The Girl with Glass Feet – Gadis dengan Kaki dari Kaca

11002362Detail Buku:
Judul asli: The Girl with Glass Feet
Penulis: Ali Shaw
Penerjemah: Tanti Lesmana
Tebal: 428 hlm
Cetakan I, Maret 2011
ISBN: 978-979-22-6867-6

Sinopsis:
https://www.goodreads.com/book/show/11002362-gadis-dengan-kaki-dari-kaca

Resensi:

Orang-orang lain tidak pernah bisa menyadari bahwa fotografi bukanlah suatu pekerjaan, hobi, ataupun obsesi. Baginya, fotografi adalah caranya yang paling dasar dalam menafsirkan dunia, sama seperti efek cahaya yang menerobos ke dalam retina-retina matanya. hlm.10

Midas Crook, tokoh utama pria dalam buku ini adalah seorang penyendiri dan jarang berinteraksi dengan orang lain di lingkungan sekitar tempat tinggalnya, St. Hauda’s Land. Dia tenggelam dalam kesenangannya menangkap cahaya dalam foto-foto yang dijepretnya dengan kamera digitalnya. Midas hanya punya seorang teman dekat dan juga bosnya di toko bunga tempatnya bekerja, Gustav dan anaknya, Denver, yang menjadi semacam keluarga terdekatnya sepeninggal ayahnya. Keberadaan ibunya tidak terlalu diceritakan sejak awal walalupun nanti di pertengahan cerita wanita tersebut akan muncul di beberapa bab buku ini.

Karakter Midas dalam bersikap dan berpikir sangat dipengaruhi oleh berbagai peristiwa di masa lalu yang tanpa disadarinya malah membentuknya menjadi semakin mirip dengan orang yang sangat ingin dihindarinya, ayahnya. Ayahnya adalah orang yang tenggelam dalam pekerjaannya, menolak kasih sayang yang diberikan Midas dan ibunya, dan menyimpan sebuah rahasia besar. Perlakuan ayahnya kepada ibunya pula yang terpatri di ingatan Midas dan membayanginya sampai dia dewasa.

Meski masih sangat kecil, Midas sudah mulai membayangkan negatif film sebagai sisa-sisa fisik sepotong masa lalu. Kenang-kenangan yang tersusun dari cahaya. Hasil cetak foto memang luar biasa, tetapi klisenyalah yang seharusnya dianggap berharga. Tanpa klise itu, kita ibaratnya harus memiliki pantulan. Dengan klise-klise, berarti dia menggenggam sepotong masa lalu ibunya, dan rasanya sungguh-sungguh nyata seperti potongan rambut atau kuku yang ditemukan kembali. hlm 166-167.

7098974

Original Cover

Pertemuan Midas dengan Ida Maclaird, sang tokoh utama wanita, terjadi di awal cerita ketika Midas tengah ‘mengejar cahaya’ saat hunting foto alam sekitarnya yang didominasi warna monokrom. Sejak awal pertemuan Midas sudah melihat keanehan pada kaki Ida yang terbalut sepatu bot besar yang terlihat tidak seimbang dengan proporsi tubuhnya yang kecil dan terlihat rapuh sehingga gadis itu harus menggunakan bantuan tongkat untuk berjalan. Namun saat itu Midas tidak pernah mengira bahwa kaki itu menyimpan sebuah misteri yang membuatnya keluar dari zona nyamannya selama ini dan menimbulkan konflik untuknya di kemudian hari.

Keberadaan Ida di St. Hauda’s Land mulai terkuak setelah Midas berhubungan dengannya lebih lanjut. Ida mencari seseorang bernama Henry Fuwa yang diyakininya mempunyai jawaban atas keanehan yang terjadi pada keduanya kakinya yang perlahan berubah menjadi kaca. Nama pria yang dicari Ida itu langsung memicu ingatan Midas tentang masa lalu keluarganya, terutama penyebab pertengkaran kedua orang tuanya. Midas pun terombang ambing antara keinginan untuk menjauh dari Ida dan rasa ingin mengenal gadis itu lebih lanjut.

