A Game of Thrones – Perebutan Takhta

25053673

Indonesian edition

Detail buku:
Judul asli: A Game of Thrones (A Song of Ice and Fire #1)
Penulis: George R.R. Martin
Penerjemah: Barokah Ruziati
Pewajah sampul: Dhefi Lesmawan
Tata letak isi: Yhogi Yhordan
Penyuntiung: Lulu Fitri Rahman dan Tim Redaksi Fantasious
Pemeriksa aksara: Westeros Indonesia
Penerbit: Fantasious
Tebal: 968 hlm
Cetakan: Maret 2015
ISBN: 978-602-09-0029-2

Sinopsis:
A Song of Ice and Fire #1

Saat memainkan perebutan takhta, pilihannya hanyalah menang atau mati…

Inilah negeri tempat matahari terbenam. Negeri dengan tujuh kerajaan, tempat klan-klan besar saling berebut takhta.

Klan Baratheon, dengan rusa jantan bermahkota dengan warna hitam berlatar emas yang menjadi simbol. Semboyan mereka berbunyi Yang Kami Miliki adalah Amarah.

Klan Stark dengan direwolf abu-abu berlatar putih es sebagai simbol dan semboyan Musim Dingin Akan Datang.

Klan Lannister dengan singa emas berlatar merah tua yang angkuh dan semboyan Dengar Raunganku!

Klan Tully yang memilih lambang ikan trout melompat, warna perak berlatar biru dan merah serta semboyan Keluarga, Kewajiban, Kehormatan yang dijunjung tinggi.

Klan Targaryen yang namanya diucap rakyat Tujuh Kerajaan dengan tangan gemetar, berpanji naga berkepala tiga, merah berlatar hitam, dengan semboyan Api dan Darah.

Setiap klan terjun dalam pertempuran besar yang dipenuhi kepala-kepala terpancung, kuda bersimbah darah, dan tombak yang mengoyak rongga dada. Strategi dan tipu daya menjadi senjata utama mereka. Klan mana yang akan tampil sebagai penguasa?

Resensi:

“Dingin itu membakar, sungguh. Tak ada yang membakar sehebat udara dingin.”

Kisah tentang Tujuh Kerajaan di Westeros ini diawali dengan penceritaan tentang Klan Stark yang tinggal di Winterfell. Klan ini dipimpin oleh Eddard Stark, sang Lord yang beristerikan Catelyn Tully, dari Klan Tully yang tinggal di Riverrun. Mereka berdua memilik lima orang anak yaitu, Robb, Sansa, Arya, Bran, dan Rickon. Selain kelima anak tersebut, Ned-panggilan Eddard-memiliki seorang anak haram, Jon Snow, dan seorang anak asuh, Theon Greyjoy.

Kehidupan Klan Stark yang damai berubah dengan kedatangan rombongan Raja yang tidak lain adalah sahabat Ned. Keduanya nyaris menjadi saudara ipar jika tidak terjadi perebutan takhta beberapa tahun silam yang menewaskan Lyanna, adik perempuan Ned yang sangat dicintai sang Raja tersebut. Kegagahan sang Raja di masa lalu sebagai Robert Baratheon yang pemberani seakan lenyap dalam wujud raja gemuk pemabuk dan suka main perempuan.

Sang Ratu, Cersei Lannister adalah seorang wanita dingin dan ambisius. Dia memiliki kedekatan tidak wajar dengan kakak kembar lelakinya, Jaime Lannister, Sang Pembantai Raja. Klan Lannister merupakan salah satu klan yang disegani, sehingga keberadaan adik cebol Cersei, Tyrion dianggap sebagai aib oleh Twyn Lannister, ayah mereka bertiga. Namun begitu Tyrion mempunyai kelebihannya sendiri yang nantinya mampu membuatnya bertahan hidup di antara para kesatria berpedang.

AGameOfThrones

US hardcover (first edition)

Kedatangan Raja ke Winterfell tentu saja tidak sekadar untuk saling melepas rindu. Robert meminta Ned menjadi Tangan Kanan Raja yang berarti menjadi orang kepercayaannya. Hal ini dilakukan setelah Jon Arryn, Tangan Kanan Raja yang sebelumnya, meninggal dunia. Arryn meninggalkan istrinya Lisa, adik Catelyn dalam kesedihan mendalam bersama putera mereka satu-satunya, Robert, membuat wanita itu kabur ke Lembah Arryn.

