April’s Giveaway: SBB

banner-edit

picture credit to the owner, edited by me

Hai semuanya. Long time no see ya di blog ini? Maafkan si empunya blog yang menelantarkan blog ini hampir sebulan penuh karena dunia nyata lebih kejam dari dunia maya sehingga aku harus mendahulukannya #sigh

Okay, tidak perlu berlama-lama. Bertepatan dengan April Mop 2016, pada kesempatan kali ini aku ingin berbagi kebahagiaan lagi setelah absen di Februari dan Maret lalu. Niatnya sih setahun ini mau bikin GA setiap bulan, tapi apa daya, dunia nyat…#ahsudahlah

Nah, hadiahnya dulu ya. Kali ini aku mau membagikan buku yang tahun lalu sukses membuatku mengusulkan buku ini untuk dibaca para calon suami *celingukan* Tapi tetap loh ya calon istri dan para istri boleh membacanya karena bikin kita senyum-senyum atau terharu sendiri. Buku apa sih itu? Jeng jeng jeng…

SBB 01f285d347f2dae289d088e7897670a063

dan

SBB 02

c06d93f75c619dd483c64bfc3b2e5adb

Tidak, kalian tidak salah lihat. Memang hadiah GA ini adalah 2 (dua) buku Sabtu Bersama Bapak. Yang satu dengan kover asli dan satunya dengan kover film. Kalian tinggal pilih saja mau versi yang mana. Berikut sinopsis buku tersebut:

“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang Bapak melambaikan tangan.

Ini Bapak.
Iya, benar kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.

***
Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian. Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian. Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian. Ingin tetap dapat mengajarkan kalian. Bapak sudah siapkan.

Ketika punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away from us.
I don’t give death, a chance.

Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.

***
Ini adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

Trailer film Sabtu Bersama Bapak bisa dilihat di sini

Nah, tertarik dong dengan hadiah GA ini? Yuk mari dilihat apa saja ketentuan mengikuti GA ini …

  1. Peserta GA tinggal di Indonesia
  2. Membagi info tentang 2016 GA ini di sosial media apa saja dan jangan lupa mention link share info GA tersebu ke twitter @daneeollie
  3. Menjawab pertanyaan di kolom komentar dengan mencantumkan: nama lengkap, ID (twitter, FB, IG), email (dengan format: nama id[at]gmail[dot]com, dan pilihan buku (SBB 01 atau SBB 02)
    contoh:
    Nama: Dani
    TW: @daneeollie
    Email: daneeollie[at]gmail[dot]com
    Pilihan buku: SBB 01
    Jawaban: bla bla bla
  4. GA berlangsung dari tanggal 1-12 April 2016.
  5. Pememang GA ini akan diumumkan pada tanggal 13 April 2016.
  6. Akan dipilih 2 (dua) orang pemenang yang masing-masing akan mendapatkan 1 buku SBB 01 atau SBB 02 sesuai pilihan
  7. Para pemenang akan dihubungi via email dan diharapkan responnya dalam waktu 2 x 24 jam. Apabila dalam kurun waktu tersebut tidak ada respon, akan ditentukan pemenang lainnya.
  8. Pertanyaan yang harus dijawab pada kolom komentar:

Ceritakan the most memorable  moment kamu bersama ayah.

Bagaimana, gampang kan persyaratannya? Yuk, jangan ditunda lagi, mari bergabung di GA ini dan jangan lupa membagikan kebahagiaan ini ke teman-teman kalian ya.

20 thoughts on “April’s Giveaway: SBB

  1. Nama : Daivara Rezuki Wijaya
    TW : @dairezuki
    Email : dairezuki[at]gmail[dot]com
    Pilihan buku : SBB 01

    Ceritakan the most memorable moment kamu bersama ayah.
    Jangan lupa beri ucapan ulang tahun ke BBI yang ke-5 di akhir komentar kamu.
    The most memorable moment bersama ayah itu ketika aku lolos di salah satu PTN terbaik di Indonesia. Untuk pertama kalinya aku melihat ayah menangis, padahal selama ini ayah tidak pernah memperlihatkan perasaannya padaku dan ayah merupakan orang yang sangat tegas terhadapku. Dia memelukku sangat erat dan dia berkata dia sangat bangga terhadapku. Aku membalas pelukannya dan ikut menangis. Aku terharu melihat ayah yang selama ini tidak pernah menjatuhkan air matanya, namun sekarang ia menangis untukku.

