Playing Around with Romance Day 2: Top Romance Authors

banner fixDari sekian banyak penulis buku dengan genre romance yang sudah aku baca, aku punya beberapa orang penulis favorit yang hampir sebagian besar karyanya pasti aku baca dan aku koleksi beberapa buku yang aku suka. Kali ini cukup aku sebutkan lima orang penulis romance favoritku ya. 

Lisa Kleypas

Aku mengenal Lisa Kleypas sejak genre historical romance mulai diperkenalkan kepada pembaca di Indonesia. Wallflowers series karyanya sepertinya menjadi koleksi wajib pencinta genre tersebut. Percintaan sang tokoh utama dibumbui campur tangan orang tua terkait mas kawin besar dan harta warisan menjadi tema yang jamak ditemukan dalam cerita historical romance. Perjodohan paksa yang saling menguntungkan dengan banyak pesta dansa yang diselenggarakan dan kekhawatiran terlambat menikah seakan menjadi ciri khas kisah cinta yang sebagian besar bersetting di Inggris itu.

Karya-karya Lisa Kleypas seperti Wallflowers series atau the Hathaways series pun memuat cerita yang sama. Namun begitu penulis yang satu ini pun menulis kisah contemporary romance dengan setting cerita di masa kini seperti Friday Harboir series. Aku menikmati karya-karya Lisa Kleypas, namun sampai saat ini belum ada satupun bukunya yang aku miliki. Mungkin ada yang ingin menghibahiku Wallflowers series atau the Hathaways series? #kodeapaini

Walaupun begitu, karena aku ini pelanggan setia persewaan buku, sebagian besar buku terjemahan karya Lisa Kleypas sudah kubaca dan aku cukup menyukainya. Saat mengecek rak goodreads.com, kutemukan fakta bahwa aku telah membaca sekitar 30 buku karya Lisa Kleypas, sebuah pencapaian yang cukup untuk memasukkannya ke dalam daftar ini kan? Lagipula dia juga sukses membuatku beberapa kali jatuh cinta dengan beberapa tokoh pria ciptaannya. Well, a girl can dream about her prince charming, right?

Catherine Anderson

Penulis yang satu ini terkenal dengan karakter tokoh utamanya yang serba tidak sempurna. Bahkan tokoh utama pria-nya pun seringkali punya banyak kelemahan, membuatnya tampak manusia dan tidak tak terjangkau seperti sebagian besar gambaran tokoh pria dalam cerita romance lainnya. That’s why I lover her books. Catherine Anderson menulis contemporary romance dan historical-western romance seperti Keegan Paxton Family Series dan juga Kendrick/Coulter series.

Buku karya Catherine Anderson yang pertama kali kubaca adalah Comanche Moon, buku pertama dari tetralogi Comanche series. Walaupun jujur versi terjemahannya sangat membuatku sakit kepala saat membacanya karena selain hurufnya kecil-kecil, banyak pilihan kata yang terasa kurang luwes terjemahannya, namun entah kenapa cerita cinta dari dua ras manusia yang berbeda ini menarik hatiku untuk melanjutkannya ke tiga buku selanjutnya. Mungkin karena setting cerita adalah western romance yang melibatkan koboi dan suku Indian, banyak konflik dan isu di dalam cerita, serta indahnya kisah cinta kedua tokoh utama itu sendiri. Well, walaupun ketiga buku lanjutannya tidak semenarik Comanche Moon, namun setiap melihat nama Catherine Anderson di koleksi persewaan langgananku aku lagi-lagi langsung terpikat dan meminjamnya.

FYI, sub genre yang menjadi minatku untuk posbar grup romance nanti adalah western romance, jadi saat ini aku sedang berkubang dengan karya-karya penulis western romance termasuk Catherine Andeson untuk dapat menceritakan lebih lanjut tentang sub genre ini. So, don’t miss my next review, ok?

Julia Quinn

Penulis bernama asli Julie Colter ini terkenal dengan humor yang dimunculkan di dalam karya-karyanya, historical romance. Buku karyanya yang pertama kali aku baca adalah seri The Two Dukes of Wyndham yang entah kenapa tidak terlalu aku sukai. Aku baru jatuh cinta setengah mati pada karyanya dalam seri the Bridgertons Family sejak aku membaca buku ketiganya, An Offer from A Gentleman.

