Selimut Debu: Impian dan Kebanggaan dari Negeri Perang Afghanistan

12403034

2nd edition cover

Detail buku:
Penulis: Agustinus Wibowo
Editor: Hetih Rusli
Co-editor: Prisca Delima
Foto sampul dan isi: Agustinus Wibowo
Desain sampul: Marcel A.W.
Peta dan layout: Ryan Pradana
Desain ornamen kover: Farahnas Hashim
Tebal: 461 halaman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ke-2, September 2011
ISBN: 978-979-22-7263-9

Sinopsis:

Afghanistan. Nama negeri itu sudah bersinonim dengan perang tanpa henti, kemiskinan, maut, bom bunuh diri, kehancuran, perempuan tanpa wajah, dan ratapan pilu. Nama yang sudah begitu tidak asing, namun tetap menyimpan misteri yang mencekam.

Pada setiap langkah di negeri ini, debu menyeruak ke rongga mulut, kerongkongan, lubang hidung, kelopak mata. Bulir-bulir debu yang hampa tanpa makna, tetapi menjadi saksi pertumpahan darah bangsa-bangsa, selama ribuan tahun.

Aura petualangan berembus, dari gurun gersang, gunung salju, padang hijau, lembah kelam, langit biru, danau ajaib, hingga ke sungai yang menggelegak hebat. Semangat terpancar dari tatap mata lelaki berjenggot lebat dalam balutan serban, derap kaki kuda yang mengentak, gemercik teh, tawa riang para bocah, impian para pengungsi, peninggalan peradaban, hingga letupan bedil Kalashnikov.

Agustinus Wibowo menapaki berbagai penjuru negeri perang ini sendirian, untuk menyibak misteri prosesi kehidupan di tanah magis yang berabad-abad ditelantarkan, dijajah, dan dilupakan. Menyibak cadar negeri cantik nan memikat, Afghanistan.

[Agustinus] tak ingin hanya menjadi penonton isi dunia. Ia mau terlibat sepenuhnya dalam perjalanan itu. Ia tak sekadar melihat pemandangan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga mengenal budaya dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.
–Kompas–

Resensi:

“Apa yang mau dicari di kampung halaman? Hanya debu.”

Coba ketikkan kata Afghanistan di kolom pencairan google untuk gambar, yang muncul sebagian besar adalah peta dan tentara memegang senjata kepada sekumpulan penduduk Afghanistan serta sedikit foto yang menampilkan sudut-sudut cantik negara tersebut. Sungguh gambaran yang cukup mewakili kekontrasan keadaan yang terjadi di sana, dimana kekuasaan politik yang menimbulkan perang sempat memporakporandakan negara yang indah tersebut.

CIA_map_of_Afghanistan_in_2007

Peta Afghanistan

Buku ini merupakan kumpulan kisah petualangan seorang Agustinus Wibowo di negeri penuh konflik, Afghanistan. Banyak perubahan yang terjadi di negara tersebut pasca jatuhnya Taliban di tahun 2001. Di sisi lain kota Kabul yang kini gemerlap dengan fasilitas lengkap seperti mall, hotel, dan kemajuan teknologi lainnya, masih ada sisi masa lalu Afghanistan yang kelam. Banyak orang terlantar dan menggelandang di jalan, tidak punya air bersih dan listrik, dan tentu saja tidak punya banyak uang seperti sisi baru Afghanistan lainnya yang sebagian besar ditinggali oleh orang asing dan turis.

Kondisi Afghanistan yang carut marut dengan kemiskinan mendominasi setiap lapisan masyarakat pasca perang menjadi ‘alat jual’ kepada dunia luar. Dengan ekspos besar-besaran oleh media, kemiskinan di Afghanistan berhasil meraih simpati banyak pihak luar. Banyaknya bantuan dari pihak asing malah disalahgunakan sehingga bukan masyarakat yang menerima keuntungan namun pihak-pihak lain berkepentingan dan curang. Sebuah potret kondisi politik dan masyarakat yang sudah bobrok, mengingatkan kepada kondisi negara kita sendiri yang tidak dipungkiri masih terjadi kesenjangan kemiskinan dan pihak-pihak yang mengambil untung dari pihak lain.

7508350

1st edition cover

Dalam perjalanannya, Agustinus bertemu dengan banyak pengembara dari negara lain dan mengenal berbagai suku yang ada di tempat-tempat yang dia datangi. Dari orang-orang di berbagai kota itulah Agustinus mengenal bahasa-bahasa baru, adat budaya baru, nilai-nilai masyarakat, dan berbagai tradisi mencengangkan seperti ‘bermain bocah’ yang diam-diam tumbuh di Afghanistan.

