Ekspektasi di Januari

Banner_OpiniBareng2015-300x187Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, selain event posbar buku dengan tema yang sudah ditentukan setiap akhir bulan, mulai tahun 2015 ini BBI juga mengadakan posting opini dengan berbagai tema tertentu setiap bulannya. Berbeda dengan posbar yang sudah ditentukan tanggalnya, untuk opini tidak ditentukan tanggalnya, hanya tema per bulan saja.

Untuk tema bulan Januari ini temanya adalah Ekspektasi. Membicarakan ekspekstasi pada sebuah buku tentu saja terkait dengan banyak hal. Mulai dari kover buku, penerbit, penulis, dan sampai dengan-tentu saja-jalan cerita/isi buku itu sendiri yang biasanya diwakili oleh sinopsis di belakang buku.10Kebetulan di bulan Januari ini aku membaca sekitar 10 buku dengan berbagai genre. Delapan dari sepuluh buku itu berupa buku cetak yang sebagian besar adalah buku-buku timbunan yang kulahap demi konsistensi terhadap proyek babat timbunan joglosemar 2015 dan baca buku cetak.

Nah, buku yang kutimbun tentunya adalah buku yang menurutku bagus dan layak dikoleksi karena sejatinya aku dulu membeli buku setelah membacanya terlebih dahulu di persewaan buku langganan. Namun setelah bergabung dengan goodreads dan BBI aku mulai kalap membeli buku sebelum membacanya sehingga akhirnya terus menambah timbunan tanpa sempat membacanya terlebih dahulu. Namun apakah benar buku timbunan itu sebagus yang kuharapkan?

The Casual Vacancy adalah buku bantal pertama yang berhasil kuselesaikan di Januari 2015. Buku karya J.K. Rowling setelah saga Harry Potter ini kovernya sangat sederhana, sebuah tanda X di tengah kotak berlatar merah dengan tepi kuning. Judul dan nama penulisnya dicetak dalam warna putih, kontras dengan warna latar merah tersebut.

Jujur sebagai pengoleksi buku J.K Rowling awalnya aku kurang begitu suka dengan kover TCV ini. Bahkan promosi gencar dari penerbit versi Indonesianya saat perilisannya pertama kali tidak terlalu menggodaku. Aku bahkan cenderung menunggu hingga kehebohannya mereda baru kemudian akan membacanya. Kebetulan buku ini kudapat sebagai kado ulang tahun-nodong sih sebenarnya-di tahun 2013. Mau tidak mau aku harus membacanya untuk menghargai pemberinya-walaupun telat setahun-dan hasilnya tidak mengecewakan sama sekali. I love this book! Even now the cover look elegan for me, he he he.

Cerita TCV terjalin dengan alur yang rapi, menguak seluruh kehidupan penduduk di Pagford, sebuah kota kecil di Inggris yang baru saja kehilangan salah satu anggota dewan yang mereka cintai. Deskripsi yang detail namun tidak membosankan dan khas J.K.R kembali kutemui di buku ini.

Buku ini menurutku cenderung page turner book karena aku jadi tidak sabar mengetahui akhir cerita para penduduk Pagford yang penuh rahasia tersebut. Dan akhirnya ceritanya ini memang memuaskanku. Kubayangkan buku ini dituangkan dalam bentuk visual berupa film seri, pasti akan sangat menarik.

Sementara itu buku karya J.K.R lainnya dengan pseudonim Robert Galbraith, The Cuckoo’s Calling yang kubaca setelah menyelesaikan TCV ternyata tidak langsung membuatku jatuh cinta dengan sang detektif berkaki palsu, Cormoran Strike. Walaupun kovernya menurutku lebih menarik-dengan siluet sang Detektif berlatar belakang warna hijau-cokelat-namun ternyata aku harus berjuang keras untuk menyelesaikannya sejak awal Januari hingga pertengahan bulan yang sama.

Cerita tentang kasus yang ditangani detektif Strike memang masih mengalir dengan berbagai deksripsi mendetail khas J.K.R. Namun alur yang lambat dan pergolakan batin sang Detektif itu yang berlarut-larut itu sendiri cukup mempengaruhi kecepatan bacaku. Berbagai petunjuk yang dimunculkan perlahan dan sempat membuatku bosan. Akhir ceritanya pun tidak semengejutkan cerita detektif sejenis lainnya.

