Always the Bride (Hen Night Prophecies #5)

8360456

Original Cover

Detail buku:
Judul asli: Always the Bride (The Hen night Prophecies #5)
Penulis: Jessica Fox
Peberbit: Little Black Dress
Tebal: 302 hlm
Terbit: 31 Januari 2011
Format: e-book

Sinopsis:

The Hen Night Prophecies is an addictive new series for Little Black Dress, following the fortunes of five different girls, each given their own puzzling prophecy at a friend’s hen night.

Resensi:
Buku ini merupakan seri kelima dari Hen Night Prophecies. Dikisahkan tentang Zoe Piper, seorang penulis naskah film yang harus dibayang-bayangi ramalan bahwa dirinya akan menikah dua kali. Hal ini tentu saja meresahkan Zoe yang saat itu sedang mempersiapkan pernikahan dengan kekasihnya yang sempurna, Steve Kent, seorang sutradara di tempatnya bekerja Walaupun akhirnya mereka berdua tetap menikah, namun rahasia masa lalu keduanya terus membayangi kehidupan pernikahan mereka.

Adalah Rufus, produser film Portrait of a Lady yang naskahnya sedang ditulis Zoe, yang sekaligus sahabat karib Steve yang memutuskan untuk mengganti para pemeran film yang sedang mereka kerjakan dengan aktor dan aktris kelas atas. Kebijakan Rufus ini membuat Zoe menjadi bimbang karena aktor yang mereka pakai adalah Luke Scottman, pria dari masa lalunya selama dua minggu di Australia. Hal ini diperparah dengan kehadiran aktris Trinity Duval yang tidak lain adalah mantan kekasih Luke yang diputuskannya karena pria itu tidak bisa melupakan Zoe.

Zoe semakin cemas ketika kedatangan orang-orang dari masa lalu tersebut seakan-akan membenarkan ramalan Angela. Terjadi perubahan pada diri Steve yang seperti menjadi orang lain yang tidak Zoe kenal. Rufus mengatakan bahwa itulah Steve yang sebenarnya sebelum Zoe datang dan mengubah temannya tersebut menjadi pria yang patuh dan mudah ditebak.

Ketika rahasia-rahasia masa lalu terungkap, tidak hanya hubungan Zoe dan Steve yang terancam bubar, namun juga persahabatan Zoe dengan Fern, teman dekatnya yang merasa dikhianati olehnya. Di tengah-tengah permasalahan itu produksi film Portrait of a Lady mengalami kendala. Rufus sempat dipecat sebagai produser, namun karena malah dinilai berhasil memberikan publisitas pada produksi film, dia direkrut kembali. Dia tak segan-segan mengganti Steve dengan seorang sutradara kontroversial yang semakin membuat produksi film menjadi kacau. Zoe pun tidak luput mengalami kesialan, berkali-kali dia merubah naskah atas permintaan Rufus, namun pada akhirnya dia pun dipecat.

Zoe pun menghadapi kebimbangan karena ternyata pernikahannya dengan Steve tidak sah. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Cerita masa lalu Steve-lah yang menyebabkan hal itu bisa terjadi. Di tengah-tengah kegalauan Zoe itulah Luke mencoba mendekatinya lagi dan membuat Zoe bimbang harus memilih siapa.

Kisah dalam buku ini diceritakan secara flashback dimana prolognya cukup menarik perhatian dengan melibatkan masa depan seorang Zoe yang harus mengalami kejadian penting dalam hidupnya untuk kedua kalinya. Namun kemudian cerita tidak berjalan seperti yang kuharapkan karena cenderung berkembang tanpa banyak kejutan yang terjadi. Aku sempat merasa cukup bosan dengan perkembangan beberapa karakter yang seperti dipaksakan seperti tingkah Rufus yang seenaknya dan kekanak-kanakan karena merasa cemburu dengan kehadiran Zoe yang dianggapnya merebut teman baiknya selama sepuluh tahun.

