An Artist of the Floating World

17278242

Indonesian Cover

Detail buku:
Penulis: Kazuo Ishiguro
Penerjemah: Rahma Wulandari
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Tebal: 255 hlm
Cetakan I, 2013
ISBN: 978-602-02-0497-0

Sinopsis:

Jika pada suatu hari yang cerah, kau mendaki jalan curam ke arah bukit dari jembatna kayu kecil yang dikenal sebagai “Jembatan Keraguan”. kau akan mendapati atap rumahku rampa di antara ujung dua pohon gingko. Bahkan, meskipun posisi rumahku tidka terlalu strategis, bangunan itu masih akan tetap mencolok dibandingkan dengan rumah lain di sekitarnya, dan kau akan mendapati dirimu membayangkan sekaya apa pemiliknya.

Namun, aku bukan, dan juga tidak pernah, menjadi orang kaya. Aku adalah Masuji Onon, seorang seniman bohemian dan propagandis imperialisme Jepang selama masa perang. Tetapi kini perang telah berakhir dan Jepang kalah. Istri dan putraku terbunuh. Lalu apa yang tersisa padaku?

Resensi:

“Seniman… hidup dalam kemelaratan dan kemiskinan. Mereka menghuni dunia yang memberikan mereka setiap godaan untuk menjadi orang berkemauan lemah dan berakhlak buruk. Benar tidak kataku, Sachiko?”. hlm. 49

1st edition cover

1st edition cover

Pertanyaan ini diajukan ayah Masuji Ono kepada istrinya saat menasehati Ono untuk tidak memilih jalan hidup sebagai seniman. Seakan mewakili pemikiran masyarakat pada umumnya, ayah Ono menentang puteranya untuk tidak terlena dalam bakat melukisnya dan memaksanya untuk lebih memikirkan masa depan. Namun begitu jiwa seni yang mengalir dalam diri Ono ternyata lebih kuat sehingga membuatnya tetap memilih menjadi seniman untuk bertahan hidup.

Cerita dibuka dengan deksripsi mendetail tentang tempat tinggal Ono yang berupa rumah megah kuno yang mulai terbengkalai karena membutuhkan biaya perawatan besar. Walaupun bukan rumah peninggalan keluarganya, namun Ono sangat mencintai rumah yang dibelinya dari seorang pencinta seni tersebut. Deskripsi berbagai ruang di dalam rumah tersebut membawa kita lenih mengenal sosok Ono, membawa kita mengetahui interaksi Ono dengan kedua puterinya, Setsuko dan Noriko, serta cucunya, Ichiro, putera Setsuko.

Romantisme Ono dalam mengingat masa lalu juga membawa para pembaca untuk mengetahui bahwa ruang tamu menjadi salah satu bagian sakral dalam rumah Ono karena di ruang itu hanya bisa dimasuki oleh tamu-tamu penting, diisi altar buddha, dan anak-anak hanya boleh memasuki ruang tersebut setelah berusia dua belas tahun. Di ruang tamu itulah Ono remaja mendapat teguran keras dari ayahnya yang melarangnya menjadi seniman. Namun seperti sudah disebutkan sebelumnya, ambisi Ono untuk menjadi seorang seniman besar membuatnya mengambil langkah besar untuk meninggalkan rumah dan berjuang sedari awal untuk meraih mimpinya.

Perjuangan Ono tidaklah mudah, terutama ketika harus menyambung hidup dengan bekerja sebagai seniman bayaran yang harus menyelesaikan banyak lukisan pesanan di sebuah firma. Di firma inilah Ono banyak belajar dari gurunya sekaligus menemukan persahabatan dengan seorang teman yang dipanggil ‘kura-kura’ yang lebih memilih menghasilkan karya berkualitas daripada mengejar target.

“Kala seorang seniman menolak mengorbankan kualitas karyanya demi cepat selesai, maka itu adalah sesuatu yang harus kita semua hormati.” hlm,75.

28922Saat membaca sinopsis cerita, aku mengira bahwa Ono hidup sebatang kara karena istri dan anak laki-lakinya terbunuh, namun ternyata dia masih punya dua orang anak perempuan dan seorang cucu laki-laki yang cukup aktif mengunjunginya dan nyaris tidak tampak keputusasaannya dalam cerita ini.

