Tapestry

25641508Detail buku:
Judul asli: Tapestry
Penulis: Karen Ranney
Penerjemah: Debbie Hendrawan
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Tebal: 544 hlm
Cetakan: Mei 2015
ISBN: 978-602-02-6543-8

Sinopsis:

Untuk Lady Laura Blake, hanya ada satu pria di dunia: Alex, Earl of Cardiff. Tapi semenjak terluka di peperangan, Alex mengurung diri di kastil megah Heddon Hall. Karena percaya kalau dirinya tidak lagi manusia yang seutuhnya, Alex menutupi wajahnya dengan topeng kulit … dan mengubur jiwanya yang terluka di balik sikap yang dingin.

Laura kini sudah menjelma menjadi wanita cantik yang sulit dikenali Alex. Hasrat dan keharuan yang dilihatnya berkilat di mata Laura menggoda Alex untuk mengurangi rasa sakitnya dalam pelukan Laura yang manis dan sensual. Tapi ketika api gairah semakin tak terkendali, takdir yang kejam menghadang mereka, merajut jaring-jaring pengkhianatan yang bisa menghantarkan kesedihan hati atau kebahagiaan pada mereka yang berani untuk percaya pada cinta.

Resensi:
Kisah cinta di dengan setting di Inggris di masa lalu ini menawarkan sesuatu yang tidak biasa. Sang hero, Alex, Earl of Cardiff, secara fisik sangat jauh dari sempurna karena suatu kecelakaan sehingga dia harus menggunakan topeng kulit yang menutupi wajahnya.  Well, that’s enough for me to buy the book because I have some thing with masquarade. What a lame excuse to buy the book, right? Blame it to my romantic inner side #faceplam

Sedangkan Laura, dengan tekad kuat dan impian masa kecilnya untuk menikah dengan Alex, merupakah tipikal heroine di kisah-kisah historical romance lainnya. Namun kuacungi jempol untuk kecintaannya yang tidak melihat fisik tidak sempurna Alex. Maklum saja dia telah mengenal Alex sejak dia masih kecil. Di usia sangat muda pun Laura sudah diberi pendidikan bermutu oleh kedua orang pamannya, sehingga dia kurang merasa cocok dengan pelajaran tata krama bagi gadis muda yang didapatnya dari Akademi Mrs.Wolcraft. Hal ini tentu saja membentuk karakter Laura menjadi pribadi yang lebih kuat dan berpandangan terbuka.

Laura mencoba mendekati Alex dengan menyamar menjadi pelayan di Heddon Hall, tempat tinggal pria itu. Sejak kepulangannya setahun yang lalu karena kecelakaan di medan perang, pria itu menarik diri dari pergaulan. Tentu saja alasan utamanya adalah kondisi fisiknya yang hancur lebur, menyisakan sesosok manusia cacat yang tidak enak dilihat. Sepanjang tahun dihabiskan Alex untuk berlajar berjalan kembali dan melatih penglihatannya yang mengalami gangguan.

Kegigihan Laura tentuu saja membuahkan hasil. Dia berhasil memasuki kehidupan Alex dengan caranya sendiri. Namun ketidaktahuan gadis itu tentang rencana pamannya membuatnya nekat melakukan tindakan yang sempat membuatnya menyesal.

Ketika Alex akhirnya menikahinya, Laura merasa impiannya menjadi nyata. Namun kebahagiaan keduanya harus tertunda ketika atasan Alex datang dan memintanya untuk kembali ke medan perang. Laura yang menyembunyikan sebuah rahasa dari Alex pun harus menerima kenyataan kehilangan kekasih hatinya kembali. Untunglah selalu ada imbalan dari kesabaran kedua orang yang saling mencinta itu: keceriaan hadir di Heddon Hall yang selama ini selalu suram.

Konflik yang terjadi di dalam buku ini selain kesalahapahaman yang terjadi karena ketidakmauan kedua tokoh utama untuk membicarakan rahasia mereka tentu saja adalah keberadaan Elaine, ibu tiri Alex. Elaine yang menikahi ayah Alex karena uangnya telah membunuh pria tua itu bersama dengan putera sulungnya sehingga Alexlah yang mewarisi seluruh kekayaannya. Elaine hanya mendapat tunjangan yang setiap bulan diberikan oleh Alex sehingga kebenciannya semakin dalam kepada anak tirinya tersebut. Elaine pun tak segan-segan memercikan api kesalahpahaman kepada Alex sepulangnya dari peperangan yang kedua kalinya.

Bagi pembaca yang tidak menyukai deskripsi-deskripsi panjang tentu saja akan merasa cepat bosan saat membaca buku ini. Banyak kalimat penjelasan yang bisa membuat mata mendadak terasa berat. Untunglah saat membaca buku ini aku nyaman-nyaman saja walalupun setelah pertengahan cerita rasanya alurnya menjadi lambat dan dipanjang-panjangkan.

Selain cinta tanpa syarat Laura, satu lagi yang membuatku menyukai buku ini, tidak lain adalah kepeduliannya terhadap anak jalanan sehingga membuatnya membuka rumahnya sebagai tempat penampungan mereka.

Sensasi rasa yang tertinggal: 4/5

2 thoughts on “Tapestry

  1. Pingback: [Wrap Up Post] Read Big 2015 | Melihat Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s