Blue Romance

16093390Detail buku:
Penulis: Sheva Thalia
Penyunting: Donna Widjajanto
Pemeriksa aksara: Primanilla Serny
Penata aksara: Kuswanto
Desain dan ilustrasi: Diani Apsari, Teguh Pandirian
Penerbit: PlotPoint Publishing
Tebal: 224 hlm
Cetakan I, Oktober 2012
ISBN: 978-602-9481-16-7

Sinopsis:

Blue Romance

Selamat datang di Blue Romance, sebuah coffee shop yang buka setiap hari, dan mungkin kau lewati hari ini.

Blue Romance menyediakan kopi ternikmat dan sahabat saat kau dituntut untuk terus terjaga. Blue Romance juga punya banyak cerita. Ada kisah jatuh cinta dan patah hati, perpisahan dan pertemuan kembali. Kisah-kisah ini berbalut kafein dan aroma kopi, berderai tawa dan tangis, di sela desis coffee maker.

Seperti Latte, Affogato, Americano, dan Espresso, setiap kisah punya kopinya sendiri.

Kisah mana yang cocok dengan kopimu?

Resensi:

Setiap kisah punya kopinya sendiri

Buku ini terdiri dari  tujuh cerita dimana masing-masing cerita tersebut saling terhubung dengan benang merah berupa sebuah kafe bernama Blue Romance. Ketujuh cerita tersebut adalah Rainy Saturday, 1997-2000, Blue Moon, A Farewell to A Dream, Happy Days, The Coffe and Cream Book Club, dan A Tale about One Day. Cerita yang disajikan dalam tujuh judul di dalam buku ini semuanya mengenai cinta, baik itu cinta antar sepasang anak muda, cinta anak kepada orang tua, dan juga cinta kepada film dan juga buku serta tentu saja kopi itu sendiri.

Walaupun buku ini merupakan karya debut sang Penulis, namun aku rasa jam terbang sang Penulis sudah cukup tinggi untuk menggali ide di sekitarnya dan merangkai kata-kata yang pas dalam sebuah jalinan cerita sederhana namun bermakna. Sejak awal aku membaca cerita pertama, aku sudah merasa gaya penulisan ceritanya cocok dengan seleraku: mengalir, deskriptif, dan mampu membuat imajinasiku melayang membayangkan setiap adegan yang berhasil memenuhi pikiranku saat membacanya.

Pada setiap awal cerita juga disebutkan deskripsi jenis kopi yang menjadi favorit salah satu tokoh di dalamnya sehingga terkesan lebih personal dan memberi informasi lebih kepada para pembaca tentang jenis kopi tersebut. Seperti yang disebutkan dalam sinopsis cerita bahwa setiap orang mempunyai kegemaran masing-masing akan jenis kopi yang mereka minum, maka setelah menikmati buku ini setiap pembaca akan menemukan cerita favorit yang tentu saja tidak akan sama semua.

Kalaupun ada kekurangannya tak lain adalah penggunaan kata aku, gue, dan saya oleh satu tokoh yang tercampur dalam satu cerita yang cukup membuatku bingung. Maklum saja aku bukan orang Jakarta sehingga tidak bisa membedakan kapan waktunya memakai kata gue dan kapan memakai kata aku atau saya. Ada baiknya satu tokoh menggunakan satu saja kata ganti orang pertama sehingga tidak membingungkan para pembaca. Atau hal ini memang disengaja?

Untuk setting cerita apabila tidak disebutkan berada di Indonesia, tepatnya di Jakarta, pasti banyak yang mengira bahwa ketujuh cerita di dalam buku ini berlangsung di luar negeri karena bertebaran penggunaan berbagai istilah asing selain tentu saja penyebutan nama berbagai jenis kopi yang mungkin sudah cukup asing bagi pembaca yang bukan pencinta kopi. Mulai dari nama kafe Blue Romance itu sendiri yang juga menjadi judul buku, ketujuh cerita yang kesemua judulnya menggunakan bahasa Inggris, nama makanan dan minuman di daftar menu, selipan berbagai informasi berupa judul film, lagu, dan juga kalimat yang digunakan sebagai deskripsi perasaan tokoh di dalam sebuah cerita. Untung saja masi Penulis masih menyelipkan beberapa unsur lokal seperti pemilihan nama beberapa tokoh yang Indonesia banget dan beberapa kebiasaan anak-anak di Indonesia pada tahun ’90-an pada cerita 1997-2000.