Namun kegalauan Ono dalam menghadapi kehidupan baru pasca perang dunia kedua sangat terasa mewarnai seluruh penceritaan buku ini. Bagaimana berulangkali dia membandingkan kondisi lingkungan dan orang-orang di sekitarnya sebelum dan sesudah perang. Hal ini turut mempengaruhi persiapan miai-perjodohan puteri keduanya, Noriko.

Ono merasa kejayaannya sebagai pembuat lukisan propaganda di masa perang membuatnya dibayangi prasangka dari orang-orang sekitar, termasuk dari mantan guru dan murid melukisnya sehingga dia harus menyelesaikan persoalan dengan orang-orang dari masa lalunya agar perjodohan tersebut sukses.

Seseorang yang datang dari masa depan untuk menilai kembali pencapaiannya, pasti akan selalumenenangkan saat mengetahui bahwa kehidupan orang itu berisi momen-momen kepuasan sejati. hlm. 223

Ketika akhirnya berdamai dengan masa lalunya, Ono menemukan ketenangan dan turut merasakan kebahagiaan kedua orang anaknya dan juga cucu kesayangannya yang di sepanjang cerita juga mengalami pendewasaan. Interkasi Ono dan Ichiro sendiri menjadi perlambang kekontrasan gaya hidup lama ala Jepang dan modernitas ala barat yang diam-diam menyelusup dalam kehidupan masyarakat Jepang setelah Perang Dunia II.

Sensasi rasa seusai baca: 3/5

Tentang Penulis:

Kazuo Ishiguro

Kazuo Ishiguro

Kazuo Ishiguro, adalah penulis Jepang berkebangsaan Inggris yang lahir di Nagasaki, 8 November 1954. Pada usia 5 tahun, ayahnya membawa Kazuo beserta dua orang saudara perempuannya dan juga ibunya untuk pindah ke Guilford, Surrey, Inggris untuk bekerja dan menetap di sana.

Walaupun sejak kecil tinggal di Inggris, namun kehidupan Ishiguro tetap kental dengan nuansa Jepang karena keluarganya di rumah membiasakannya berbahasa Jepang dan belajar nilai-nilai budaya Jepang. Ishiguro baru kembali ke Jepang hampir 30 tahun kemudian pada sebuah program kunjungan singkat yang diadakan oleh sebuah Lembaga Jepang. Hal ini tentu saja turut mempengaruhi gaya penulisan karya-karyanya sedikit sekali mencerminkan gaya penulisan Jepang. Namun begitu Ishiguro mengatakan bahwa beberapa film karya Yasujirō Ozu and Mikio Naruse cukup banyak mengisnpirasinya.

Selain An Artist of The floating World yang merupakan karya kedua setelah debutnya, karya Ishiguro lainnya yang terkenal adalah Never Let Me Go (telah difilmkan), When We Were Orphans, dan The Remains of the Day.
sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Kazuo_Ishiguro

Sekilas kata:

  • An Artist of the Floating World mendapat nominasi dalam Booker Prize di tahun 1986 dan memenangkan Whitbread Book of the Year Award di tahun yang sama.
  • Resensi ini ditulis dalam rangka Posting Bareng BBI bulan Maret 2013 dengan tema Penulis Asia. Buku ini juga aku masukkan ke dalam Finding New Author 2013 yang diadakan oleh Ren.

25 thoughts on “An Artist of the Floating World

    • makasih, Oky…

      baru ngeh juga kalo penulisnya besar di Inggris dan udah jdi warga negara sana sejak 1982, kirain masih stay di Jepang, tnyta dia cma numpang lahir n stay disana smpe umur 5th😛

  1. Pingback: New Authors Reading Challenge 2013 | Melihat Kembali

  2. Waaah baca review Kakak aku jadi penasaran..
    Udah baca Remains of the Day belum? Menurutku itu buku dia yang paling oke. Aku baca Never Let Me Go, menurutku biasa aja, tapi banyak yang bilang sedih banget jadi aku pengen baca ulang😄

    • belum, Ndari…udah diterjemahin belum itu? satuku baru 3 buku dri Elex smua
      sebenernya pengen baca semua bukunya Kazuo Ishiguro, tpi kmaren d TM Solo adanya cma buku ini, jdi blum bsa baca yg lain😦
      ntar deh mau pinjem aj, he3

  3. Pingback: New Authors Reading Challenge 2013 – Wrap Up | Melihat Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s