Agustinus pun tak lepas dari kesialan dimana dia dicopet orang dan yang tersisa hanya sedikit uang dan paspor saja di kantongnya. Beberapa kali dia dilecehkan karena penampilan fisiknya yang mirip salah satu suku minoritas di Afghanistan dan dua juga sempat digoda berkali-kali oleh para pria-pria pelaku ‘bermain bocah’.

Agustinus pun tidak bisa menghindari aturan birokrasi yang rumit dan diinterogasi dalam waktu lama saat berkunjung ke suatu tempat yang rawan dan minim keamanan. Setiap saat nyawanya dipertaruhkan bersama dengan para pengembara dan jurnalis dari negara lain. Peristiwa pengeboman yang harus segera diliput bisa langsung memakan korban para jurnalis dalam hitungan menit saja.

Beberapa foto hasil jepretan Agustinus yang artistik juga disisipkan sebagai pendukung kumpulan cerita sekaligus memberi nilai lebih pada buku ini. Foto-foto tersebut menjadi salah satu alat pendukung informasi yang disampaikan karena menangkap suasana keseharian dan detail kehidupan di Afghanistan.

Pada beberapa bagian buku ini penulisannya terasa melompat-lompat, dimana setelah menceritakan sesuatu hal secara detail, di paragraf berikutnya sudah ganti menceritakan hal lain yang tidak berhubungan sama sekali sehingga cukup mengganggu kenyamananku dalam membaca. Namun terlepas dari itu semua buku ini wajib dibaca oleh semua orang yang penasaran dengan keadaan Afghanistan yang sesungguhnya dan menikmati petualangan sang penulis yang tentu saja penuh warna dan pelajaran bermakna.

Sensasi rasa seusai baca: 4/5

Tentang Penulis:

3297656

Agustinus Wibowo yang berprofesi sebagai penulis, jurnalis, dan fotografer ini lahir di Lumajang, Jawa Timur, tahun 1981. Setelah lulus dari SMU 2 Lumajang, dia melanjutkan kuliah di Jurusan Informatika Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS). Dia hanya menicicipi satu semester di universitas tersebut, sebelum akhirnya memutuskan pindah kuliah ke Fakultas Komputer Universitas Tshinghua, Beijing.

Sejak kecil Agustinus sudah menyimpan harapan untuk berkelana ke negeri-negeri jauh. Bahkan dia menjawab ingin menjadi turis saat guru SD-nya bertanya apa cita-citanya. Gurunya bilang kalau turis itu bukan pekerjaan, bukan cita-cita. Tapi, Agus terus menyimpan mimpi masa kecilnya itu.

Petualangannya dimulai pada tahun 2002 saat, seorang temannya di Tsinghua menantangnya untuk ”backpack” ke Mongolia. Dia menghabiskan waktu selama tiga minggua di tempat tersebut sebelum akhirnya mengabari sang ibu di rumah yang tentu saja khawatir dengan petualangannya itu. Namun Agustinus nekat berpetualang lagi di tahun 2003, dimana tujuan pertamanya semula adalah Afrika Selatan, namun dia akhirnya terjebak di Afghanistan selama tiga tahun yang akhirnya malah memberinya banyak kisah untuk ditulis dan dibukukan.

Selain Selimut Debu, karya Agustinus lainnya adalah Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah (2011) dan Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan yang akan diterbitkan di 2013 ini.

Untuk lebih mengenal sosok penulis ini, silakan mengunjungi official websitenya di: http://www.avgustin.net/

Sumber:
http://www1.kompas.com/read/profile/authprof_343
http://www.goodreads.com/author/show/3297656.Agustinus_Wibowo

Review ini dibuat dalam rangka Posbar BBI untuk mengakhiri event Secret Santa 2012. Untuk pengungkapan Siapa SS-ku bisa dilihat di sini soalnya takut kepanjangan melebihi jatah resensi bukuku😀

Sekali menyelam dua tiga pulau terlampaui, resensi ini juga kuikutkan dalam Finding New Authors 2013 karena ini adalah buku Agustinus Wibowo pertama yang kubaca🙂

12 thoughts on “Selimut Debu: Impian dan Kebanggaan dari Negeri Perang Afghanistan

  1. Pingback: New Authors Reading Challenge 2013 | Melihat Kembali

  2. Pingback: New Authors Reading Challenge 2013 – Wrap Up | Melihat Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s