American Gods – Dewa-Dewa Amerika

13425969Detail buku:
Judul asli: American Gods
Penulis: Neil Gaiman
Penerjemah: Lulu Wijaya & Ariyantri E. Tarman
Editor: Ariyantri E. Tarman
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Januari, 2012
Tebal: 784 hlm
ISBN: 978-979-22-7891-0

Sinopsis:

Badai akan datang…

Menjalani masa hukuman tiga tahun di penjara, Shadow melalui hari-harinya dengan tenang, menunggu dengan sabar hari ketika dia bisa kembali ke Eagle Point, Indiana. Pria yang tidak lagi takut akan yang mungkin terjadi esok, yang dia inginkan hanyalah kembali bersama dengan Laura, istri yang sangat dia cintai, dan memulai kehidupan baru.

Tetapi beberapa hari sebelum dia dibebaskan, Laura dan sahabat Shadow tewas dalam kecelakaan mobil. Hidupnya berantakan dan kehilangan arah, Shadow memutuskan untuk menerima pekerjaan dari orang asing yang memesona yang Shadow temui dalam perjalanan pulang. Pria misterius itu menamakan dirinya Mr. Wednesday, yang sepertinya lebih memahami Shadow daripada dirinya sendiri.

Kehidupan sebagai pelindung, sopir, dan pesuruh Wednesday ternyata lebih menarik dan berbahaya daripada yang dibayangkan Shadow––pekerjaan ini membawanya melalui perjalanan gelap dan aneh dan memperkenalkannya kepada karakter-karakter eksentrik dengan takdir yang bertautan dengan takdir Shadow sendiri. Shadow belajar bahwa masa lalu tidak pernah mati; bahwa semua orang, termasuk Laura yang dia cintai, menyimpan rahasia; dan bahwa mimpi, totem, legenda, dan mitos sebenarnya lebih nyata daripada yang kita ketahui. Puncaknya, dia akan menemukan di balik permukaan tenang kehidupan sehari-hari, ada badai datang––dan peperangan epik untuk jiwa Amerika––dan dia berdiri di tengah-tengah semua itu.

Resensi:

Kau beruntung, ada seseorang yang menantimu di rumah, ada pekerjaan lain yang menunggu. Kau bisa melupakan ini semua. Kau mendapat kesempatan kedua. Manfaatkan sebaik-baiknya. Hlm 28.

Kesempatan kedua, itulah yang ingin Shadow dapatkan setelah selesai menjalani masa hukuman tiga tahun di penjara. Istri dan pekerjaan baru menantinya sekeluarnya dari penjara. Namun Shadow terpaksa harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan Laura, istrinya dalam sebuah kecelakaan. Kecelakaan tersebut sekaligus membuka sebuah rahasia yang disembunyikan Laura selama Shadow berada di penjara.

Dalam keterpurukannya itulah Shadow akhirnya mau menerima tawaran pekerjaan dari seorang pria bermata satu yang dia temui saat kembali ke Eagle Point untuk pemakaman Laura. Pria yang kemudian dia panggil Mr. Wednesday itu menawarkan pekerjaan yang masih dirahasiakannya sampai beberapa waktu lamanya.

Mr. Wednesday mengajak Shadow bertemu para kenalannya, seperti Czernobog dan tiga bersaudara Zorya dimana Zorya terakhir ini memberikan tanda mata berupa koin perak yang nantinya berperan cukup penting dalam pertualangan Shadow di kemudian hari. Dia juga bertemu dengan Mad Sweeney yang memberikan pengetahuan baru tentang trik koin yang rumit padanya.

Kehidupan Shadow sendiri selama tiga tahun berada di penjara pun tidak lepas dari koin. Dia mendapatkan peninggalan buku Herodotus berisi beberapa koin dari Low Key Liesmith, seorang penipu dari Minnesota yang merupakan teman satu selnya. Koin merupakan barang terlarang di penjara karena bisa dijadikan sebagai senjata, namun Shadow hanya memenginginkan sesuatu untuk dimainkan dengan tangannya. Trik tipuan koin ini nantinya menjadi keahlian yang Shadow manfaatkan dalam petualangannya bersama Mr. Wednesday.

Waktu dan kereta api tidak pernah menunggu siapapun. hlm. 316

Pekerjaan yang ditawarkan Wednesday ternyata membuat Shadow kembali harus berhubungan dengan polisi kembali, yang tentu saja bukan polisi biasa-seperti para orang baru yang ditemuinya. Mulai dari Mr. Stone, Mr. Wood, dan juga nantinya Mr. Town, dan Mr. City.

Berhasil menyelamatkan diri dengan bantuan orang yang tidak disangkanya, Shadow kemudian bekerja dengan Ibis dan Jaquel di serbuah rumah duka, yang lagi-lagi tidak bertahan lama karena satu dan lain hal. Bahkan kali ini Shadow terpaksa harus menyembunyikan diri di Lakeside atas saran Wednesday. Di tempat baru ini pun Shadow bertemu kembali dengan orang-orang baru, seperti Hinzelmann dan Chad Mulligan. Namun karena sebuah kejadian, Shadow terpaksa meninggalkan kota tersebut dan pindah ke kota lain.

