Menafsir Permukaan: Kumpulan Puisi

Menafsir-Permukaan_astri-kuDetail buku:
Judul: Menafsir Permukaan
Penulis: Astri Kusuma
Penerbit: Halaman Moeka
Tebal: 80 hlm
Cetakan I, Mei 2013
ISBN: 978-602-269-005-4

Resensi:
Jujur, salah satu genre buku yang selama ini jarang aku sentuh adalah buku puisi. Walaupun semasa muda bapakku hobi menuliskan beberapa bait karya puisinya dalam sebuah buku catatan-buku ini ditemukan adikku beberapa waktu lalu dan terlihat betapa romantisnya Bapak *uhuk*, namun ternyata bakat itu tidak mengalir di darahku melainkan ke adikku yang memang cenderung puitis dan mengikuti jejak bapak untuk iseng berpuisi.

Nah, ketika tema posbar BBI Maret 2014 ini salah satunya adalah buku puisi, aku hanya punya pikiran untuk membaca dan meresensi buku Hujan di Bulan Juni yang sempat aku baca sekilas dua kilas di tahun 2013. Namun mendekati jadwal posbar, aku teringat sebuah buku tipis bersampul hitam dari seorang teman yang khusus menghadiahkan buku puisi karyanya kepadaku dan adikku tahun lalu. Akhirnya kubuka-buka kembali buku tersebut dan mulai tenggelam dalam dunia Menafsir Permukaan seorang Astri Kusuma.

sendu bukan berarti tidak bahagia
senyum juga bukan berarti bahagia

dan kita hanya bisa menebak
melempar dugaan dari tempat kita memandang

hati dan rasa memang tak dangkal
tak mudah diterka
apalagi hanya dari permukaan

Menafsir Permukaan. 2012. Hlm. 52

Puisi yang judulnya dijadikan sebagai judul buku oleh sang Penulis ini sederhana namun dalam maknanya. Seperti ungkapan don’t judge a book by it’s cover, semua yang terlihat oleh mata, belum tentu itulah yang sebenarnya. Demikian halnya dengan buku yang hanya setebal 80 halaman ini, apa mungkin isinya bagus? Jangan-jangan isinya suram karena pemandangan siluet sebuah pantai di sampulnya seakan menyampaikan kesunyian yang dalam. Benarkah demikian?

Kelimapuluh puisi di dalam buku ini ditulis dari tahun 2007-2013, mulai dari zaman kuliah hingga bekerja dan berkeluarga saat ini. Tema yang diambil pun beragam, namun yang terutama adalah tentang keluarga, renungan singkat tentang kehidupan, peristiwa nyata yang terjadi, dan juga berbagai hal kecil yang mungkin dianggap sepele oleh orang lain namun bersifat sangat pribadi bagi sang Penulis. Pembaca diajak mengikuti sekilas kehidupan sang Penulis yang terjalin dari kalimat-kalimat sederhana yang mudah dipahami namun penuh makna.


jendela memaksa kita menyusun evaluasi
maka bukan salah jendela
jika dia membuat kita melihat hijauanya rumput tetangga.

Jendela. 2010. Hlm. 35.

Beberapa puisi favoritku adalah Perjalanan, Pada Cemara-Cemara di Gedung Pascasarjana, Pada Adenium yang Berbunga Aku Pulang, Jendela, Pulang, Melukis Langit, Lelaki Berpayung Ungu, Menafsir Permukaan, dan Sajak untuk Astri. Puisi terakhir ini ditulis oleh Sapardi Djoko Damono-penulis favorit dari Astri Kusuma-sebagai hadiah ulang tahunnya. Dan seperti diungkapkan dalam sang Penulis dalam lembar-lembar terakhir buku ini, bahwa tahun 2013 kemarin menjadi salah satu momen penting untuknya dimana ketika memasuki usia kepala tiga, salah satu mimpinya untuk menerbitkan sebuah buku kumpulan puisi tercapai.


mungkin saya memang tak cocok jadi petualang
perjalanan saya selama ini
ternyata adalah upaya mencari jalan pulang.

