Marginalia: Catatan Cinta di Pinggir Hati

17569218Detail:
Judul: Marginalia: Catatan Cinta di Pinggir Hati
Penulis: Dyah Rinni
Penyunting: Triani Rento Adiastuti
Proofreader: Dina Savitri Nurhidayah
Penerbit: Qanita
Cetakan I, Februari 2103
Tebal: 304 hlm
ISBN: 978-602-9225-82-2

Blurb:

Aku Yudhistira, aku Arjuna, aku Bima, aku Nakula Sadewa. Berapa Bharatayudha harus kujalani. Demi kamu, Drupadiku?

ARUNA
Cengeng! Tulisan singkat dan rapi di kumpulan puisi Rumi kesayangan almarhum Padma membuatku terbakar. Kurang ajar! Berani-beraninya cewek dingin berhati belatung itu menodai kenangan Padma. Belum tahu dia berhadapan dengan siapa. Aruna, vokalis Lescar, band rock yang paling diidolakan. Tunggu pembalasanku.

DRUPADI
Aku tak punya waktu untuk cinta. Meski tiap hari aku berhubungan dengan yang namanya pernikahan, ini hanya urusan bisnis semata. Aku tak percaya romantisme, apalagi puisi menye-menye. Hidup ini terlalu singkat untuk jadi melankolis. Namaku memang Drupadi, tapi hatiku sudah tertutup untuk laki-laki.

“Kekasih tak begitu saja bertemu di suatu tempat, mereka sudah saling mengenal sejak lama.” – Rumi

Resensi:
Aruna, dengan nama panggung Ren, adalah seorang vokalis band rock Lescar. Dia kembali bergabung bersama band tersebut setelah menyepi dari hingar bingar kehidupan panggung rock sepeninggal kekasihnya, Padma. Di tengah kegalauannya karena tidak bisa melupakan sang kekasih, Aruna memutuskan untuk mengembalikan buku berisi puisi-puisi favorit Padma ke sebuah kafe bernama Marginalia. Di kafe ini setiap orang bebas menuliskan kata-kata di setiap halaman buku, yang dikenal dengan istilah Marginalia, asal nama kafe itu sendiri. Di sinilah kisah Aruna dan Drupadi dimulai. Drupadi yang tidak percaya pada cinta, menuliskan satu kata yang menyakiti hati lelaki tersebut. Kenangannya akan Padma seakan ternodai oleh tindakan Drupadi.

Aruna awalnya tidak mengetahui sosok Drupadi, namun ketika dia bertemu secara langsung dengan sang pemilik wedding organizer Luna Nueva, seketika dia luluh lantak. Yak, luluh lantak dalam arti sebenarnya karena akibat kesalahan pahaman Drupadi, Aruna babak belur wajahnya.

Sosok Drupadi sendiri adalah seorang wanita modern dengan bisnis yang tengah mengalami krisis, putus cinta ketika merasa sudah saatnya menikah, dan persaingan dengan Inez, saudara sepupunya yang tidak kunjung berakhir. Saat Drupadi sedang tidak percaya pada cinta itulah Aruna memasuki kehidupannya, menerbitkan kembali kenangan akan kecintaannya pada sosok vokalis band yang selama ini dihindarinya. Melihat Aruna, Drupadi teringat bagaimana dia mengidolakan mendiang ayahnya yang juga seorang vokali band.

Gaya pendekatan Aruna ke Drupadi penuh strategi yang melibatkan orang-orang terdekat wanita itu. Segala cara pun dilakukan Aruna untuk meluluhkan hati Drupadi yang sedang patah hati itu. Mulai dari mengirimkan CD rekaman lagu yang ditulis sendiri oleh Aruna untuk wanita itu, sampai mengiriminya bunga sebagai kejutan yang membuat orang-orang di sekitar Drupadi terpesona.

Agak aneh memang ketika Aruna yang awalnya menggebu-gebu ingin membalas dendam kepada penulis kata “CENGENG” di marginalia sang mantan kekasih yang telah meninggal, seakan melupakan dendam kesumatnya begitu saja ketika melihat sosok Drupadi. Bahkan ketika Aruna mulai dekat dengan Drupadi, kegalauan lelaki itu seakan hilang tak berbekas. Kemana perginya segala rasa benci yang muncul setiap kali berbalas marginalia dengan sosok yang semula ingin dihajarnya tersebut?

Ketika kisah masa lalu Aruna terkuak dan melibatkan orang-orang di dekat Drupadi, konflik pun terjadi. Namun konflik ini terasa dipaksakan dan semata-mata untuk ‘menghangatkan’ hubungan Aruna-Drupadi sebelum penyelesaian di akhir kisah mereka. Di akhir kisah ini pun lagi-lagi ada pemaksaan yang kurang pas yang kembali melibatkan masa lalu Aruna-Durpadi. Are they matched made in heaven?

Hubungan para tokoh utama dengan orang-orang di sekitar mereka tergambar dengan cukup apik. Mulai dari asisten Drupadi yang selalu pengertian dengan atasannya tersebut, sepupu yang tidak mau kalah bersaing dengan Drupadi, sampai ke manajer dan teman-teman Aruna di band Lescar, karakter mereka cukup tergambar dengan baik walaupun hanya sekali dua kali disebutkan di dalam kisah ini.

Melihat kover yang terkesan kekanakan dengan coretan tangan, yang kubayangkan adalah kisah cinta anak kuliah yang kekanakan dan manis. Namun setelah membaca sampai akhir, dengan isi cerita yang lebih dewasa dan kental nuansa romancenya, kover novel ini menjadi kurang pas.

Selain beberapa kekurangan yang ada, membaca buku ini cukup menyenangkan dimana alur cerita mengalir lancar, rapi, dan mudah dicerna. Ide tentang marginalia juga menarik karena mampu menautkan dua hati yang saling tidak percaya keajaiban. Bagi para penggemar romance, tidak salahnya membaca buku karya penulis lokal ini. Nah, apakah kalian juga ingin menuliskan marginalia kalian sendiri?

Sensasi rasa yang tertinggal: 3/5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s