The Boy in the Striped Pyjamas

re_buku_picture_80740Detail buku:
Penulis: John Boyne
Penerjemah: Rosemary Kesauli
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 240 hlm
Cetakan I, Juli 2007
ISBN: 978-979-22-2982-0

Sinopsis:

Kisah tentang Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis ini sulit sekali digambarkan. Biasanya kami memberikan ringkasan cerita di sampul belakang buku, tapi untuk kisah yang satu ini sengaja tidak diberikan ringkasan cerita, supaya tidak merusak keseluruhannya. Lebih baik Anda langsung saja membaca, tanpa mengetahui tentang apa kisah ini sebenarnya.

Kalau Anda membaca buku ini, Anda akan mengikuti perjalanan seorang anak lelaki umur sembilan tahun bernama Bruno (Meski buku ini bukanlah buku untuk anak kecil). Dan cepat atau lambat, Anda akan tiba di sebuah pagar, bersama Bruno.

Pagar seperti ini ada di seluruh dunia. Semoga Anda tidak pernah terpaksa dihadapkan pada pagar ini dalam hidup Anda.

Resensi:

Rumah bukanlah bangunan, jalan, kota, atau sesuatu yang dibuat manusia seperti batu bata dan semen. Rumah adalah tempat keluarga kita berada. hlm.57

Buku ini berkisah tentang Bruno, seorang anak laki-laki yang terpaksa pindah dari rumah nyamannya di Berlin karena pekerjaan ayahnya. Di tempat tinggal barunya yang disebut Out-With, Bruno harus beradaptasi dengan banyak hal, mulai dari sempitnya rumah, sepinya suasana lingkungan sekitarnya, guru sejarahnya sampai dengan kedatangan orang-orang asing yang tidak disukainya yang mengunjungi ayahnya.

Ada satu hal yang menarik perhatian bocah berusia sembilan tahun tersebut: keberadaan orang-orang dengan piama bergaris-garis di balik pagar kawat yang membentang di sisi lain tempat tinggalnya. Gretel, kakak perempuan Bruno mengatakan bahwa itu adalah daerah pedesaan atau pertanian, namun Bruno tidak percaya begitu saja sehingga dia tergerak untuk mencari tahu tempat apa itu.

Mengabaikan nasihat kedua orang tuanya agar tidak bermain jauh-jauh dari rumahnya, Bruno nekat berpetualang secara diam-diam. Dia menyusuri pagar kawat selama beberapa waktu sampai akhirnya bertemu dengan seorang anak laki-laki di balik pagar kawat tersebut. Sejak perkenalan Bruno langsung menyukai anak itu, selain karena mereka sebaya dan punya tanggal lahir yang sama, Bruno merasa menemukan teman.

Dari Shmuel-lah Bruno mengetahui suasana di balik pagar kawat tempat sahabat barunya itu tinggal. Meskipun Bruno merasa bahwa tempt tinggal Shmuel itu seru dan membuatnya iri karena ada banyak anak laki-laki lainnya di sana, namun dia selalu bertanya-tanya mengapa kondisi Shmuel selalu terlihat menyedihkan, badannya sangat kurus, dekil, dan seperti tidak pernah mandi.

Persahabatan keduanya terjalin secara diam-diam di tengah konflik dan misteri besar yang tidak pernah disadari Bruno. Ketika suatu kali Bruno kembali berpetualang, tidak ada seorang pun akan mengira apa yang terjadi kemudian. Tidak seorang pun, termasuk ayah, ibu, Gretel, dan semua bawahan ayah Bruno yang selama ini terlihat dapat diandalkan.

Sejarahlah yang telah membawa kita sampai ke saat sekarang ini. hlm.156

Kembali aku membaca buku bertema perang dari sudut pandang anak-anak setelah Weed Flower. Namun aura yang kutangkap dari kedua buku itu sangatlah berbeda karena di Weed Flower, Sumiko sang tokoh utama diceritakan menyadari telah terjadi perang yang mengancam keberadaan orang-orang keturunan Jepang di Amerika. Sedangkan di The Boy in the Striped Pyjamas ini, Bruno sama sekali tidak memiliki pemahaman seperti itu. Keinginannya saat itu hanya satu: mencari teman yang bisa diajaknya bermain di tempat tinggalnya yang sepi.