Pulang. 2012. Hlm.40

Yang istimewa dari kumpulan puisi ini selain sifat personal masing-masing puisi, terutama puisi menyentuh tentang rasa cinta Papa yang tinggal samar-samar dan kisah kehilangan putera pertama yang tengah dikandungnya setelah 6 bulan lebih, terdapat beberapa foto hasil jepretan sang Penulis. Selain menjadi semacam visualisasi beberapa puisi yang ada di dalam buku ini, foto-foto tersebut lagi-lagi bersifat personal dan demi menangkap beberapa objek kegemaran sang Penulis, karena menampilkan foto Sapardi Djoko Damono dan Joko Pinurbo.

Pleasure delayer-from movie Vanilla Sky
Tahan-tahanlah sekuatmu, supaya jika waktunya tiba akan lebih manis bagi jiwamu. Hlm.59

Meskipun buku kumpulan puisi ini baru terbit setelah Astri memasuki usia 30 tahun, namun aku harap setelah proyek pertamanya ini dia akan tetap rajin menulis dan kembali membukukan karya-karyanya tersebut di masa mendatang.


terlambat panas bukanlah tak bisa panas
latihan dan keteguhan hati menjadi tipisnya batas

Terlambat Panas. 2013. Hlm. 67

Sensasi rasa seusai baca: 3/5

Tentang Penulis:
417044_10151168715389385_1264538687_n
Astri Kusuma adalah sahabatku sejak SMP. Dan memang seperti yang dikatakannya dalam buku ini, kami pernah berbagi mimpi untuk menerbitkan buku dengan coretanku sebagai ilustrasi buku puisi karyanya. Yang terjadi kemudian adalah kami sempat kehilangan mimpi tersebut yang untunglah ditemukan kembali oleh Astri di tahun 2013: menerbitkan sebuah buku puisi sebagai penanda bertambahnya usianya ke kepala tiga. Sebuah keberhasilan yang dicapainya namun belum kulakukan. Masih banyak mimpiku yang tertinggal dan entah dimana keberadaannya saat ini.

Terlahir sebagai sulung dari tiga bersaudara, Astri tertempa menjadi pribadi yang penuh tanggungjawab dan teladan kedua adiknya. Bersekolah di sekolah favorit di kota Solo dari SD sampai SMA, Astri melanjutkan kuliah di Jurusan HI UGM dan S2 di kampus yang sama. Selain hobi menulis yang diam-diam dijalaninya sejak sekolah, Astri sangat berminat dengan gitar sekaligus mengidolakan Dewa Bujana dan Tohpati sebagai musisi favoritnya. Astri memutuskan untuk belajar gitar secara intensif sebelum akhir-akhir ini berpindah hati ke piano demi obsesinya untuk bisa memainkan beberapa lagu favoritnya.

Saat ini Astri bekerja di sebuah kantor pemerintah di Jakarta Pusat, mengelola sebuah toko buku online, dan tinggal di Depok bersama suami, mama, dan adik perempuannya. Dia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mudik ke Solo, baik dalam rangka pekerjaan ataupun libur lebaran. Dan aku akan selalu setia menemaninya berwisata kuliner bersama, salah satu kegemaran kami yang tidak terlewatkan dalam setiap kunjungannya tersebut.

Tertarik membaca coretan-coretan Astri? silakan mampir kemari: http://astrikusuma.com/

Sedangkan untuk menikmati kumpulan puisi dan hasil jepretan sang Penulis di Menafsir Permukaan, silahkan mampir ke http://rumahbelanjaaulia.com/

Sekilas kata:

posting bareng BBI 2014Resensi ini dibuat dalam rangka Posbar BBI Maret 2014 untuk tema buku Puisi

Bonus: Sajak untuk Astri🙂

3 thoughts on “Menafsir Permukaan: Kumpulan Puisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s