Bumi Manusia

bumi-manusiaDetail buku:
Judul asli: Bumi Manusia
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Desain sampul: Nadia
Editor: Astuti Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara
Tebal: 538 hlm
Cetakan 17, Januari 2011
ISBN: 979-97312-3-2

Sinopsis:
https://www.goodreads.com/book/show/1398034.Bumi_Manusia

Resensi:

Cerita, …, selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa, atau dewa, atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat difahami daripada sang manusia…, jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur,vperabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan rata-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput. Hlm.7

Mengambil latar belakang Surabaya di tahun 1898, Bumi Manusia menceritakan tentang seorang pemuda pribumi bernama Minke yang tengah menghadapi dilema di tahun terakhir sekolahnya. Nama Minke sendiri tentu saja bukan nama aslinya. Pemuda itu mendapatkan nama tersebut dari guru sekolahnya yang semula berniat mengumpatinya. Tidak diduga ternyata nama tersebut terbawa sampai dia dewasa.

Sebagai seorang pribumi tulen berdarah Jawa, Minke beruntung bersekolah di sekolah Belanda sehingga mendapat ilmu pengetahuan Eropa yang dianggap terdepan di mata pribumi saat itu. Pemikiran-pemikiran Minke sangat dipengaruhi cara berpikir orang Eropa. Namun hal ini seakan menjadi pedang bermata dua baginya. Di satu sisi dia terjebak dalam tradisi adat budaya khas Jawa yang mengekang, di sisi lain dia masih mendapatkan perlakuan buruk dari orang-orang Eropa-Indo yang memandang rendah kedudukan pribumi.

Perkenalan Minke dengan Annelies, seorang gadis Indo berayah seorang Belanda dan beribu seorang pribumi-Nyai Ontosoroh mengubah jalan hidupnya. Kekompleksan keluarga tersebut menarik perhatian Minke, selain tentu saja kecantikan Ann yang telah menarik hatinya sejak pertemuan pertama mereka. Ayah Ann yang seorang Belanda mengambil Nyai Ontosoroh sebagai seorang gundik sejak wanita tersebut berusia belasan tahun. Pria Belanda tersebut mengajari Mama-panggilan Nyai Ontosoroh- baca-tulis, tutur kata dan tata krama yang baik, dan juga mengelola perkebunan serta berbisnis dagang. Keharmonisan keluarga tersebut retak dalam sebuah peristiwa yang menyebabkan Mama bertekad untuk melindungi keluarganya dan berjuang melawan keadaan yang dianggapnya tidak adil sejak dia dipaksa menjadi gundik.

Keluarga Mellema sendiri terbagi menjadi dua kubu, Ann dan Mama menyukai kehadiran Minke-bahkan memintanya tinggal di rumah keluarga tersebut- dan Herman Mellena dan Robert, kakak Ann yang membenci keberadaan Minke yang mereka anggap rendah. Minke yang seakan terlena dengan kebaikan Ann dan Mama akhirnya harus menghadapi kemarahan ayahnya, seorang Bupati di daerah B, karena lalai untuk bertukar kabar dengan keluarganya tersebut. Ayah Minke sendiri akhirnya diangkat menjadi Residen Surabaya dimana pada itu Minke semakin merasakan pergolakan batin terkait keinginannya untuk menjadi manusia bebas, tidak diperintah, dan juga tidak memerintah. Dia menginginkan perubahan dalam banyak hal, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang-orang di sekitarnya.

Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin megenal batas. Kan itu tidak terlalu sulit difahami? Kalau orang tidak tahu batas, tuhan akan memaksanya tahu dengan caraNya sendiri. hlm.189

Kepandaian Minke yang menjadi penerjemah dalam acara pengangkatan ayahnya menjadi residen, menarik minat Asisten residen Herbert de la Croix. Bahkan orang Belanda tersebut meminta agar Minke menjalin persahabatan dengan kedua puterinya, Sarah dan Miriam setelah sebelumnya Minke menjalani diskusi berbobot dengan keduanya. Melalui korespondensi inilah semangat Minke kembali terbakar ketika kehidupannya di sekolah sudah tidak senyaman yang dulu lagi karena rahasia kecilnya terungkap dengan paksa.

Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai. Juffrouw Magda Peters. hlm.313

Sekembalinya Minke dari acara pengangkatan ayahnya menjadi residen, hubungannya dengan Ann tidak berjalan semulus sebelumnya. Mereka harus berpisah demi keselamatan masing-masing. Ketika akhirnya mereka bersatu kembali, sebuah rahasia besar dari masa lalu Ann terungkap dan secara tidak langsung membuat Minke memahami betapa rapuhnya Ann dan betapa bergantungnya dia dengan Mama sebelum akhirnya bertemu dengan Minke. Sementara sebuah peristiwa yang menewaskan salah satu anggota keluarga Ann menjadi awal mula masalah besar yang nantinya akan menggoyahkan hubungan kedua anak manusia tersebut.

Buku ini adalah buku kedua dari seorang Pram yang aku baca setelah Sekali Peristiwa di Banten Selatan. Berbeda dari buku tersebut, Bumi Manusia menyajikan cerita yang lebih kompleks dengan lebih banyak detail latar belakang cerita. Walaupun masih banyak kata-kata dan ejaan yang tidak baku, namun hal tersebut ternyata tidak mengurangi keasyikan membaca buku ini. Jalinan cerita terangkai dengan baik, karakter-karakter yang muncul memiliki porsi cerita masing-masing yang saling terkait. Budaya Indonesia, Belanda/Eropa, dan Cina membaur menjadi satu dalam kehidupan para tokoh.

Salah satu hal yang nyata dan menjadi ciri khas rasialisme yang terjadi di zaman perjuangan tersebut adalah terkotak-kotaknya pergaulan saat itu. Orang yang tidak mempunyai nama belakang atau nama keluarga-biasanya orang pribumi-langsung dipandang sebelah mata, dianggap hina dan rendah kastanya. Hal ini sunggu menyakitkan karena di tanah air mereka sendiri orang-orang asli Indonesia tersebut tidak bisa hidup bebas merdeka dan masih harus terjajah oleh Belanda.

Kisah cinta dalam Bumi Manusia diceritakan dengan bersahaja dan tidak vulgar, walaupun memang saat Ann dan Minke saling merindukan, bahasa yang digunakan cenderung hiperbola. Sebagai ungkapan kerinduan yang sangat dalam dan sudah akut mungkin? Entahlah. Namun lagi-lagi semua itu tidak mengurangi kenikmatanku dalam membaca buku ini.

Akhir dari cerita ini memang terasa sedikit menggantung, namun tidak mengapa karena perjuangan Minke yang sebenarnya baru saja dimulai di akhir cerita ini. Sungguh tidak sabar untuk melanjutkan membaca buku kedua Tetralogi Buru ini.

Sensasi rasa seusai baca: 4,5/5

Sekilas kata:
Rekor, buku ini berhasil kuselesaikan dalam waktu tidak sampai sehari saja untuk mengejar waktu Postbar BBI dengan tema Historical Fiction kali ini *dance* #plak

posting bareng BBI 2014
Resensi ini dibuat dalam rangka:

One thought on “Bumi Manusia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s