dan sihir dalam segala hal, dari pelajaran sampai makanan, melainkan juga takdirnya untuk menjadi penyihir besar… kalau Harry berhasil selamat berhadapan dengan musuh bebuyutannya.

Resensi:

Harry_Potter_and_the_Philosopher's_Stone

Indonesian Cover

Untuk kedua kalinya aku membaca buku ini dan tetap saja kutemukan sihir khas J.K. Rowling dalam menceritakan buku pertama Anak Laki-Laki yang Bertahan Hidup ini.

Sejak awal diceritakan bahwa Harry Potter merasa terasing dalam asuhan keluarga Dursley dimana Mr dan Mrs Dursley sangat memanjakan Dudley, sepupu Harry yang sangat membenci Harry. Semua barang milik Harry adalah bekas Dudley, bahkan ketika Harry hendak masuk SMP, baju seragamnya pun bekas milik Dudley yang harus diwarna ulang. Harry merasa dirinya sangat sial dan tidak berada pada tempatnya. Yang Harry tahu bahwa Mr dan Mrs Dursley terpaksa merawatnya setelah kedua orang tua Haryy meninggal dalam sebuah kecelakaan seperti yang mereka katakan. Namun apakah memang seperti itu kebenarannya?

Harry menemukan kebenaran bahwa sebenarnya dia adalah penyihir setelah Hagrid, guru satwa liar Hogwarts menjemputnya atas suruhan Albus Dumbledore, Sang Kepala Sekolah Hoghwarts. Dari Hagrid pulalah Harry tahu bahwa kedua orangtuanya tidak meninggal karena kecelakaan mobil namun karena melawan Lord Voldermort. Harry adalah satu-satunya keluarga Potter yang tersisa dan satu-satunya orang selamat dari serangan Voldermort dan juga mengalahkan penyihir jahat tersebut.

Nama Harry Potter ternyata sangat terkenal di dunia sihir sehingga menyebabkan ada pihak yang mengelu-elukannya namun ada pula yang membencinya. Hal ini menyebabkan kehidupan sekolah Harry di Hoghwart menjadi penuh warna, terlebih sejak awal telah terjadi persaingan antara keempat asrama, Gryffindor, Hupplepuff, Ravenclaw, dan Slytherin. Bau permusuhan jelas sangat terasa dari kubu Slyterin yang selama ini memang terkenal menghasilkan para penyihir yang kemudian membelot ke Lord Voldermort menuju kegelapan.

Keberadaan teman-teman baru di Asrama Gryffindor merupakan berkah bagi Harry karena selama ini dia tidak punya teman di sekolah lamanya. Adalah Ron Weasley yang telah menjadi temannya sejak mereka saling menyapa di Kereta Api yang membawa semua murid baru dari Stasiun King Cross ke Hogwarts. Ron yang terbilang ceroboh, nakal, dan cukup rakus itu bukan satu-satunya teman dekat Harry. Hermione Granger yang selalu ingin menjadi nomor satu dalam setiap pelajaran tanpa sengaja bergabung dalam pertemanan Ron dan Harry dalam sebuah peristiwa yang mengikat ketiganya, dimana peristiwa itu sempat membuat gadis yang taat peraturan itu harus mengalami kenakalan pertamanya.

Di antara semua mata pelajaran di Hogwarts, Harry paling menguasai pelajaran terbang dimana sejak hari pertama dia menaiki sapunya dia langsung menarik perhatian dan dimasukkan ke dalam tim Quidditch, sebuah permainan olah raga favorit seperti layaknya sepak bola di dunia sihiri. Pelajaran yang paling Harry benci tentu saja adalah pelajaran ramuan yang memaksanya harus menghadapi guru yang sepertinya sangat membencinya dan menganak emaskan asrama Slytherin.

Para guru di Hogwarts itulah yang kemudian memiliki andil besar dalam petualangan Harry Potter menjelajahi dunia sihir. Ketika ada seorang guru yang sangat dicurigainya mempunyai motif jahat, Harry terus saja berusaha mencari kebenaran seiring terus bermunculannya kasus mengerikan di sekitar Hogwarts, pertanda awal kembalinya Lord Voldermort.

Sensasi rasa seusai baca: 5/5

Film adaptasi:

Harry_Potter_and_the_Philosopher's_Stone_posters

Indonesian Cover

Versi film dari Harry Potter #1 bisa dikatakan merupakan visualisasi penuh dari bukunya, bahkan ada yang mengatakan bahwa Chris Columbus adalah jelmaan J.K. Rowling karena tidak ada pengembangan cerita sama sekali dari versi bukunya. Namun begitu versi film Harry Potter #1 mendapat sambutan hangat dari para penggemar Harry Potter yang penasaran dengan visualisasi ketiga pemeran utama, Harry, Ron, dan Hermione, dan juga visualisasi Sekolah Sihir Hogwarts yang diceritakan sangat megah.

Aku sendiri menonton filmnya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membaca buku pertama dari Harry Potter Saga ini di malam tahun baru dan langsung selesai dalam hitungan jam karena cerita di dalamnya tidak ingin kulewatkan begitu saja. Hm, saat itulah aku terkena sihir J.K. Rowling lewat karyanya yang sangat fenomenal ini. Always better late than never kan ya, maklum saja aku tidak terlalu suka dengan kehebohan sesuatu hal sehingga saat euforia Harry Potter versi buku dan film pertamanya sudah agak mereda, barulah aku menikmati cerita tentang the boy who lived ini.

Sekilas kata:
fye-button
Edisi Inggris Harry Potter #1 ini mendapat penghargaan Nestlé Smarties Book Prize di tahun 1997, British Book Awards Children’s Book of the Year, dan the Booksellers’ Association/Bookseller Author of the Year di tahun 1999. Selain itu masih banyak penghargaan yang diterima Harry Potter #1 ini. Sungguh fenomena yang luar biasa untuk sebuah buku anak-anak yang akhirnya menjadi salah satu buku penggerah minat baca paling ampuh abad ini.

Sebagai bacaan anak-anak, Harry Potter #1 sebaiknya dibaca untuk anak berusia 8 tahun ke atas, terutama karena kehidupan dunia sihir yang sangat berbeda dari dunia manusia yang perlu pemahaman lebih lanjut untuk bisa dibedakan mana yang nyata mana yang imajinasi saja.

Review ini aku sertakan dalam FYE (kategori bildungsroman dan award’s winner), Fantasy Reading Challenge 2013 dan What’s in a Name Challenge

5 thoughts on “Harry Potter and the Philosopher’s Stone – Harry Potter dan Batu Bertuah

  1. Pingback: What’s In a Name Reading Challenge 2013 | Melihat Kembali

  2. Pingback: What’s In a Name Reading Challenge 2013 – Wrap Up | Melihat Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s