    Aku benar-benar tidak bisa melupakan moment ini dan setiap aku mengingatnya hatiku seakan tercubit. Aku masih ingat ketika aku mau berangkat untuk kuliah, di mana jarak kotaku dan kota tempatku berkuliah itu sangat jauh, beribu-ribu mil aku akan terpisah oleh kedua orang tuaku. Ayah terus menggenggam tanganku hingga di stasiun, berkali-kali ia membelai rambutku. Dia juga memberikan banyak nasehat untukku, dia berkata kalau aku tak boleh memakan sembarangan dan harus jaga kesehatan. Kalau aku butuh uang, aku harus menelepon beliau, jika aku tak sanggup hidup di kota orang sendiri, ayah akan datang dan akan tinggal bersamaku. Aku tertawa pada saat itu, karena ibu tidak sekhawatir ayah. Ayah benar-benar sangat berbeda ketika hari pemberangkatanku. Ketika aku sudah sampai di kota tujuanku, berkali-kali ayah menawarkan diri untuk tinggal bersamaku. Tentu aku menolak, aku ingin hidup mandiri. Akhirnya ayah akan datang setiap 2 minggu sekali dan akan menginap di padeku.

    Ayah benar-benar repot sekali, aku selalu menangis jika melihat ayah membawakanku banyak makanan. Dia bilang, aku sudah terlalu kurus. Setiap aku pulang ke rumah, ayah orang pertama yang memelukku, dia langsung membuatkanku nasi goreng spesialnya. Ayah bukan seseorang yang pandai memasak dan rasa masakannya jauh dari masakan ibu. Tapi aku tetap memakannya karena entah mengapa, nasi goreng ayah selalu enak di lidahku.

    Aku benar-benar menyayangi ayahku dan tentunya ibuku. Mereka berdua merupakan sosok yang sangat berharga di hidupku.

    Sekian, terima kasih:) semoga sabtu bersama bapak berjodoh denganku.

    • Maafkan aku, aku lupa, khilap:”

      Selamat ulang tahun BBI yang ke 5! 😆 Ciee lebin tua aku, lebih tua 13 tahun lagi 🙈 Otanjoubi Omedetou kalau kata om naruto sih. Saengil chukha hamnida kalau kata Lee Min Hoo oppa! Semoga semakin sukses, semakin cinta terhadap buku, makin +++, pokoknya wish-wish yang terbaik deh! 😁

      Sekali lagi maafkan Daiva, aku bener-bener lupa ya ampun 😓 sekali lagi, HAPPY BIRTHDAY BBI! ☺️

  2. Nama: Arfina
    TW: @ipinkaramel
    Email: arfina[dot]tiara123[at]gmail[dot]com
    Pilihan buku: SBB 02
    Jawaban:

    Ini pengalaman yang biasa tapi entah kenapa malah yang teringat adalah saat suatu malam saya terkena demam tinggi, ternyata adik saya juga mengidap demam yang tingginya sama seperti saya, waktu itu bapak saya belum pulang, Ibu saya kerepotan dan bingung gimana bawa saya ke klinik terdekat, tapi akhirnya malem-malem banget, saya ternyata kebangun karena ngga bisa nafas, anehnya adik saya juga kebangun dan kami nangis bersama >,< Bapak yang baru pulang langsung gendong saya yang masih kecil di tangan kanannya dan adik saya yang pastinya lebih kecil dari saya di tangan kirinya. Kami berdua digendong sampe tangis reda dan sampe ingus mampet saya mencair, akhirnya Bapak bikin ramuan bawang, minyak, asem yang dipercaya nurunin demam (malah promosi) dan mijitin kening saya. Saya ngga tau apa yang saya rasain waktu itu entah asin karena ingus nyentuh lidah atau gimana. Tapi moment itu paling memorable sampe sekarang.

  3. Nama : Rima Dwi Andina
    TW : andinarima
    Email : rimaandina[at]yahoo[dot]com
    Pilihan buku : SBB 1

    ‘Ceritakan the most memorable moment kamu bersama ayah.’

    Ada banyaaaak sekali. Karena, yah, jujur saja aku lebih sayang ke papa:p
    Dan ada satu waktu dimana apa yang papa lakukan membuatku sangat terharu.

