Burned Alive

9793064269-mediumDetail buku:
Judul asli: Burned Alive
Penulis: Souad
Penerjemah: Khairil Azhar
Editor: Aisyah
Penerbit: Pustaka Alvabet
Tebal: 296 hlm
Cetakan 3, September 2006
ISBN: 979-3064-26-9

Sinopsis:
https://www.goodreads.com/book/show/1338871.Burned_Alive

Resensi:
Buku ini secara garis besar menceritakan tentang perjuangan seorang wanita untuk hidup tanpa diskriminasi terkait gender. Diskrimisasi terjadi atas nama tradisi yang tertanam kuat di dalam kehidupan masyrakat Tepi Barat.

Adalah Souad, puteri ketiga dari sebuah keluarga pekerja keras, yang harus menyaksikan dan mengalami sendiri diskrimisi yang terjadi di daerahnya. Laki-laki memiliki hak yang terkesan tanpa batas. Mereka banyak melakukan tindakan kekerasan kepada istrinya, terutama ketika sang Istri tidak melahirkan seorang bayi laki-laki. Laki-laki diagung-agungkan dan bisa berbuat seuka hati mereka atas nama tradisi.

Sementara itu anak perempuan yang baru lahir dianggap mengecewakan dan tidak jarang malah dilenyapkan. Kalaupun bayi-bayi itu hidup, hak mereka untuk mendapatkan wawasan luas melalui pendidikan tidak akan pernah mereka dapatkan, mereka akan selamanya buta huruf.

Souad menceritakan kembali kisah hidupnya yang harus mengalami pembakaran hidup-hidup oleh keluarganya sendiri. Alasan apa yang membuat keluarganya tega melakukannya? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena Souad melakukan hubungan di luar pernikahan yang menyebabkan aib bagi keluarganya. Keluarga Souad tidak segan menghabisi nyawanya daripada kehilangan kepercayaan masyarakat tempat mereka tinggal.

Pada saat Souad kehilangan harapan, datanglah Jaquelline, seorang wanita Eropa yang membantunya meninggalkan segala bentuk memori burukdrngan membawanya berobat ke Swiss. Di negara inilah Souad menemukan arti kebebasan yang selama ini dicarinya. Dia mulai belajar bahasa baru dan menjalani berbagai perawatan dokter untuk memulihkan luka-luka bakar di sekujur tubuhnya.

Peristiwa pembakaran hidup-hidup yang dialami Souad memang telah melanggar hak wanita itu untuk hidup merdeka. Budaya patriarki berbalut tindak kekerasan yang diwariskan turun temurun pun seharusnya diberantas. Namun Souad sendiri telah melanggar norma agama dan masyarakat dengan menjalin hubungan di luar pernikahan yang menyebabkannya hamil. Padahal dia sudah tahu pasti risikonya.

Tindakan bebas tersebut tentu saja menjadi bumerang untuknya. Usianya yang masih muda tanpa wawasan cukup telah menyebabkan Souad mabuk asmara dan dengan mudahnya terjebak dalam godaan pria. Di sini terlihat betapa pentingnya pendidikan dan pemberantasan buta huruf.

Ketika mendapatkan kebebasan untuk hidup sesuai dengan keinginannya, Souad sempat menjalani hubungan tanpa pernikahan sebelum akhirnya menikahi pria yang menjadi kekasihnya tersebut. Salah satu tindakan pengulangan atas dasar cinta dan hak untuk memilih pasangan hidup yang selama ini diimpikannya.

Souad berulang kali membandingkan negara asalnya dengan negara Eropa yang memberikan kebebasan bagi para wanita untuk lebih mengekspresikan mereka. Di satu sisi hal itu memang benar, namun di sisi lain ada nila-nilai masyarakat dan agama yang sepertinya Souad lupakan.

Buku ini menimbulkan pro dan kontra dimana ada yang menganggap bahwa kisah Souad fiktif, mengada-ada, dan diboncengi unsur politik dan agama. Namun di luar hal tersebut, seperti yang Souad inginkan, dia menulis buku tentang masa lalunya yang kelam dengan harapan akan ada perhatian khusus pada tindak pelanggaran hak asasi manusia kepada para wanita di Tepi Barat.

Sensasi rasa yang tertinggal: 3/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s