Blame me for my romantic heart, cerita modifikasi kisah Cinderella dengan ibu dan saudara tiri itu membuatku penasaran ingin membaca buku pertama dan keduanya. Terlebih sang tokoh utama pria hobi melukis dan salah satu adegan favoritku adalah saat sang tokoh pria menyadari siapa tokoh wanita yang selama ini dicarinya secara tanpa sengaja dan melibatkan .

Karena persewaan langgananku tidak punya dua buku pertamanya, akhirnya aku memberanikan diri memesannya melalui inibuku.com, my first ever online book shop purchase! Walau buku pertama tidak terlalu kusukai, namun buku kedua menjadi favoritku yang kedua dengan adegan tipuan tersengat lebah di taman itu *ahem*. Rasa ingin tahuku tentang kisah Bridgerton bersaudara lainnya membuatku mengoleksi the Bridgertons series dengan lengkap hingga ke buku tambahannya yang versi terjemahannya baru terbit di tahun 2014.

Sayang sekali buku karya Julia Quinn lainnya seperti the Lyndon series dan The Smythe-Smith Quartet series tidak terlalu membuatku tergoda kembali untuk mengoleksinya. Namun begitu ketika di persewaan langgananku kutemukan judul baru dari Julia Quinn, bisa dipastikan aku langsung meminjamnya. Everybody need some joke in her romance life, right?

Sandra Brown

Aku pertama kali mengenal karya Sandra Brown saat duduk di bangku SMA. Saat itu tanpa sengaja aku menemukan bukunya dalam line Harlequin di persewaan buku langgananku. Karena memang menggemari cerita romance, aku memberanikan diri meminjam bukunya yang berjudul Two Alone. Entah kenapa nbuku tersebut tidak terlalu menarik minatku, apalagi buku yang aku baca termasuk buku cacat karena ada beberapa halaman yang hilang menjelang akhir cerita! Duh, bete sekali aku waktu itu.

Namun karena di persewaan itu ada buku karya Sandra Brown yang lain, aku coba membaca judul lainnya, the Devi. Nah, yang benar-benar memikatku adalah the Devil’s Own yang menceritakan perjuangan seorang wanita di pedalaman hutan di Amerika Selatan untuk menyelamatkan anak-anak korban perang saudara dengan bantuan seorang fotografer jurnalis. Selain karena tokoh wanitanya tegar dan memegang prinsip serta berhasil membuat sang tokoh pria terpikat dengan dedikasi dan kemauan kerasnya, sebuah rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh sang tokoh wanita membuatku semakin menyukainya.

Ada kejadian lucu dengan the Devil’s Own dimana karena saat SMA aku hanya cumi rental, aku tidak bisa membeli buku favoritku tersebut. Nah, kemudian aku tidak kehabisan akal, ketika buku ini benar-benar tidak bisa kutemukan lagi keberadaannya, dengan iseng aku scan seluruh halamannya dan mengetiknya ulang di mword! Perilaku membajak untuk konsumsi pribadi ini terpaksa aku hentikan di tengah jalan karena ternyata terlewat dua halaman yang tidak ter-scan, hu hu hu. Untunglah di pertengahan tahun 2000an sekian (aku lupa tepatnya kapan) GPU menerbitkan ulang beberapa buku karya Sandra Brown termasuk the Devil’s Own! Yay, akhirnya aku bisa mengoleksinya lagi walaupun entah kenapa aku mendapat buku cacat yang beberapa halamannya tertukar #garukpapantulis But that’s ok, at least I finally had it for myself! Yay!

The Devil’s Own aku kukoleksi bersama the Honour Bound (ya, I love western love story) dan the Envy. Sebagian besar buku karya Sandra Brown yang kusukai adalah buku karyanya yang bergenre romance suspense/thriller dimana selain kisah cinta antara kedua tokoh utamanya, ada peristiwa kriminal atau kasus yang harus dipecahkan dalam kisah tersebut. Buku pure romance yang ditulis Sandra Brown di awal karirnya menurutku terlalu biasa dengan pola khas tarik ulur standar cerita romance.

Selain menulis dengan nama Sandra Brown, penulis kelahiran Waco, Texas ini juga menulis dengan menggunakan nama samaran Laura Jordan, Rachel Ryan, Erin St. Claire untuk beberapa karyanya. Mantan penyiar berita cuaca di WFAA-TV ini sudah mulai menulis pada tahun 1981, menulis lebih dari 65 buku dan sudah diterjemahkan ke dalam 33 bahasa. Beberapa bukunya telah dibuat versi film televisinya seperti French Silk dan Smoke Screen.