    Jadi, gini. Aku kan lagi UN, tanggal 4 April kemarin. Terus, akunya kan masuk siang, jadi enggak diantar papa. Lalu, jam 8-an gitu, ada whatsapp dari papa. Isinya “Jangan sampai ada yg ketinggalan dan jgn lupa berdoa ya rim.” Memang isinya mungkin biasa aja. Yang membuatku merasa terharu karena ini PERTAMA KALINYA papa mengucapkan hal begitu. Yah, bukan berarti waktu UN SD dan SMP enggak ngasih semangat, cuma karena ini papa langsung nge chat aku jadi terasa lebih personal aja.

    Duh, keingetan lagi jadi baper lagi, kan, huhu😦

  4. Nama: ailina
    TW: @ailina85
    Email: ay_lyna[at]yahoo[dot]com
    Pilihan buku: SBB 01

    ‘Ceritakan the most memorable moment kamu bersama ayah.’:

    Pernah ada masa saya merasa tertekan dengan dunia pekerjaan yang sedang saya tekuni sehingga waktu itu rasa-rasanya saya ingin mengundurkan diri saja. Dan ketika ayah saya tau keputusan itu, ayah bercerita jika saat ibu saya mengandung saya dulu, ayah selalu bermimpi jika saya pergi ke Bulan. Semenjak itu ayah bilang kalau Beliau yakin bahwa saya pasti akan menjadi orang yang sukses dan berguna bagi orang sekitarnya (amin..).
    Jadi merasa bersalah deh, hanya gara-gara tekanan yang tidak seberapa, dibandingkan kerja keras ayah dulu untuk menghidupi keluarga kecilnya, saya sampai pingin mengundurkan diri dari pekerjaan..
    Yg penting sekarang, maju terus pantang mundur dah😀

    Buat Dani, sukses ya GA-nya🙂

  5. Nama: Rizki Madfia
    TW: @blogpostrizki
    Email: kacamataque[at]gmail[dot]com
    Pilihan buku: SBB 01

    Jawaban:
    Itu terjadi sewaktu aku masih kecil, belum sekolah. Bapak suka maraton di pagi hari. Dan waktu kecil dulu Bapak sempat membawaku maraton pagi2 mungkin sekitar jam 6 di jalan sekitar rumah. Karena Bapak kerja dari Senin sampai Sabtu, bisa kupastikan saat itu hari Minggu. Aku naik sepeda roda tiga sambil membonceng adikku yg juga masih kecil. Bapak mengaitkan tali ke sepeda itu dan memegang salah satu ujungnya. Aku mendayung sepeda itu dan meski membonceng adikku, aku tidak merasa berat karena Bapak juga menarik sepeda itu lewat tali tsb. Bapak berjalan di depanku. Aku bisa melihat punggung Bapak dan tangannya yang memegang tali. Aku senang sekali maraton pagi2 bareng Bapak. Momen yang tidak akan kulupakan sampai kapan pun. :’)

  6. Nama: Ananda Nur Fitriani
    Twitter: @anandanf07
    Email: anandanftrn[at]gmail[dot]com
    Pilihan buku: SBB 02

    Aku itu deket banget sama papa. Dari wajah, lumayan mirip. Hobi, sama. Kalau aku nanya-nanya tentang pelajaran, minta pendapat, cerita tentang pengalaman atau sekadar cerita gak penting ya biasanya sama papa. Papa itu selalu menunjukkan perhatian ke ibu dan anak-anaknya dengan jelas. Setiap hari, papa selalu nganter aku sekolah. Kalau ada yang keluyuran, pasti papa yang menginterogasi. Papa juga rajin banget ngesms, kalau aku pulang telat dikit saja, pasti langsung ada sms; nanyain kok belum pulang, lagi di mana, sama siapa. Kalau ditanya the most memorable moment sama papa, ya aku jadi bingung deh. Hehehe. Tapi ada nih satu moment yang aku inget banget.

