Perfect Pain

27623942Detail buku:
Penulis: Anggun Prameswari
Editor: Jia Effendie
Penyelaras aksara: Tesara Rafiantika
Penata letak: Gita Ramayunda
Desainer sampul: Levina Lesmana
Penerbit: GagasMedia
Tebal: 316 hlm
Cetakan: 2015
ISBN: 979-780-840-8

Sinopsis:

Sayang, menurutmu apa itu cinta? Mungkin beragam jawab akan kau dapati. Bisa jadi itu tentang laki-laki yang melindungi. Atau malah tentang bekas luka dalam hati-hati yang berani mencintai.

Maukah kau menyimak, Sayang? Kuceritakan kepadamu perihal luka-luka yang mudah tersembuhkan. Namun, kau akan jumpai pula luka yang selamanya terpatri. Menjadi pengingat bahwa dalam mencintai, juga ada melukai.

Jika bahagia yang kau cari, kau perlu tahu. Sudahkah kau mencintai dirimu sendiri, sebelum melabuhkan hati? Memaafkan tak pernah mudah, Sayang. Karena sejatinya cinta tidak menyakiti.

Resensi:
Adalah Bidara, alias Bi, seorang ibu rumah tangga dengan seorang putera berusia dua belas tahun bernama Karel, yang selama menikah dengan suaminya, Bramawira Aksara, mengalami KDRT tanpa pernah melakukan perlawanan sama sekali. Menyedihkan sekali bukan, bagaimana bisa Bi bisa tahan menghadapi semua perlakukan suaminya tersebut? Apa dia sama sekali tidak punya keinginan untuk hidup bahagia? Apa tidak ada yang tahu tentang semua perlakuan suaminya itu? Pertanyaan seperti inilah yang muncul ketika Bram berulang kali main tangan kepada Bi.

Namun, seperti banyaknya kasus KDRT yang terjadi, ketidakberdayaan Bi untuk membela diri cukup beralasan. Tumbuh besar dalam tekanan ekspektasi berlebih dan kekecewaan sang ayah yang selalu merendahkan dan menyalahkannya, Bi tumbuh menjadi pribadi yang kurang percaya diri dan merasa tidak dicintai. Ketika muncul sosok Bram yang memujanya dan meyakinkan bahwa dirinyalah satu-satunya orang yang mencintai dan bisa membuat Bi bahagia, wanita itu mengambil keputusan terberani dalam hidupnya sekaligus menentang ayahnya.

“Jangan jadikan orang lain alasanmu bahagia atau sedih. Pada dasarnya manusia itu sendiri. Kita lahir sendiri, mati juga sendiri. Jadi, jangan takut pada kesendirian.” hlm. 91.

Siapa sangka keputusan Bi untuk menikahi orang yang mencintainya itu berubah menjadi mimpi buruk di kemudian hari. Bram berubah sosok yang menjadikan istrinya sebagai pelampiasan kemarahannya namun sekaligus meminta belas kasihan dan perhatian berlebih dari Bi usai melalukan tindakan kekerasan. Bi pun berulang kali luluh lantak setiap mendengar permintaan maaf dan permohonan suaminya tersebut. Hanya rasa sayangnya kepada Karel-lah yang membuat Bi bertahan hidup dengan Bram. Ketika pada satu titik Bram hilang kendali dan menyakiti Karel, Bi sudah tidak tahan lagi. Dia melarikan diri bersama Karel.

Pelarian Bi dan Karel tidak serta merta menghentikan Bram. Kedua orang tua yang diharapkan Bi untuk melindunginya malah memberikan peluang kepada sang suami untuk mendekatinya. Dalam keputusasaan itulah muncul sosok Sindhu Sundoro, seorang pengacara yang sekaligus pacar Miss Elena, guru kelas Karel. Sindhu-lah yang nantinya berperan penting dalam menguatkan Bi dan membantunya melepaskan diri dari cengkeraman emosi tidak stabil dan rasa posesif Bram.

“Ada hal-hal yang begitu indah, tapi hanya bisa dikenang. Sejauh apapun kita berusaha menghidupkannya kembali, nggak akan pernah bisa.” hlm. 175.