Teman-teman dekat Zoe yang sempat muncul di awal cerita ternyata tidak terlalu banyak muncul dalam kisah ini. Tidak ada karakter yang cukup kuat untuk membuatku merasa terikat dengan cerita di buku ini. Karakter Zoe yang cenderung menyalahkan Steve sementara dia sendiri menyimpan masa lalu dengan Luke tidak terlalu menarik simpatiku, begitu juga Fern, sahabat Zoe yang merasa sangat dikhianati Zoe.

Meskipun awalnya aku cukup tertarik dengan karakter Luke, namun ternyata dia tidak cukup liar dan berani mengambil langkah tegas untuk berusaha mendapatkan Zoe yang diyakini sebagai love of his life. Karakter Steve sendiri tidak terlalu terekspos karena memang cerita dari sudut pandang Zoe. Bahkan aku merasa karakter suami Zoe ini cederung membosankan. Kehadiran karakter Trinity Duval sendiri sebenarnya cukup memberi warna bagi cerita ini, namun rasanya kemudian kehadirannya seperti dipaksakan untuk membuat akhir yang bahagia untuk semua orang.

Tidak ada yang terlalu baru pada tema yang diangkat dalam buku ini, walaupun memang ada sedikit twist yang cukup tidak terduga menjelang akhir cerita terkait ramalan Angela. Namun setting cerita yang melibatkan dunia produksi film di buku memberikan sedikit gambaran kepada para pembaca bahwa untuk meproduksi sebuah film membutuhkan kerja keras dan tidak jarang terjadi banyak hal kejam untuk para staf dan kru yang terlibat di dalamnya. Perlakuan khusus kepada para aktor dan aktris juga diceritakan di dalam buku ini, juga bagaimana publisitas sangat berperan penting untuk mendongkrak kepopuleran sebuah film sehingga terkadang banyak hal negatif dilakukan oleh pihak produser maupun distributor film tersebut.

Buku ini cocok untuk untuk bacaan ringan bagi para penggemar genre chick-lit karena di balik semua kesialan yang dialaminya, Zoe akhirnya menemukan kebahagiaannya dengan pria yang selama ini menjadi belahan jiwanya. Butuh waktu yang cukup lama bagi Zoe untuk menyadarinya karena memang selama ini image sempurna yang didapatkannya telah menyita seluruh perhatiannya sehingga menguras seluruh energinya.

Ada baiknya untuk menerbitkan keempat buku lainnya terlebih dahulu karena walalupun bisa dibaca terpisah, namun mungkin ada cerita di buku pertama yang mempunyai benang merah dengan cerita di buku-buku selanjutnya, termasuk buku kelima ini. Jika para pembaca menyukai kisah romance yang disajikan dalam serial The Hen Night Prophecies ini tidak bisa dipungkiri bawah mereka setidaknya akan melengkapi koleksi kelima buku dalam seri tersebut.

Sensasi rasa seusai baca: 3/5

Tentang Penulis:

Jessica Fox adalah nama pena dari Ruth (Ann) Saberton. Wanita kelahiran London 1972 ini menikah dengan Rob, suaminya dan mengajar Studi Media di Cornwall. Hen Night Propecies adalah serial karyanya yang melibatkan ramalan Angela, seorang fortune teller dalam kehidupan Zoe dan para sahabat karibnya. Fern, Libby, Charlotte, dan Priya.
Kunjungi website Jessica Fox di sini: http://www.ruthsaberton.co.uk/RuthSaberton.co.uk/Welcome.html

3 thoughts on “Always the Bride (Hen Night Prophecies #5)

  1. Pingback: Book in English Reading Challenge 2013 | Melihat Kembali

  2. Pingback: New Authors Reading Challenge 2013 | Melihat Kembali

  3. Pingback: New Authors Reading Challenge 2013 – Wrap Up | Melihat Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s