    Waktu itu, aku baru suka-sukanya mengoleksi buku. Tiga bulan, buku di kamarku semakin menumpuk. Ditambah paket-paket buku yang berdatangan. Aku sih, cuek saja numpukin buku di meja belajar. Ya karena waktu itu rak-rak sudah penuh, lagian aku memang belum punya rak khusus untuk buku-buku fiksi gitu.
    Suatu hari, aku baru pulang sekolah dan langsung masuk kamar. Tiba-tiba papa masuk, manggil aku dan minta bantuan. Yaudah aku ikutin, ternyata di ruang tengah itu sudah ada tumpukan kayu-kayu (yang sampe sekarang aku gatau dapet dari mana). Papa gak bilang itu buat apa, cuma nyuruh aku bantuin ngebentuk kayu-kayu itu jadi sebuah kotak. Akhirnya, kami kerja berdua. Sore-sore mengerjakan hal baru, walaupun capek karena baru pulang, tapi aku ngerasa seneng karena ada yang bisa dilakuin bareng papa. Papa yang motong kayunya, aku yang nempelin kayu-kayu itu hingga membentuk suatu kotak. Karena ini juga salah satu hobi kami, memodifikasi dan membuat barang-barang sendiri. Pekerjaannya gak mudah, kami juga harus menghaluskan kayunya. Alhasil, karya kami selesai sekitar 2-3 jam kemudian. Aku dapat melihat sekotak kayu dengan ukuran lumayan besar yang mempunyai sekat sekat, tapi aku sama sekali gak kepikiran buat apa kotak kayu itu (karena biasanya ide papa itu di luar akal sehat, gak terduga sama sekali xD). Papa pun menyuruhku mengambil buku-buku koleksiku, dan disitu aku baru sadar. “Ooooh, ini buat rak buku aku?” histeris dan menampakkan muka bahagia, “AAWW THANKYOU DADDY!!” kata-kata itu refleks keluar dari mulutku, tanpa menunggu jawaban papa mengiyakan. Aku langsung memeluknya dengan senyum selebar mungkin, dan papa membalas pelukanku dan menjawab “hm, ya iya atuh. Itu buku udah numpuk gitu. Coba masukin dulu buku-bukunya, rapihin, rawat yang bener ya!” Jujur aja, aku seneeeeeng banget dan langsung ngambil buku-buku koleksiku, lalu menyusunnya di rak. Papa menaruh rak itu di kamarku, dan gak ketampung lagi deh rasa bahagia aku ngeliat ada rak buku di kamar. Aku gak nyangka juga, karena sebelumnya papa suka kesel kalau aku baca buku terus. Ternyata papa juga mendukung hobiku! Sekarang, kotak itu sudah penuh. Buku-bukuku sudah gak tertampung. Papa bilang nanti akan kami perbaiki bersama, diperbesar. Dan kami akan kerja bersama lagi, yey!

    Terima kasih atas giveaway (dan berbagi kebahagiaan)nya ya, kak Dani \^^/

  7. Nama: esty
    TW: @estiyuliastri
    Email: estiyuliastri[at]gmail[dot]com
    Pilihan buku: SBB 02
    Jawaban:
    The most memorable moment bersama ayah adalah saat ibu dirawat di rumah sakit hampir 1 bulan.
    Moment disaat kami sekeluarga diuji kesabarannya. Ayah mencoba menjadi sosok yg tegar dan kuat di depanku, adik dan ibu. Namun selama di rumah sakit, jujur aku sering mengomeli Ayah, dan sempat kecewa dengan Ayah. Saat beliau malah sering tertidur saat di rumah sakit, bukannya menjaga ibu. Saat beliau sibuk bekerja dan tidak ada di sampingku ketika aku bingung mencari pendonor darah untuk ibu, karna stok darah golongan AB di PMI kosong. Saat beliau membelikan obat ibu namun obatnya salah. Huffft.
    Sekitar minggu kedua ibu dirawat, daya tahan tubuhku mulai menurun, mungkin akibat pola makan yg tidak teratur, dan virus penyakit yg bertebaran di rumah sakit, aku muntah-muntah dan demam. Setiap makanan yg masuk ke mulut rasanya mual, dan ingin muntah.
    Aku diminta Ayah untuk istirahat di rumah saja, namun aku tidak mau. Karna di rumah nantinya juga aku pasti tidak bisa istirahat dgn tenang, karna kepikiran ibu di rumah sakit yg sedang berjuang melawan sakitnya & aku ingin tetap mendampinginya.
    Akhirnya aku istirahat total di samping ranjang ibu. Ayah-pun rela tidak masuk kerja pada hari itu. Ayah bertanya padaku, aku ingin makan apa. Aku ingin makan mie ayam Pak Soleh yg letaknya lumayan jauh dari rumah sakit.hihi ayah langsung menurutinya & mencarikannya untukku. Sweet bangettt… apalagi setelah membelinya Ayah menyuapiku makan mie. Seketika aku langsung malu dan minta maaf kepada Ayah, karna teringat beberapa hari yg lalu sering mengomeli Ayah dan agak kecewa dengan Ayah. Ayah pun langsung memelukku sambil berkata, “Nggak apa-apa mbak, maafkan Ayah juga yaa, karna mengecewakanmu…” huhu jadi terharu dan kurasa itulah best memorable momentku bersama Ayah :’)

    Bagaimana dgn critamu?

