Tokoh Utama yang Dicinta dan Dibenci

Banner_OpiniBareng2015-300x187Membaca sebuah buku tentu saja akan membuat kita menemukan banyak tokoh di dalamnya dengan tokoh utama sebagai pusat cerita. Seringkali kita begitu mencintai tokoh utama dalam sebuah buku sehingga membuat kita terpikat dan menyukai segala hal yang tokoh utama itu lakukan, entah itu bagus atau buruk. Namun tidak jarang juga kita tidak menyukai tokoh utama, atau malah membencinya di sepanjang certa sehingga setiap perbuatannya kita anggap buruk. Nah, seperti apa tokoh utama yang aku suka dan aku benci?

Saat membaca sebuah buku, aku cenderung menyukai tokoh utama pria atau wantia yang berkarakter kuat, tegar, dan tidak mudah putus asa. Akan lebih baik jika tokoh utama itu manusiawi, dalam arti mempunyai kekurangan dan kelemahan tertentu yang menyebabkannya jadi tidak sempurna tanpa cela. Tokoh utama yang ideal menurutku adalah tokoh utama yang mampu membuat pembaca terhubung dan merasa menjadi bagian dalam cerita yang dibacanya.

Abaikan perdebatan soal good guy vs bad guy, selama penulisnya mampu menghidupkan karakter tokoh utama dengan baik, seburuk dan sebandel apapun pria tokoh utama, ketika perbuatannya itu beralasan dan sejalan dengan cerita di dalam bukunya, aku akan sangat menyukainya. Namun memang tidak bisa dipungkiri bahwa rata-rata tokoh utama pria di dalam buku itu cenderung bertipe good guy dengan sedikit kebandelan yang menyebabkan sang tokoh wanita menyukai mereka. Hal ini tidak hanya terjadi dalam novel romance, dalam novel detektif pun sang tokoh utama tentu saja good guy yang mencari kebenaran dalam setiap kasusnya, sebandel apapun mereka.

Tokoh utama wanita yang berkarakter kuat dan pantang menyerah yang kusukai adalah Katniss dari the Hunger Games. Segala pengorbanannya untuk mengikuti permainan mematikan dari orang-orang Capitol itu didasari oleh pemikiran untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik untuk keluarga dan para sahabatnya. Kegalauan Katniss di Mockingjay terjadi karena sebagai seorang remaja dia harus berhadapan dengan musuh besar dengan perasaan pribadi yang harus dia kesampingkan demi perjuangannya menyambung hidup. What a tough girl!

Sementara itu, kadang kala tokoh utama dalam sebuah cerita membuat kita membenci mereka, atau setidaknya tidak menyukai mereka. Biasanya yang kurang kusukai adalah tokoh utama yang cenderung serba sempurna tanpa cela yang terasa tidak realisitis. Namun jangan salah, aku juga tidak terlalu menyukai tokoh utama dengan sangat banyak kekurangan dalam arti labil, rapuh, selalu tergantung pada orang lain, dan cenderung mengasihani diri sendiri.

FYI, entah mengapa biasanya tokoh yang kurang kusukai itu kebanyakan menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal. Bagi beberapa orang mungkin merasa bahwa sudut pandang orang pertama tunggal mendekatkan pembaca dengan tokoh cerita karena seakan pembaca mengalami sendiri kisah di dalam buku. Namun jujur aku kurang menyukainya karena cerita hanya bisa didengar dari satu pihak saja.

Kuperhatikan akhir-akhir ini para tokoh utama bersudut pandang orang pertama itu muncul dalam cerita young adults dan novel ero-omance, dimana tokoh utamanya yang kebanyakan wanita yang mengalami dilema tak berkesudahan dan bimbang menentukan pilihan yang disandingkan dengan pria serba sempurna yang seakan jauh di atas jangkauan si wanita itu. Memang sih kadang kala sang Penulis menuangkan semua idealismenya untuk menciptakan tokoh pria sempurna yang menjadi fantasinya, namun itu akan terasa membosankan jika pembaca berulang kali menemukan karakter tokoh utama dengan pola cerita yang mirip.

Kebencianku pada karakter tokoh utama yang akan bertambah parah ketika dia mengalami cinta segitiga yang tidak berkesudahan dan si tokoh utama itu tidak tahu bagaimana perasaannya sendiri dan berdiri di atas dua perahu *istilah apa ini*. Duh, ingin segera menggampar si tokoh utaman dan menutup bukunya begitu saja kalau begini ini.

No offense to her fans, Bella Swan from Twilight Saga adalah contoh tokoh utama wanita yang aku benci. Sejak awal cerita kita menemukan tokoh wanita yang memandang dunia dengan pikiran negatif, merasa dirinya banyak kekurangan, hancur luluh tanpa pegangan hidup ketika kehilangan pria yang dicintainya, bingung dengan perasaannya sendiri terhadap dua pria yang mencintainya, dan akhirnya meninggalkan dunia manusia yang dibencinya itu untuk menjadi vampir. Fyuh, ini tentu saja bukan contoh tokoh utama yang akan kusukai, namun sayangnya pola karakter ala Bella Swan ini semakin banyak ditemukan dalam cerita masa kini, hu hu hu.

Dalam waktu dua bulan ini aku berhasil menyelesaikan dua buku Cormoran Strike saga dimana sang tokoh utama mengalami kegalauan luar biasa sejak ditinggal tunangannya. Jujur aku merasa sangat berat dan cukup frustasi saat membacanya karena sang detektif ini sering digambarkan memandang negatif orang-orang dan kehidupan di sekitarnya. Untunglah masih ada kasus yang harus diungkapkan sang detektif sehingga kegalauan dan pandangan negatifnya itu dapat aku abaikan sampai akhir cerita.

Nah, tokoh utama yang seperti apa sih yang kalian sukai atau kalian benci?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s