Sementara itu di tengah kegigihan Ida untuk mendekati Midas, ada Carl Maulsen, pemilik pondok tempat Ida menginap sementara yang juga kenalan lama ibu Ida yang diam-diam mulai menganggap Ida sebagai perwujudan sang Ibu yang diam-diam disukainya. Carl jugalah yang kemudian memaksa Ida untuk berobat ke kenalannya yang diyakininya mampu menyembuhkan gadis itu. Masa lalu Carl dengan kenalannya terungkap ketika Midas tanpa sengaja bertemu dengan suami wanita tersebut. Dari orang ini pulalah Midas menyadari perasaannya yang sesungguhnya kepada Ida.

Film-film negatif menyimpan sinar yang sebenarnya, yang dipantulkan langsung dari sebuah lanskap, onjek, manusia, dam diabadikan pada film. Film-film negatif merupakan bukti paling nyata yang bisa kaudapat dari kenangan-kenanganmu. Film-film negatif adalah arang yang tersisa setelah apinya padam, lebam yang membekas pada kulitmu. Cahaya itulah yang telah meneruskan ke matamu, pada hari kau memotretnya, citra ibumu, ayahmu, atau sahabat karibmu, dan telah merekamnya pada film. Dan kini, sewaktu memandangi foto jemari kaki Ida yang transparan di sepra tempat tidur, Midas teringat betapa miripnya kaki-kaki itu dengan film-film negatif: dua-duanya adalah subjek dari dunia antara kesenangan dan masa kini. Jari-jari ini bukanlah jari-jari yang nyata, bisa digerakkan, menapak, melainkan permainan cahaya yang memperlihatkan tempat jari-jari itu berada. hlm.194.

Selain perjuangan Ida untuk menyembuhkan kaki kacanya dan usahanya untuk menjalin hubungan dengan Midas yang penyendiri, sisi lain Carl dan juga Henry acapkali diceritakan di beberapa bagian buku ini. Interaksi kekeluargaan Gustav dan Denver dengan Midas memberikan kehangatan tersendiri di sepanjang cerita dengan latar belakang musim dingin St. Hauda’s Island ini.

9076848

Kindle Edition’s Cover

Alurย flash back digunakan dalam cerita ini, dimana pikiran para tokohnya seringkali tumpang tindih tanpa dibedakan format penulisannya sehingga pembaca tidak menyadari sedang membaca kisah masa lalu sebelum membaca deskripsi beberapa paragraf di dalam bab tersebut. Tokoh-tokoh pendamping yang muncul dalam cerita ini saling terkait di masa lalu, seperti Henry yang terkait dengan ibu Midas dan profesi ayah Midas yang terhubung dengan Carl. Keterkaitan ini terasa cukup wajar mengingat latar belakang cerita yang berada di sebuah pulau kecil yang tentu saja para penduduknya saling mengenal.

Membaca judul buku ini, Gadis dengan Kaki dari Kaca, langsung membuatku tertarik untuk membacanya. Gadis dengan kaki kaca? Bagaimana hal ini bisa terjadi? Apa penyebabnya? Namun sayang sekali, hingga akhir cerita tidak kutemukan jawabannya. Begitu pula dengan keberadaan berbagai makhluk fantasi di St. Hauda’s Land yang didominasi nuansa monokrom musim dingin tersebut. Pembaca hanya diberi fakta bahwa ada rawa-rawa dan hutan bernuansa mistis dan binatang yang bisa mengubah segala sesuatu yang dilihatnya menjadi putih bersih.

Padahal terdapat banyak deskripsi mendetail yang berulang-ulang dan terkadang menjadi bertele-tele di sepanjang cerita, termasuk porsi penceritaan beberapa peristiwa di masa kecil Midas dan kegemaran Henry memelihara lembu bersayap ngengat yang menurutku tidak terkait langsung dengan cerita utama.

“… Kamera digital adalah benda yang sangat mengandalkan mesin dan tidak ada gunanya. Mata mesin dengan ingatan mesin. Mengingatkan aku pada…kesalahan-kesalahan yang telah kubuat dalam caraku memandang dunia.” – Hector Stallow-hlm.295.