  8. Nama: Arie Pradianita
    TW: @APradianita
    Email: ariepradianita[at]gmail[dot]com
    Pilihan Buku: SBB 02
    Jawaban:

    Ayah ku lemah di kala separuh jiwanya pergi. Ayah tak menangis waktu mama menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan pak de tapi tujuh hari kemudian tangisan ayah meledak di pagi buta, sungguh aku baru pertama kali melihat ayah menangis, kami menangis bersama karena sangat merasakan kehilangan mama.

    Ku lihat ayah tegar namun hatinya rapuh sama seperti ku, rapuh tak berdaya. Namun hidup harus diteruskan, aku bangkit dari duka mendalam ku dengan pergi ke sawah mencari kesibukan, mencari tutut untuk makan dan engkau ayah walau ayah sakit, ayah juga bangkit dengan mencari kerja di kejauhan, entah berapa kilo meter ayah mengendarai sepeda motornya untuk mendapatan kerjaan itu.

    Ayah selau tersenyum di kala tiba melihat ku memasak nasi dan lauk sederhana, kata ayah masakan ku paling enak gak seperti masakan kakak yang bau kunyit mentah. Ah ayah begitu indahnya bersama mu dalam waktu singkat itu. Ayah, ketika ayah menyuruh ku untuk memotong rambutmu, sungguh aku sangat grogi ayah . Dengan jari-jari ku, aku memotong rambut ayah yang sedikit beruban. Ayah itu jadi kenangan tak terlupakan. Aku bilang aku gak bisa motong rambut, tapi ayah bilang bisa dan akhirnya berhasil memotong rambut ayah gaya cepak, ayah tertawa lepas karena lihat di cermin masih ada yang panjang pendek. Namun ayah memelukku dengan dekapan kasih sayang, andai waktu bisa diundur aku tak ingin pergi jauh dari mu ayah.

    Ayah aku selalu ingat pelukan ayah terakhir kalinya di depan rumah, waktu itu habis isya aku berangkat menuju Jakarta untuk merantau jauh demi pekerjaan. Aku tahu ayah menangis namun ayah tak ingin melihat ku sedih. Aku tahu ayah tak mau berjauhan dengan anak bungsu ini, namun nasib berkata lain dan aku harus bisa mandiri. Ayah aku sangat mencintai mu walau engkau sangat keras pada ku dan aku tahu ayah, itu adalah bentuk perhatian dan kasih sayang mu. Tak ingin aku mengecewakanmu, maafkan aku ayah. Aku tak di samping mu di saat-saat terakhir mu.

    Kenangan indah ayah selalu terpatri dalam jiwa
    Kenangan manis bersama ayah selalu ada dalam dada
    Kenangan suka duka bersama mu membuat aku kuat ayah
    Ayah aku mencintai mu dan menyayangi mu
    Engkaulah pria hebat dalam hidup ku.. ^_^

  9. Nama: Nurmi Hidayasari
    TW: @NurmiHs
    Email: nurmi.hs[at]gmail[dot]com
    Pilihan buku: SBB 01

    The most memorable moment sama Bapak:
    Ketika umur 17 atau 18 thn-sekitar 5 thn yg lalu-saya pernah melakukan kesalahan, yaitu menghancurkan sbuah barang, milik org lain yg dititipkan ke Bapak. Saya sudah sring melakukan kesalahan seperti itu, tp gk tau knp pda waktu itu saya sangat takut. Rasa takut itu bukan krna takut akan dimarah, tetapi saya lebih khawatir bgaimana klau Bapak marah dg saya. Karena Bapak jarang sekali marah atau bahkan tidak pernah sebelumnya. Jadi yg saya khawatirkan adalah jika Bapak marah, maka Bapak tdak akan menyayangi saya lg. Saya sangat takut saat itu, bagaimana bsa saya hidup kalau Bapak tdk mnyayangi saya? Karena kekhawatiran itu, saya tdk menceritakan ke Bapak, sampai bbrp minggu lamanya. Atas dorongan tman, akhirnya saya mengaku. Ternyata, Bapak tdk marah sama sekali. Malah, dg lembut dan penuh kasih sayang menasehati saya agar jgn melakukan kesalahan yg sama (barang itu rusak, krna saya bertengkar dg adik), jgn bertengkar sampai menggunakan barang segala. Karena Bapak tdk marah, tambah pecahlah air mata saya. Dengan masih terisak-isak dan hati yg penuh penyesalan saya minta maaf berkali-kali ke Bapak dan janji tdk akan sperti itu lg. Alhamdulillah, sampai skrg jika saya bertengkar dg adik, hanya menggunakan mulut. Tiap bertengkar saya berusaha untuk mengalah, karena selalu ingat pesan Bapak. Love yuo Bapak {}

