Burial Rites-Ritus-Ritus Pemakaman

23477799Detail buku:
Judul asli: Burial Rites
Penulis: Hannah Kent
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 416 hlm
Cetakan: November 2014
ISBN13: 978-602-03-0906-4

Sinopsis:

Aku tak ingat seperti apa rasanya tidak mengenal Natan. Aku tak bisa membayangkan seperti apa rasanya tidak mencintai dia. Melihat dirinya dan menyadari aku telah menemukan apa yang selama ini begitu kudambakan, tanpa kuketahui. Rasa lapar yang begitu dalam, begitu dahsyat dan membuatku terjerumus ke dalam malam, sehingga aku takut bukan kepalang.

Tahun 1829, di sebuah kota kecil di Islandia Utara, Agnes Magnúsdóttir menunggu pelaksanaan hukuman mati atas dirinya. Karena tak ada penjara untuk menampungnya, Agnes ditempatkan di rumah keluarga Petugas Wilayah Jón Jónsson. Merasa tak nyaman ada pembunuh di tengah mereka, keluarga itu memperlakukan Agnes dengan dingin. Yang mau berusaha memahaminya hanya Asisten Pendeta Thorvardur “Tóti” Jónsson yang ditugaskan untuk mempersiapkan Agnes menjemput maut.

Sejak kecil, Agnes hidup dari belas kasihan orang lain dan bekerja berpindah-pindah sebagai pelayan. Kecerdasannya, cara bicaranya yang dianggap asing, dan pengetahuannya tentang kisah-kisah dari buku, membuat orang-orang menjauhinya; nyaris tak seorang pun tahu seperti apa dia sesungguhnya. Agnes jatuh cinta pada Natan Ketilsson, orang pertama yang melihat dia sebagaimana adanya, dan dia pun pindah ke pertanian Natan di tepi laut, tempat sunyi yang hanya dihuni segelintir orang. Namun impiannya akan kehidupan yang lebih baik musnah. Natan Ketilsson tewas dibunuh, dan Agnes menjadi salah satu tertuduhnya.

Sambil menunggu ajal, Agnes menjalani hidup di tengah keluarga Jónsson, membantu pekerjaan sehari-hari dan meringankan beban mereka. Lambat laun sikap keluarga Jónsson mulai mencair. Mereka ikut mendengarkan ketika Agnes menuturkan kisah hidupnya kepada Tóti.

Hari-hari bergulir tanpa terasa, dan tanggal pelaksanaan hukuman mati semakin dekat…

Resensi:

Aku paling kejam kepada dia yang paling kucintai. Laxdaela Saga

17333319Di Islandia pada tahun 1829, tersebutlah Agness Magnusdottir yang sedang menunggu hukuman mati karena tuduhan pembunuhan. Di tahun tersebut, keberadaan seorang terdakwa di luar penjara sangatlah jarang sehingga ketika Agnes terpaksa dititipkan ke rumah seorang petugas wilayah sebelum hukuman tersebut dijatuhkan, timbullah konflik di keluarga yang harus menampungnya. Konflik itu sendiri perlahan menyebar di lingkungan sekitarnya, membaut keberadaan Agnes terasa menyulitkan.

Keluarga Jon Jonsson yang menampung Agnes mempunyai dua orang puteri yang masing-masing memberikan perlakuan berbeda kepadanya. Si sulung Lauga menyukai keberadaan Agnes sementara si bungsu Steina merasa sangat terganggu dengan kehadirannya dan menganggapnya sebagai ancaman. Sikap yang sama pun ditunjukkan oleh istri Jonsson, Margret. Terlebih lagi Margret-lah yang harus sering berhubungan dengan Agnes yang ikut melakukan pekerjaan rumah tangga.

Seiring dengan berjalannya waktu, pandangan Margret kepada Agnes mulai berubah karena wanita malang itu ringan tangan dan cenderung menurut. Gambaran yang jauh dari dugaannya semula tentang seorang pembunuh yang kasar dan pantas dihukum dengan kejam karena telah menghilangkan nyawa orang.

Adalah pendeta muda Thorvardur Jonsson alias Toti yang diminta sendiri oleh Agnes untuk melakukan bimbingan rohani kepadanya. Bimbingan rohani biasanya diberikan kepada para terdakwa menjelang hukuman mati dijatuhkan dengan harapan mereka menyesali segala perbuatannya dan nantinya mendapat pengampunan dosa di akhirat.

Pun demikian Agnes yang memilih Toti karena alasan sentimentil yang tidak terduga. Selama menjalani sesi bimbingan rohani itulah perlahan-lahan Agnes mau membuka kisah masa lalunya yang kelam dan suram serta nasib baik yang tak jua menghampirinya. Ketika akhirnya Agnes jatuh cinta, kisah cintanya pun berakhir tragis dengan terbunuhnya Natan Ketilson, pria yang terkenal playboy namun juga berhasil memikat Agnes untuk selamanya.