Dalam kembimbangan Ned menyetujui penunjukan dirinya atas persetujuan Catelyn. Untuk mempererat hubungan pertemanan Stark dan Baratheon, putera pertama Robert, Joffrey, ditunangkan dengan Sansa, puteri pertama Ned yang berperilaku seperti seorangg lady tak tercela. Sementara itu Arya, adik Sansa yang tomboi dan sangat dekat dengan Jon Snow selalu saja berbuat ulah, tidak bisa mempelajari tugas-tugas perempuan dengan benar, suka berlatih pedang, dan membuat Joffrey terluka. Perseteruan Sansa dan Arya tidak berhenti hingga sebuah konflik menyebabkan keduanya nantinya terpisah.

Musim dingin akan datang

Kepergian Ned dari Winterfell dengan membawa kedua puterinya harus dibayar sangat mahal karena sejak kepergiannya tersebut segalanya berubah drastis menjadi lebih buruk. Bersamaan dengan kepergiannya, Bran mengalami kecelakaan tidak wajar, yang membuatnya lumpuh hingga mengguncang Catelyn. Ketika ada penyusup yang hendak menghilangkan nyawa Bran yang mengalami koma, wanita ini memutuskan untuk mencari siapa pihak yang menginginkan kematian puteranya tersebut. Catelyn pun meninggalkan Winterfell ke tangan Robb, menyusul sang suami ke King’s Landing.

Sementara itu Jon Snow mulai bergabung ke Garda Malam, mengikuti jejak Benjen Stark, sang Paman. Bagi Jon yang hanya mengenal Ned sebagai ayahnya tanpa tahu siapa ibunya yang sebenarnya, bergabung di Garda Malam adalah satu-satunya pilihan karena tidak ada takhta di masa depannya untuk diperjuangkan. Berbeda dengan Robb yang menjadi pilihan utama untuk memimpin Winterfell di kemudian hari.

Keberadaan Ned di King’s Landing selain untuk mendampingi Robert tentu saja untuk menyelediki penyebab kematian mendadak Jon Arryn. Namun begitu banyak pihak yang tidak menyukainya karena posisi sebagai Tangan Kanan Raja adalah posisi tertinggi setelah Raja sehingga banyak yang mengincar posisi tersebut. Ned bahkan tidak bisa menentukan para pengikut Robert mana yang mendukungnya dan yang tidak menghendaki keberadaannya. Semua orang di King’s Landing seperti bermuka dua dengan membawa beban kepentingan mereka masing-masing. Ketika salah menaruh kepercayaan, semuanya akan berakhir dengan tragis.

Takhta Robert sebenarnya tidak aman karena dia mendapatkannya dengan merebutnya dari Klan Targaryen dimana keturunan terakhir klan tersebut diam-diam berusaha menyusun kekuatan untuk merebut kembali Takhta Besi. Adalah Viserys dan Daenerys-Dany yang mencoba mendapatkan bantuan dari Bangsa Dothraki, Sang Penunggang Kuda. Dany dipaksa menikah dengan Khal Drogo agar Viserys mendapat ganti pasukan untuk menyerang Robert.

Segalanya tidak berjalan semulus rencana Viserys. Dengan karakternya yang lemah, tidak sabaran, dan ambisius, dia kalah oleh ketegaran Dany yang pendiam namun masih mempercayai kekuatan besar para leluhurnya. Gadis berusia empat belas tahun itu menerima takdirnya sebagai khaleesi Khal Dorgo, mulai memimpikan masa depan yang lebih baik untuk keluarganya, namun harus mengalami berbagai tragedi yang akhirnya mendewasakannya. Ketika segalanya luluh lantak, Dany mencoba membangun kembali mimpinya sendiri hingga akhirnya segala hal mustahil yang selama ini diyakini telah hilang pun kembali padanya.

Ketika Takhta Besi terpaksa berpindah tangan, kekacauan pun dimulai. Klan Lannister berusaha melebarkan kekuasaan, diiringi ketidaksetujuan berbagai pihak. Klan-klan lain pun bergolak, masing-masing saling mengikrarkan kesetiaan pada klan utama yang mereka yakini akan meraih kemenangan. Pun demikian Klan Stark yang didukung para pengikutnya untuk menjadi Raja di Utara.

Sementara itu pasukan Garda Malam mengalami berbagai hal berbau sihir kuno yang diyakini telah punah. Makhluk-makhluk yang dianggap hanya dongeng lalu oleh para orang tua mulai bermunculan, menebarkan aura mistis dan misteri tak berkesudahan yang harus disingkap para keturunan Klan Stark dan Baratheon.