Membaca buku ini mengingatkanku dengan film La Vita E Bella karya Robert Benigni yang sangat menyentuh dan menguras air mata itu. Kepolosan seorang anak kecil dalam memandang segala hal di sekitarnya tanpa mengenal perbedaan dan konflik perang menjadi tema utama di kedua karya itu. Hal tersebut tergambar dengan baik di dalam buku ini. Tidak terlihat sama sekali deskripsi berdarah-darah tentang kekejaman Perang Dunia II yang melatarbelakangi cerita ini. Cukup dengan mengandalkan sudut pandang Bruno yang polos, para pembaca diajak menerka-nerka sebetulnya apa yang sedang terjadi di sekeliling bocah itu.

Rasa iri Bruno terhadap Shmuel terasa wajar karena mereka tinggal di dua tempat yang bertolak belakang. Namun Bruno masih saja penasaran dengan mengapa hal itu harus terjadi. Kenapa tempat tinggal mereka berdua harus dipisahkan dengan memasang pagar kawat, dan kenapa Shmuel harus mengenakan piama bergaris-garis dan ban lengan dengan simbol tertentu, sama seperti ban lengan yang sering dikenakan ayahnya namun dengan simbol berbeda? Penjelasan sekilas dari Gretel tentang alasan pemasangan pagar kawat tidak pernah memuaskan Bruno, sama seperti pendapat Gretel tentang tempat di balik pagar kawat itu.

Beberapa catatan dituliskan di dalam buku ini terkait keberadaan atasan ayah Bruno, the Fury, fakta sebenarnya tentang Out-With, dan juga kemunculan tokoh nyata yang mendampingi the Fury itu sendiri.

Sensasi rasa seusai baca: 4/5

Versi film:
MV5BMTMzMTc3MjA5NF5BMl5BanBnXkFtZTcwOTk3MDE5MQ@@._V1_SY317_CR0,0,214,317_Pada tahun 2008, dibuatlah versi film dari The Boy in the Striped Pyjamas yang disutradarai oleh Mark Herman dan diproduseri oleh David Heyman. Cerita di dalam film ini bisa dikatakan patuh pada jalan cerita dalam bukunya sehingga seperti menjadi versi visual dari buku itu sendiri. Tokoh Bruno yang penasaran dengan keberadaan dunia lain di balik pagar kawat diperankan oleh Asa Butterfield yang di kemudian hari berperan dalam Hugo yang diadaptasi dari buku Hugo: the Ivention fo Hugo Cabret.

Film ini mendapat beberapa nominasi dalam beberapa penghargaan seperti Premio Goya, Irish Film and Television Award, Young Artist Awards, dan juga British Independent Film Award. Namun demikian hanya satu penghargaan yang akhirnya diterima oleh Vera Farmiga yang berperan sebagai ibu Bruno, yaitu sebagai aktris terbaik di British Independent Film Award.
Source:
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Boy_in_the_Striped_Pyjamas_(film)
http://www.imdb.com/title/tt0914798/

Tentang penulis:

Penulis yang lahir pada 30 April 1971 di Dublin, Irlandia ini mempelajari penulisan kreatif di University of East Anglia dimana dia memperoleh penghargaan Curtis Brown prize. Beberapa buku yang telah ditulisnya adalah The Absolutist, The House of Special Purpose, Noah Barleywater Runs Away, Mutiny on the Bounty, The Terrible Thing That Happened to Barnaby Brocket, The Thief of Time. Crippen, This House is Haunted, dan The Dare.

Ingin mengenal mengenal John Boyne lebih lanjut? kunjungi websitenya: http://www.johnboyne.com/

Sekilas kata:

  • Resensi ini dibuat dalam rangka Posting Bareng BBI dengan tema Perang
  • Resensi ini aku sertakan dalam Finding New Author RC yang diadakan oleh Ren

10 thoughts on “The Boy in the Striped Pyjamas

  1. Pingback: New Authors Reading Challenge 2013 | Melihat Kembali

  2. Pingback: Baca Bareng BBI Januari – Desember 2013 | Mia membaca

  3. Pingback: New Authors Reading Challenge 2013 – Wrap Up | Melihat Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s