Hal ini selain memperlihatkan pengetahuan sang Penulis yang cukup luas, juga dapat menjadi sedikit ganjalan bagi para pembaca yang tidak terlalu memahami istilah asing tersebut. Walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa nantinya para pembaca yang tidak mengetahui berbagai hal yang kurang akrab tersebut akan segera mencari informasi lebih lanjut melalui google, namun ada baiknya meminimalkan penggunaan istilah asing dan menggantinya dengan bahasa Indonesia, kecuali untuk judul lagu, film, dan tentu saja lirik lagu serta beberapa istilah yang memang tidak luwes diterjemahkan artinya.

Kover buku ini sendiri cukup sederhana namun eye catchy. Warna cokelat mendominasi kover yang menampilkan sketsa secangkir kopi panas dengan asap mengepul membentuk barisan kata Blue Romance berwarna biru. Di sekitar cangkir kopi itu tersebar berbagai item yang juga ditampilkan di setiap akhir ketujuh cerita yang ditermuat di dalam buku ini. Penempatan nama sang Penulis dan tagline Setiap kisah punya kopinya sendiri tercetak tanpa mengganggu keseluruhan konsep kover sederhana ini.

Well, terlepas dari segala kekurangan dan kelebihannya, over all aku suka Blue Romance. Ketujuh cerita di dalamnya semuanya adalah favoritku. Jadi kapan ya Blue Romance ini dibuat versi filmnya? #eh

Sensasi rasa seusai baca: 4/5

Tentang Penulis:
6558938Sheva Thalia adalah seorang Penulis muda kelahiran tahun 1992 yang baru menerbitkan satu buku, yaitu Blue Romance ini. Namun begitu, sejak SD dia sudah hobi menulis di udara dan sering merasa malu saat terpergok sedang berkhayal. Ketika dibelikan buku harian, dimulailah petualangan kecilnya menciptakan tokoh-tokoh dan merangkai jalinan cerita yang hanya ditunjukkannya kepada beberapa orang teman saja karena Sheva merasa tidak percaya diri.

Ketika duduk di bangku SMA, Sheva akhirnya memutuskan untuk membuat karyanya dikenal karena menurutnya sebuah cerita tidak akan hidup jika tidak dibaca dan ditunjukkan kepada orang lain. Dan akhirnya Blue Romance yang diilhami oleh film My Blueberry Nights karya Wong Kar Wai ini menjadi debut penulisan kumpulan cerita pertama gadis pencinta kopi ini.

Inspirasi dalam menulis sendiri didapat Sheva dari neon lights, movie soundtrack, dan manusia-manusia di sekitarnya. Sungguh membanggakan ada penulis perempuan yang masih muda namun sukses menghasilkan debut tulisan yang tidak sekedar terbit namun juga ber-‘isi’. Teruskan berkarya, Sheva🙂

Sekilas kata:

  • Awalnya aku tertarik dengan Blue Romance karena dititipi Mbak Desty untuk membelikan buku ini untuk Ndari. Karena saat itu buku yang tersisa di TM Solo tinggal satu, aku harus merelakannya untuk dikirim ke Ndari dan menahan rasa penasaranku terhadap buku tersebut sampai akhirnya di awal April lalu aku mendapatkan buku ini dengan harga diskon yang lumayan banyak😀
  • Blue Romance kupilih untuk menjadi salah satu hadiah dalam BBI Giveaway Hop yang kuadakan bersama teman-teman BBI di bulan April 2013 ini
  • Resensi ini dibuat dalam rangka Posting Bareng BBI dengan tema perempuan (baca: penulis perempuan) dan Finding new Author.

14 thoughts on “Blue Romance

  1. oh wawww penulisnya masih mudaaa😀 Aku suka covernya… dan setuju, penggunaan kata ganti pertama yang campur aduk sering bikin aku ilfil juga😀

  2. Pingback: New Authors Reading Challenge 2013 | Melihat Kembali

  3. Pingback: New Authors Reading Challenge 2013 – Wrap Up | Melihat Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s