FYI, terjemahan buku karya Sandra Brown yang berjudul Deadline sudah terbit lho. Menilik dari sinopsisnya sih sepertinya akan menarik. Walau buku-buku bergenre romance suspense/thrillersnya yang diterbitkan oleh GPU akhir-akhir ini juga hampir selalu bisa kutebak akhirnya, namun tetap saja aku menunggu untuk membaca Deadline. I hope it’s a worth waiting book from her to read.

Nicholas Sparks

Seperti yang pernah aku sebutkan di post Playing Around with Romance Day 1, penulis ini menarik perhatianku sejak kutemukan Message in A Bottle di-lagi-lagi-persewaan buku langgananku dan memberikan akhir yang berbeda dari kisah romance lainnya. Aku menjadi kolektor buku-buku romance tear-jerker ala Nicholas Sparks sejak aku masih SMA. Sebagian besar koleksiku adalah buku-buku terjemahannya dan kemudian merambah ke beberapa buku versi asli karena belum ada terjemahan Indonesia-nya. Bahkan di rak bukuku pun ada satu ruang khusus untuk menimbun, eh, mengoleksi buku-buku karya Nicholas Sparks.

Buku karya Nicholas Sparks memang tidak semuanya spektakuler, bahkan ada yang mengatakan bahwa buku-bukunya itu isinya gampang ditebak, cinta yang terhalang dan hampir semuanya berakhir dengan tidak bahagia. Bagi sebagian besar pencinta kisah romantis dengan happy ending, mereka tidak akan menyentuh buku karya penulis ini karena tidak ingin sakit hati setelah mengikuti kisah cinta di sepanjang buku. Pernyataan Nicholas Sparks bahwa beberapa penulis romance terjebak untuk menuliskan kisah cinta yang cenderung sama pun mendapat kritikan dan sempat dijadikan meme dengan mengaitkannya dengan adaptasi film dari buku-bukku karya Nicholas Sparks

Hampir seluruh buku romance karya Nicholas Sparks diadaptasi menjadi film, yaitu sebanyak sembilan buku. Yang fenomenal tentu saja A Walk to Remember dan the Notebook yang booming di tahun 2000-an. Bahkan ada istilah notebooked untuk para pria yang berhasil diajak menonton the Notebook oleh kekasihnya.

Sama seperti buku karya-karyanya, film adaptasi dari cerita cinta khas Nicholas Sparks juga mendapat kritik karena kesamaan poster-poster filmnya dan banyak yang merasa tidak nyaman dengan betapa cepatnya sebuah buku diadaptasi menjadi film. Namun hal ini tidak menyebabkan para fans karya Nicholas Sparks untuk berhenti membaca karya-karyanya. For me it’s ok if the book is made into a movie, as long as the actor or actress are good looking or fit well with the characters, ho ho ho.

Yak, itulah lima orang penulis romance favoritku dimana hanya ada satu pria di dalam daftar ini. Memang tidak ada penulis romance Indonesia walaupun buku romance yang kubaca pertama kali adalah karya penulis lokal. Mungkin jika kelak kutemukan penulis romance Indonesia yang selalu membuatku menunggu karya-karyanya aku akan memasukkannya ke dalam daftar penulis favoritku.

Jadi, siapakah penulis favorit kalian? Terutama sih penulis genre romance ya:”)

Temukan juga post dengan tema yang sama dari para anggota grup romance lainnya di linky di bawah ini ya.

9 thoughts on “Playing Around with Romance Day 2: Top Romance Authors

  1. akhirnya ada yang nyebut nicholas sparks! lainnya kebanyakan aku kurang familier *merasa salah genre*
    iya sparks memang sudah punya ramuan sendiri ya buat buku-bukunya. Aku termasuk safe reader sih jadi nyaman-nyaman aja sama buku-bukunya Sparks. Hehe

  2. Aaakkk…. Semua yang ditulis Danee itu juga favoritku. Walaupun si Nic Sparks suka bikin cerita yang endingnya mewek gak karuan tapi tetep juga aku favorit sama dia.

  3. waduh. author luar semua ya. eke nggak gitu paham hehe. beberapa di antara mereka namanya udah nggak asing lagi, tapi cuma sekedar tahu, belum kenal bener gimana bukunya mereka. kalo mr sparks, eke udah tahu banget. apalagi novel-novelnya selalu jadi rebutan para PH untuk diangkat jadi novel. nggak nyalahinnya sih, emang pada cucok isinya hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s