The Road – Jalan

the-road1Detail buku:
Judul asli: the Road
Penulis: Cormac McCarthy
Penerjemah: Sonya Sondakh
Ilustrasi dan desain sampul: Satya Utama Jadi
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal:264 hlm
Cetakan: Januari 2009
ISBN: 978-979-22-4316-1

Sinopsis:
http://www.goodreads.com/book/show/6164475-the-road

Resensi:

Kau lupa apa yang ingin kau ingat dan kau ingat apa yang ingin kau lupakan. Hlm.15

The Road mengambil setting di Amerika Serikat pasca sebuah peristiwa besar yang membuat tempat tersebut berubah total. Perubahan iklim yang drastis, hutan yang terbakar, jalanan dengan aspal meleleh, lautan yang tak lagi biru, dan juga orang-orang yang mati mengering secara mengenaskan di rumah mereka yang terabaikan dan berdebu. Tidak dijelaskan secara detail peristiwa seperti apa yang mengubah negara adikuasa tersebut, yang jelas kesan kehancuran sebuah negara sangat terasa di sepanjang cerita. Intinya, bumi Amerika Serikat sudah tidak layak ditinggali lagi.

Lalu siapa saja tokoh dalam buku ini? Tokoh utama dalam buku ini hanya ada dua, seorang ayah dengan seorang anak laki-lakinya yang masih kecil. Kedua tokoh tanpa nama itu diceritakan harus menjelajah negara tersebut untuk bertahan hidup dengan menjarah rumah-rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya. Bukan hanya mereka saja yang melakukan perbuatan cukup tercela tersebut, namun seluruh manusia yang mereka temui di sepanjang penjelahan itu juga melakukannya. Sekali lagi, tujuan penjarahan tersebut hanya hanya satu: untuk bertahan hidup untuk hari itu.

Orang senantiasa menyiapkan hari esok. Aku tak percaya itu. Hari esok tak pernah menyiapkan diri untuk mereka. Bahkan tidak tahu mereka ada di sini. Hlm.155

Hari esok sepertinya tidak pernah dipikirkan oleh sang Ayah, karena menurutnya bisa bertahan hidup untuk satu hari saja membutuhkan perjuangan yang sangat berat. Beberapa kali sepasang ayah dan anak itu mengalami berbagai peristiwa mendebarkan: kucing-kucingan dengan orang lain yang dianggap sebagai orang jahat, menyaksikan orang lain dalam keadaan sekarat atau bahkan sudah menjadi mayat dengan cara mengenaskan, dan juga berkonfrontasi dengan orang lain hanya untuk memperebutkan makanan. Rasa cinta sang Ayah yang sangat besar kepada anak laki-lakinya tergambar jelas dalam cerita ini dimana dia selalu melindungi anak tersebut, merawatnya dengan penuh kasih sayang ketika sakit, dan berusaha menghindarkannya dari trauma melihat berbagai peristiwa kejam yang terjadi di sekitarnya.

Kelam dan suram, itulah kesan yang kutangkap semenjak pertama membaca buku ini sampai akhirnya berhasil menyelesaikannya dalam hitungan waktu yang cukup lama. Bukan karena tidak adanya tanda baca sebagai penanda percakapan di sepanjang cerita, bukan pula karena deskripsi suasanya yang cukup detail, namun karena memang membaca buku ini membutuhkan tekad yang kuat, terutama bagi yang selalu membaca buku dengan tema cerita yang ringan dan akhir yang selalu tertebak.

Ketidakjelasan penyebab bumi menjadi tidak layak dihuni dan hanya sedikitnya informasi tentang masa lalu sang Ayah dan anak laki-lakinya itu selain menjadi kekuatan cerita juga sekaligus menjadi titik rawan rasa bosan beberapa pembaca yang menuntut kejelasan setiap hal dalam cerita tersebut. Bagi yang menyukai cerita dengan tema berat, kelam, dan suram tentunya hal ini tidak menjadi masalah karena inti dari buku ini adalah menggambarkan suasana Amerika Serikat yang telah porak poranda dan bagaimana manusia dipaksa mengeluarkan kemampuannya untuk bertahan hidup dengan maksimal.

Derajat manusia seperti diceritakan dalam buku ini sudah turun drastis. Mereka harus hidup dengan menjarah dan tidak jarang menjadi kanibal hanya untuk bertahan hidup di bumi yang tak lagi bersahabat untuk ditinggali. Satu pertanyaan yang membayangiku sepanjang membaca buku ini: akankah bumi yang kita tinggali bisa berubah menjadi seperti bumi yang diceritakan dalam the Road ini? Sangat mungkin terjadi, karena para manusia saat ini sangat rakus dalam memanfaatkan alam secara maksimal hingga melupakan akibat apa yang yang akan terjadi ketika alam berbalik menghukum manusia karena kerakusan mereka. Berbagai peristiwa alam seperti bumi yang terbelah, banjir, kekeringan, dan bencana lainnya seakan menjadi tanda bahwa bumi sudah semakin tua.

Buku yang memenangkan banyak penghargaan dan salah satunya Pulitzer Prize for Fiction di tahun 2007 ini merupakan salah satu buku yang wajib dibaca, terutama bagi penggemar cerita penuh realitas dan tidak menjual mimpi. Hidup itu kejam, Bung!

Hal paling berani apa yang pernah Papa lakukan?
Bangun pagi ini.
Hlm.247

Sensasi rasa seusai baca: 3,5/5

Tentang Penulis:

sumber: imdb.com

sumber: imdb.com

Penulis berkebangsaan Amerika Serikat yang bernama asli Charles McCarthy ini selain menjadi penulis novel juga adalah seorang penulis drama dan naskah film. 10 buku yang ditulisnya sebagia besar mengambil tema Southern Gothic, Western, and post-apocalyptic. Beberapa bukunya telah diadaptasi menjadi film, seperti No Country for Old Men, All the Pretty Horses, Child of God, dan juga the Road. Buku karya McCarthy yang diadaptasi menjadi film serial TV yaitu the Gardener’s Son dan Blood Meridian.
Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Cormac_McCarthy

Sekilas kata:

posting bareng BBI 2014Resensi ini dibuat dalam rangka Posbar BBI Maret 2014 untuk tema buku Oprah

7 thoughts on “The Road – Jalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s