Kelam. Hanya satu kata itu yang bisa kuucapkan seusai menutup halaman terakhir buku ini. Bukan hanya deskripsi cukup detail tentang kondisi Agnes yang sangat buruk dia awal cerita, namun juga baggaimana perlakuan merendahkan dari orang-orang di sekitarnya terhadap statusnya sebagai terdakwa kasus pembunuhan. Mereka semua menganggap Agnes harus dihindari, kalau perlu dihukum mati secepatnya. Pemikiran yang mungkin terasa wajar di tahun setting cerita ini terjadi. Bahkan tidak bisa kita pungkiri bahwa pemikiran sejenis masih dapat kita temui di zaman modern ini.

Tidak ada kejutan berarti di sepanjang cerita. Pembaca seperti dibiarkan begitu saja menjadi saksi perjalanan hidup Agnes yang mulai terungkap satu persatu dalam sesi bimbingan rohaninya bersama Toti. Bahkan saat sebuah kenyataan pahit kembali harus dihadapi Anes, kita pun tidak kuasa untuk mengubah jalan hidupnya yang senantiasa dinaungi nasib sial sejak kelahirannya. Para anggota keluarga Agnes dan orang-orang terdekatnya pun tidak luput dari nasib sial tersebut. Sebuah kutukan kah? Atau memang itu sudah garis nasibnya?

Buku ini ditulis berdasarkan kisah tragis Agnes Magnusdottir yang benar-benar terjadi sehingga tidak heran banyak dokumen ditampilkan di setiap pergantian bab. Berbagai fakta yang mendasari penulisan buku ini berhasil dikemas sedemikian rupa oleh Penulis yang akhirnya berhasil menerbitkan buku debutnya ini dan meraih banyak penghargaan karenanya.

Versi terjemahan yang diterbitkan oleh GPU secara kemasan menarik. Kover yang sederhana tidak memberikan kesan semenyeramkan  judulnya. Hanya saja label romance di belakang buku cukup menipu. Memang ada sedikit unsur romance di buku ini, namun kurang pas untuk melabeli buku ini sebagai genre romance. Atau mungkin label itu sengaja disematkan untuk mengabadikan kisah Agnes dan nasib sial-pasangan sejatinya-yang tak berkesudahan itu?

Sekilas tentang penulisan dengan karakter Islandia dan budaya penggunaan nama negara itu sempat dijelaskan di awal buku, menambah informasi pada buku ini. Sayangnya pemilihan huruf dan ukurannya yang cukup mungil rupanya mempengaruhi kecepatan dan membuat mataku mudah lelah sehingga mempengaruhi mood bacaku.

Secara garis besar aku cukup menyukai buku ini meskipun kejutan yang kunanti tidak banyak terjadi karena memang cerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata. Ada kalanya memang hidup berjalan apa adanya, tanpa banyak perubahan berarti yang menuntun kita pada akhir kisah kita masing-masing.

“Aku tidak akan melepaskanmu. Tuhan ada di dekat kita, Agnes. Aku tidak akan pernah melepaskanmu.” Toti. Hlm.400.

Sensasi rasa seusai baca: 3/5

Tentang Penulis:
indexHannah Kent yang lahir pada tahun 1985 adalah seorang penulis berkebangsaan Australia. Kent juga menjadi salah satu pendiri dan wakil editor dari jurnal Kill Your Darlings dan sedang mengambil gelar doktor untuk penulisan kreatif di Flinders University. Pada tahun 2011 dia meraih penghargaan inaugural Writing Australia Unpublished Manuscript Award.

Burial Rites merupakan novel debut pertamanya yang diterbitkan di pada Mei 2013 di Australia, Inggris, dan Kanada. Sebuah film dokumenter tentang pengalaman Kent di Islandia dalam menulis Burial Rites disiarkan di chanel TV ABC1 dalam satu episode berjudul ‘No More Than a Ghost,’ pada 1 Juli 2013.

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Hannah_Kent

Sekilas kata:

Banner_BacaBareng2015-300x187

  • Buku ini merupakah salah satu dari dua buku kado dari SS yang kudapat tahun 2014. Resensinya dibuat dalam rangka posbar Buku SS sebagai laporan pertanggungjawaban kepada Santa yang baik hati telah mewujudukan keinginan kita semua. Yeay, Thank’s, Santa!
  • If you wanna know who’s my SS, please find it in here!

6 thoughts on “Burial Rites-Ritus-Ritus Pemakaman

  1. Pingback: [Wrap Up Post] Lucky No.15 Reading Challenge 2015 | Melihat Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s