Meski awalnya enggan meninggalkan Bram, namun Sindhu berhasil mempengaruhi Bi untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Pengacara ini membawa Bi ke Rumah Puan, sebuah rumah singgah yang menampung perempuan yang membutuhkan tempat tinggal sementara. Di tempat ini Bi mengenal Bunda Roem, pendiri Rumah Puan yang sekaligus mendampingi para perempuan korban kekerasan, Ceu Mona sang penjaga Rumah Puan, dan Lola Bonita, seorang penyanyi dangdut terkenal yang sama-sama menjadi korban kekerasan seperti halnya Bi. Di Rumah Puan inilah Bi mendapatkan kekuatan dari para korban kekerasan lainnya, meyakinkannya untuk lebih menghargai dirinya sendiri, dan menggali potensi diri yang selama ini tidak disadarinya.

Tindakan Sindhu membantu Bi ternyata dilandasi pengalaman masa lalunya yang cukup kelam yang menyebabkannya lebih aware terhadap tindakan KDRT dan sekaligus membantu para korban untuk hidup lebih baik. Sementara itu sikap Sindhu yang protektif kepada Karel membuat anak itu nyaman berada di dekatnya dimana bocah kecil itu seperti menemukan sosok ayah ideal yang dirindukannya. Hal ini pulalah yang menyebabkan Sindhu dan Bi menjadi dekat. Konflik pun terjadi ketika Miss Elena merasa cemburu dengan kedekatan keduanya. Dan Bi dalam persimpangan ketika Bram menghubunginya kembali dalam keadaan lemah tak berdaya. Keputusan yang Bi ambil nantinya harus dibayar mahal karena membahayakan Karel dan hidupnya sendiri.

“Perempuan-perempuan korban kekerasan selalu kembali dalam lingkaran yang sama, walau sudah berhasil ditolong. Alasannya macam-macam. Cinta. Kasihan. Ekonomi. Anak.” hlm.145.

Ngilu. Hanya satu kata ini yang bisa kupilih sebagai ungkapan rasaku selama membaca buku ini. Bagaimana tidak, sejak bab pertama saja sudah disajikan adegan KDRT yang menjadi ide dasar Perfect Pain. Sebagai seorang wanita, sungguh sakit rasanya membaca bagaimana Bi diperlakukan seakan-akan tidak berharga.

Berbagai informasi terkait seluk beluk KDRT tersaji cukup detail di dalam buku ini, seperti perlunya support orang-orang terdekat terhadap korban tindak kekerasan, keberadaan rumah singgah yang mau menampung si korban, dan perlunya memunculkan rasa percaya diri dan meyakinkan si korban agar mau mengambil keputusan drastis untuk lepas dari ketergantungan kepada pelaku tindak kekerasan. Berbagai pelatihan keterampilan dan kursus bela diri pun diberikan sebagai bekal agar para korban KDRT dapat hidup mandiri dan mampu menanggulangi kejadian yang sama di kemudian hari.

“Maafkan dulu semua yang menyakitimu. Maafkan juga dirimu sendiri karena selama ini membiarkan dirimu disakiti.” hlm. 205.

Buku ini memberikan definisi arti sakit yang sempurna. Kesakitan karena cinta yang berlebihan dan sikap posesif dari si pelaku tindak kekerasan kepada para korbannya. Dan juga sakit karena cinta yang buta dari para korban tersebut kepada pelaku tindak kekerasan itu sendiri. Untuk memutuskan mata rantai ketergantungan itu, para korban harus menemukan akar permasalahan rasa tidak percaya dirinya dan mau melepaskan semua beban tersebut serta mengambil langkah berani untuk meraih kebahagiannya.

“Ada yang dahsyat dari sebuah maaf. Meluruhkan kemarahan, Membasuh habis kesedihan.” hlm. 310.

Buku ini wajib dibaca oleh siapa saja yang ingin mengenal lebih jauh tentang romance depresi, kisah keluarga dengan segala konflik di dalamnya, dan bagaimana hubungan antar manusia saling terjalin dan mempengaruhi satu sama lain. Stop kekerasan terhadap perempuan dan anak!

Sensasi rasa seusai baca: 4/5

3 thoughts on “Perfect Pain

  1. Pingback: [Wrap Up Post] Lucky No.15 Reading Challenge 2015 | Melihat Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s