822993

UK edition

Membaca buku terjemahan setebal 968 halaman dengan ukuran huruf yang mini ini memang mebutuhkan waktu yang tidak singkat. Mata cepat lelah saat harus mencerna berbagai detail, intrik, plot twist, dan mengenali banyak sekali tokoh yang muncul. Seperti yang dikatakan sendiri oleh Penulisnya, George R.R. Martin bahwa detail adalah iblis, maka banyak sekali iblis di dalam buku ini.

Sayang sekali tidak ada peta pendukung di buku ini sehingga untuk membayangkan berbagai lokas dalam cerita, pembaca harus mengerahkan daya imajinasi luar biasa untuk membentuk setting cerita.

Untuk kover versi Indonesianya, jujur aku kurang suka. Meskipun menampilkan lambang Klan Stark yang berupa serigala mendongak dan tengah mengaum dengan latar berwarna merah terang, namun terkesan gambar itu terkesan flat saja tanpa ada tanpa meninggalkan kesan mendalam untukku.

Karakter para tokoh cerita tergambar dengan baik, Ned yang mengagungkan kebenaran dan kesetiaan mengalami dilema besar saat harus menaruh kepercayaannya. Sosoknya sendiri seakan terlihat sebagai orang suci namun dia mempunyai anak haram yang tidak diketahui siapa ibunya. Kejujurannya pun menjadi pedang bermata dua yang akhirnya berdampak fatal bagi para keturunannya.

Raja Robert yang semula gagah berani saat merebut Takhta Besi berubah menjadi pemabuk dan gemar bermain wanita meninggalkan berbagai masalah yang nantinya berdampak panjang dalam cerita ini. Dia diceritakan juga takut dengan ancaman pembalasan dari anak-anak keturunan Klan Targaryen sehingga mengirimkan orang-orang untuk melenyapkan mereka.

Catelyn Stark dan Cersei Lannister adalah dua tokoh wanita yang mendukung suami dan membesarkan anak mereka dengan caranya masing-masing. Catelyn yang harus menahan emosi setiap melihat anak haram suaminya pun harus tetap kuat menjadi pelindung anak-anak kandungnya. Pun ketika musim dingin benar-benar datang dalam kehidupannya, ketegarannya menjadi satu-satunya penopang hidupnya. Sementara itu Cersei Lannister yang dikenal ambisius dan menghalalkan segala cara untuk kekuasaan klannya sangat melindungi anak-anaknya. Ketika cinta sejatinya bermasalah, dia sempat luluh lantak namun ambisinya yang besar mengalahkan segalanya. Baginya kejayaan Klan Lannister adalah segalanya.

Karakter anak-anak Klan Stark pun mengalami perkembangan yang sangat drastis. Robb dipaksa dewasa dengan beban tanggungjawab besar bernama Winterfell. Dia dituntut untuk mampu mengambil keputusan yang berdampak besar bagi orang-orang di sekitarnya. Robb bahkan menyetujui rencana sang ibu untuk menjalin kekuatan dengan Klan Frey dengan mengatur perjodohan demi menuju daerah kekuasaan Klan Tully untuk mendapat kekuatan tambahan dari kakek dari pihak ibunya tersebut.

Sansa yang selama ini menikmati kemewahan pesta dan pertarungan para kesatria di King’s Landing pun harus menerima kenyataan pahit yang ditorehkan oleh Joffrey, sang Pangeran yang selama ini membutakan matanya. Joffrey sangat kekanakan, tidak bertanggungjawab, bertindak semaunya dan menggunakan kekuasaannya untuk menghasilkan keputusan-keputusan yang merugikan dan berakhir kematian bagi orang lain.

Arya yang selalu merasa salah dengan pelajaran perempuan, akhirnya mengalami petualangan yang tidak disangka-sangkanya, memisahkannya dari para saudaranya, dan menguji keterampilan berpedang dan bertarung yang selama ini dipelajarinya. Pertemuan Arya dengan beberapa tokoh yang terkait dengan rahasia Raja Robert pun seakan menjadi misteri yang entah kapan terungkap karena para tokoh yang terlibat dalam memegang rahasia tersebut menghilang satu persatu.

Jon Snow menghadapi kenyataan bahwa Garda Malam yang selama ini diidamkannya ternyata tidak semenarik dan se-elit yang selama ini dibayangkannya. Bahkan dia merasa ornag-orang di garda malam itu berkelakukan buruk, seenaknya, dan ada juga yang lemah, tidak berani bertarung.