Mungkin memang aku mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan gaya tulisan yang berbeda dari J.K.R. ini. Walaupun sudah menurunkan ekspekstasiku sejak awal seperti saat membaca TCV, namun tetap saja rasanya kurang puas membaca buku pertama Robert Galbraith ini. Kejutan yang kuharapkan di akhir cerita tidak serta merta membuatku terperangah. But I still believe that J.K.R is a good writer, and I’m reading the next book of these series now, hehe.

Beda lagi dengan tiga buku dari karya Alyson Noël. Shimmer, Radiance, dan Dreamland adalah tiga buku dari tetralogi Riley Bloom yang sejak awal menarik perhatianku di toko buku karena kovernya yang cantik, dengan warna-warna yang cenderung kalem dan terkesan dreamy dengan efek berkabut di setiap kovernya. Sekilas sinopsis di belakang bukunya pun cukup menarik sehingga menggodaku untuk mengadopsi mereka segera.

Namun begitu aku tidak serta merta membeli buku ini karena sejak awal ragu-ragu dengan ceritanya, namun godaan harga lebih murah dari sebuah second online book shop akhirnya meluluhkanku juga. Tiga buku pertama aku beli bersamaan sementara buku keempat aku dapatkan sebagai salah satu buku dari timbunan kado arisan Joglosemar tahun 2014.

Kisah Riley Bloom yang sebenarnya ditujukan untuk anak-anak atau pra remaja ini terasa sangat ringan untukku. Konsep yang ditawarkan memang agak tidak biasa karena menyangkut dunia setelah kematian yang digambarkan tidak seperti biasanya. Bumbu pergulatan batin sang tokoh utama pun tertuang dengan baik dimana Riley Bloom, cewek ABG berumur dua belas tahun digambarkan penuh rasa ingin tahu, keras kepala, dan kutemukan cukup menjengkelkan di buku ketiga.

Karena belum membaca buku keempat, aku masih belum tahu akhir dari tetralogi ini. Namun begitu aku rasa ceritanya tidak akan jauh berbeda dari ketiga pertamanya yang tidak terlalu bagus dan juga tidak terlalu jelek. Cukup layak dikoleksi-lah ^^

06c74cb4751bffacd9a2e3c52f0b3c7e

Sumber gambar: goodreads.com

Sementara itu buku kedua yang aku dapat dari event SS 2014, Lockwood & Co. #1: The Screaming Staircase dari Jonathan Stroud ternyata memang semenarik kovernya yang seram-seram bagaimana itu. Jujur, siapa tidak bergidik ketika pertama melihat kover buku di samping ini? Apalagi bagi yang tidak sadar dan langsung membukanya begitu saja. Voila, setidaknya kamu akan berjenggit sejenak dan bilang…”Aduh, bikin kaget.”

Dari segi ceritanya sendiri buku ini menawarkan kisah pembasmi hantu yang dari kalangan anak-anak pra remaja. Mereka semua berkemampuan supranatural dan harus menghadapi para hantu ganas yang tengah mewabah di Inggris. Hmm, sounds good right?

Well, nama besar Jonathan Stroud yang terkenal karena Trilogi Barty memang menjadi salah satu alasanku memasukkan buku ini ke dalam wishlist SS 2014. Terlebih banyak teman pencinta buku yang mengatakan buku ini bagus. Ternyata memang setelah membacanya, buku ini sesuai ekspektasiku walaupun aku sudah bisa menebak mau dibawa kemana ceritanya setelah terlalu banyak membaca buku detektif ^^.

Dari buku-buku yang kubaca di bulan Januari ini rata-rata memang memenuhi ekspektasi awalku. Walaupun tidak terlalu sesuai ekspektasi, setidaknya tidak sampai membuatku langsung memberinya dua bintang tanda aku tidak menyukainya. Ini berarti buku-buku dari timbunanku cukup layak baca dan dikoleksi ya.

Well, what about you? Have you ever read books so good beyond your expectation? Or in the contrary you disappointed by its story even though it’s from your favorite famous author?

One thought on “Ekspektasi di Januari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s