Pada satu titik petualangannya, Shadow dihadapkan pada kejutan tak terduga dimana keberadaan para dewa bukanlah mitos belaka dan mereka sedang memperjuangkan eksistensi mereka untuk bertahan hidup di duni modern. Ketika Shadow menyanggupi untuk melakukan reka ulang sebuah ritual pemujaan masa lalu tepat di titik tengah benua Amerika, permainan takdir shadow yang sebenarnya pun dimulai.

American_gods

“Ini negeri yang buruk untuk dewa-dewa.” hlm. 697.

Buku ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu Bayang-Bayang, Ainsel-ku, Saat Badai, dan Epilog: Sesuatu yang Disimpan Orang Mati. Keempat bagian masing-masing menjadi tahapan petualangan Shadow semenjak dia keluar dari penjara. Penjelajahan Shadow ke beberapa tempat di Amerika seperti House on the Rock dengan Komidi Putar Terbesar di Dunia, Rock City, dan Lakeside, disajikan secara bertahap di bagian satu dan dua yang menuju klimaks di bagian ketiga. Sementara bagian keempat tentu saja tahap menuju antiklimaks cerita dimana Shadow menemukan sebuah kebenaran yang selama ini tersembunyi.

Kisah Shadow diceritakan berselang seling dengan kisah kedatangan imigran-imigran dari berbagai negara ke Amerika. Para imigran itu tentu saja mempunyai kebudayaan masing-masing dan kepercayaan yang mereka anut ke negeri baru tersebut. Tanpa mereka sadari, para Dewa dan berbagai makhluk yang mereka percayai keberadaannya itu ikut terbawa ke Amerika.

“Dan ada dewa-dewa baru di luar sana, dewa-dewa komputer dan telepon dan entah apa lagi, dan mereka semua tampaknya berpikir tidak ada cukup tempat untuk kedua jenis ini di dunia. Dan suatu peperangan tampaknya mungkin terjadi.”hlm. 516.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, kebudayaan dan kepercayaan yang dianut oleh para penduduk di Amerika mengalami perubahan. Sebagian besar dari mereka sudah melupakan para dewa yang mereka percayai dan sembah, tergantikan oleh kemajuan teknologi zaman modern. Bahkan mereka mendewakan berbagai hasil teknologi modern, menyebabkan munculnya dewa-dewa baru yang tentu saja menjadi pesaing utama para dewa lama. Hal inilah yang memicu terjadinya pertikaian di antara dewa lama dan dewa baru. Para dewa lama merindukan kembali ritual-ritual pemujaan mereka yang lama, yang tergerus kehidupan modern manusia.

Keahlian Neil Gaiman dalam mengolah mitologi dari berbagai negara untuk dilebur menjadi satu dalam American Gods patut diacungi jempol. Ide cerita tentang bagaimana para Dewa lama dipaksa beradaptasi dalam kehidupan modern dan terpaksa hidup selayaknya manusia biasa beserta konflik-konflik yang mereka hadapi mampu menjadikan kisah ini cocok dinikmati oleh para penggemar fantasi modern.

“Tapi ini cuma gelap saja. Kau tidak boleh takut akan kegelapan.”
“Memang tidak.” “Aku takut pada orang-orang dalam kegelapan.” hlm.564

Apakah semua yang Shadow hadapi setelah perjumpaannya dengan Mr. Wednesday ini hanyalah kebetulan belaka? Rahasia besar apa yang menyebabkan Shadow harus terlibat di dalam peperangan antara kedua kubu dewa di Amerika itu? Well, you have to read the whole book all by yourself to find the answers. Yes, the answers for every question you create in your head right now after read this review.

Beberapa penghargaan yang diraih oleh American Gods ini antara lain Hugo Award for Best SF/Fantasy Novel, Bram Stoker Award for Best Horror Novel, Locus Award for Best Fantasy Novel, dan Nebula Award for Best Novel.

Sensasi rasa seusai baca: 4/5

Sekilas kata:
Buku ini aku beli saat ada diskon lumayan besar dari bukabuku.com. Setelah tertimbun cukup lama sejak tahun 2012, rupanya baru di akhir tahun 2015 ini aku berani menaklukkan 784 halamannya yang cukup membuat keder. Terima kasih untuk tantangan baca yang dibuat oleh Bzee dalam Birthday and 4th Blogoversary: Tantangan Spesial Joglosemar. Sampai pusing aku membuat review ini, hal yang sama yang kuhadapi ketika membaca buku dengan banyak tokoh dan ceritanya cikup kompleks. Sering-sering membuat tantangan seperti ini dong biar aku bisa menghabiskan timbunanku yang setinggi-tingginya itu, ha3.

Oh iya, resensi ini juga aku tulis untuk Read Big Challenge dari Alvina yang untungnya diperpanjang waktunya sampai Januari 2016 #baca: masih bisa nambah review ke depannya, hahaha

3 thoughts on “American Gods – Dewa-Dewa Amerika

  1. Pingback: Tantangan Spesial Joglosemar : Second Winners | Bacaan B.Zee

  2. Pingback: [Wrap Up Post] Read Big 2015 | Melihat Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s