Sementara itu Bran dan Rickon mengalami petualangan mereka di sendiri di Winterfell. Ya, Bran harus berdamai dengan kondisi tubuhnya yang lumpuh dan adiknya yang masih berlum merelakan kepergian ayah dan ibunya dari Winterfell. Kehadiran orang-orang terdekat yang dipercayainya memberikan kekuatan pada Bran yang terpaksa menerima tampuk kekuasaan ketika Robb meninggalkan Winterfell.

Karakter Tyrion yang semula terlihat lemah dengan kondisinya sebagai orang cebol, ternyata memiliki pengaruh sangat besar di kemudian hari. Kepandaiannya memainkan taktik membawanya selamat dari berbagai peristiwa yang nyaris menghilangkan nyawanya. Such a unique character, huh?

About Dany…, well, she’s a bad ass heroine. No, not because she has a similar name with mine, but her character developed very well along with the story as I mention before. And the rare creature she has now, hmm, can’t wait for them to fight another mystique creatures in the future.

Banyak tokoh yang datang dan pergi dalam kisah dalam buku ini dimana masing-masing dari mereka memberi bumbu cerita yang nantinya berpengaruh dalam kisah orang-orang di negeri fantasi Westeros dan Essos ini. Dan yakin sekali akan banyak lagi tokoh-tokoh yang bermunculan di buku-buku selanjutnya dari serial A Song of Ice and Fire ini. Tinggal tunggu saja dan nikmati ceritanya.

Satu hal yang bisa dipetik dari membaca A Song of Ice and Fire ini adalah, seluruh karakter yang ada berada di area abu-abu. Tidak ada yang baik sekali dan tidak ada yang jahat sekali. Semua tokoh mempunyai alasan masing-masing untuk bertindak, bahkan tindakan buruk yang terjadi pun terkadang dilakukan karena itu adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan oleh orang tersebut.

Keberadaan makhluk fantasi dan sihir di dalam buku pertama ini porsinya tidak begitu banyak. Adalah direwolf yang secara terang-terangan disebutkan karena mereka berperan aktif dalam kehidupan anak-anak Klan Stark setelah mereka menemukannya di awal cerita. Ada pula raven yang digunakan sebagai pengirim pesan dan mampu mengulang kata-kata. Keberadaan mayat hidup yang sempat meneror Garda Malam belum diketahui asal muasalnya dan masih menjadi misteri.

Sebuah kejutan terkait kemunculan makhluk fantasi di akhir cerita tentu saja membuat para pembaca tidak sabar untuk melanjutkan membaca buku keduanya. Apa yang terjadi dengan para tokoh cerita yang masih bertahan hidup? Ya, banyak tokoh meninggal di buku pertama ini, bahkan tokoh-tokoh yang menarasikan cerita. Bagaimana Takhta Besi akhirnya mendapatkan penakluknya? Para pembaca harus menemukan jawabannya di buku kedua seri A Song of Ice and Fire ini, A Clash of Kings.

Serial A Song of Ice and Fire ini telah diadapasi menjadi serial televisi berjudul Game of Thrones oleh HBO pada tahun 2010 dan meraih kesuksesan besar, serial ini juga diadaptasi dalam bentuk komik, permainan kartu, board game, dan juga video game. A Game of Thrones juga menerima berbagai penghargaan seperti Best Novel (Fantasy) di Locus Award (1997), Best Novella for Blood of the Dragon di Hugo Award (1997), dan Best Novel (Foreign) di Ignotus Award (2003).

Sensasi rasa seusai baca: 4/5

George_R.R._Martin_at_Archipelacon

Martin at Archipelacon in Mariehamn, June 2015

Tentang penulis:
George Raymond Richard Martin terlahir dengan nama George Raymond Martin pada 20 September 1948. Penulis yang sering disebut sebagai GRRM ini adalah seorang penulis novel dan cerita pendek Amerika dengan genre fanrasi, horor, dan fiksi ilmiah. Selain itu dia juga adalah seorang penulis naskah dan produser televisi. A Song of Ice and Fire adalah novel karyanya yang meraih kesuksesan besar dan memberinya posisi co-executive producer adaptasi serial televisi Game of Thrones dan penulis empat episode dari serial tersebut.

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/George_R._R._Martin

3 thoughts on “A Game of Thrones – Perebutan Takhta

  1. Pingback: [Wrap Up Post] Read Big 2015 | Melihat Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s