Aku sendiri cukup menyukai buku ini dari segi ide cerita, deksripsi landskap musim dingin di St. Hauda’s Island yang membuatku bebas berimajinasi, serta kovernya yang sederhana namun menarik bahkan terbilang cakep untukku. Meskipun ada beberapa kutipan terkait fotografi yang juga menjadi favoritku, namun tidak adanya jawaban untuk kisah utama cerita ini cukup menggangguku sehingga dengan terpaksa buku ini tidak masuk dalam daftar buku favoritku

Sensasi rasa seusai baca: 3/4

Tentang Penulis:
Awalnya aku mengira penulis buku ini adalah seorang wanita, namun saat menulis resesi ini dan menemukan profilnya di goodreads, ternyata Ali Shaw adalah seorang laki-laki #plak

Ali Shaw adalah seorang penulis cerita pendek, novel, dan juga seorang ilustrator berkebangsaan Inggris. Girl with Glass Feet merupakah novel debutnya yang sekaligus mengantarkan Shaw meraih Desmond Elliott Prize 2010. Saat ini Shaw sedang menyelesaikan buku ketiganya setelah Girl with Glass Feet dan The Man Who Rained. Ingin mengenal Shaw lebih lanjut atau sekadar melihat-lihat beberapa sketsa hasil goresan tangannya? Silakan berkunjung ke http://www.alishaw.co.uk

Sekilas kata:
Sudah cukup lama aku menyimpan buku ini dalam rak wishlist di goodreadsku dan akhirnya baru terpenuhi ketika event Secret Santa (SS) 2013 lalu diadakan karena SS-ku memilih buku ini sebagai kado untukku *terharu* Makasih ya, Santa *ketjup2santa*

Nah, ngomong-ngomong tentang SS, sesuai dengan peraturan dari divisi event, pada post resensi buku kado SS aku juga harus langsung menebak siapa SS-ku. Bermodal dengan dua petunjuk utama dari Santa yang baik hati, aku mencoba menebak siapa SS-ku tersebut.

Masih ingat dua petunjuk penting dari SS dalam post Riddle?

  1. Ukur kertas ini-kertas ucapan dari SS- dengan penggaris. Wishful Wednesday-ku pernah memuat buku dengan judul yang ada angka ukuran kertas ini โ€“> 13 x 13
  2. Saya penyuka bunga matahari โ€“> noted!

Dari kedua petunjuk di atas, aku segera menebak-nebak bahwa buku yang dimaksud dalam poin 13 adalah Thirteen Reasons Why. Langsung saja aku meluncur ke host-nya WW, Mbak Astrid untuk mencari siapa saja perserta meme tersebut. Namun niat untuk ngublek-ublek blog itu segera kuurungkan mengingat banyaknya peserta WW dari kalangan BBIers yang pastinya akan membuatku harus bekerja keras mencari si SS.

Strategi segera kuganti ke andalan para X untuk mencari siapa SS-nya: gugling! Ya, ini adalah mesin penolong terbaik bagi para pencari jawaban yang di era IT saat ini. Kata kunci yang kugunakan tentu saja 13 Reasons Why, Wishful Wednesday, dan BBI. Hasil yang kudapat ternyata cukup membingungkan sehingga kuluncurkan kata kunci berikutnya: sun flower admirer dan BBI yang ternyata salah satu link yang ada langsung mengantarkanku ke blog SS-ku. Ternyata pemilik blog tersebut saat itu entah kebetulan atau tidak baru saja meresensi sebuah buku dengan judul Sun Flower sehingga linknya langsung terdeteksi di Mbah Google xD

SS

Kompilasi petunjuk SS๐Ÿ™‚

Hoo, rupanya SS-ku adalah salah seorang member baru BBI, sehingga petunjuk yang diberikan juga termasuk googleable *apasih*ย Ada buku 13 Reasons Why dan pemilik blog mengaku sebagai sun flower admirer di profil blognya! Yay, semoga ini bukan jebakan batman sehingga kuputuskan untuk menjadikan dengan blog sebagai tersangka SS-ku *dadah-dadah sama Santa*

Am I right, Santa?๐Ÿ˜€

Resensi ini dibuat dalam rangka:

posting bareng BBI 2014

8 thoughts on “The Girl with Glass Feet – Gadis dengan Kaki dari Kaca

  1. Pingback: Lucky No.14 Reading Challenge | Melihat Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s