  10. nama: famia
    TW: @amifamia
    email: amifamia[at]gmail[dot]com
    pilihan buku: SBB 01

    the most morable moment bersama bapak adalah:
    waktu itu aku masih SD, aku sedang duduk di kursi teras sendirian, kemudian bapak menghampiriku, karena waktu itu aku punya jam tangan baru, aku diajari cara menghitung jam sama bapak, sederhana memang, di sekolah pun diajarin cara menghitung jam, tapi kalo di sekolah tidak se detail yang diajari oleh bapak, buktinya banyak teman ku yang sampai sekarang belum bisa menghitung jam. Dan setelah di ajari cara menghitung jam oleh bapak, aku bisa lebih tau cara menghitung jam dari pada teman-temanku. Pada waktu aku di ajari cara menghitung jam aku bisa merasakan kasih sayang nya padaku melalui pelukan hangatnya dan menurutku hal itu adalah moment terindah bersama bapak. Love you Bapak, semoga bapak diberikan kesehatan dan panjang umur. Aamiin…

  11. Nama: Kezya Indira
    TW: @kezyaindira
    Email: kezyaindira@ymail.com
    Pilihan buku: SBB 01
    Jawaban:

    “Ceritakan the most memorable moment kamu bersama ayah.”

    Sudah lama sekali, saat itu hanya aku dan ayahku. Waktu itu, ia baru saja pulang dari Nigeria yang menjadi tempatnya mencari rezeki untuk keluarga di Indonesia. Ia pulang ke Indonesia setiap 4 bulan sekali. Umurku baru menginjak 10 tahun kala itu, ia mengajakku untuk pergi ke kampung asalnya di Klaten, Jawa Tengah. Pergi kesana merupakan salah satu ‘ritual wajib’ yang harus dilakukan kalau ia sedang di Indonesia, biasanya ia mengajak kami sekeluarga tapi Adikku sedang sakit sehingga mama menyuruhku untuk pergi berdua saja sementara mama tetap di Jakarta mengurus Adik. Kalau ditanya apa yang dilakukan di Klaten sana? Sebenarnya hanya satu, menengok Eyang-ku.

    Di pagi buta kami sudah berangkat, mama mengantar kami sampai ke stasiun gambir. Perjalanan ke Yogya memakan waktu kurang lebih 9 jam. Kami dijemput di stasiun Yogya lalu diantar ke rumah Eyang di Klaten, butuh waktu 1 jam perjalanan dari Yogya ke Klaten. Setelah sampai tentu saja kami disambut dengan begitu hangatnya, makanan yang tidak pernah tertinggal adalah Soto Ayam yang biasa Eyang beli di dekat rumah.

    Malamnya aku disuguhkan lagi makanan dengan menu berbeda, kali ini ada nasi dan berbagai macam lauk. Aku menatap ayahku sembari menelan ludah, iya aku masih kenyang karena Soto Ayam itu. Ayahku tertawa lalu mengusap kepalaku, “Makan lagi sedikit aja ya, kasian Eyang udah nyiapin. Dia seneng banget kalo anak-anak dan cucunya makan-makanan eyang.”

    Aku mengiyakan. Malamnya kami tidur berdua, menggelar karpet dan bedcover di depan TV. Aku gak mau tidur sendiri di kamar soalnya takut hehe. Saat itu tahun 2010 sedang ada World Cup, Belanda VS Russia. Tiba-tiba ia berkata, “Ayah pegang Belanda. Mbak Echa pegang apa?”

    Aku belum mengerti pada saat itu. Yaudah jadi aku pilih yang masih ‘available’ aja, Russia. “Ayah, kalo Russia menang traktir aku ya. Kalo Belanda yang menang nanti aku yang traktir Ayah.” ujarku polos, padahal waktu itu aku seribu perak aja gak pegang. Hahahahaha.

    Aku gak nonton sih tapi keesokan harinya Russia yang menang. Padahal kan Belanda yang lebih kuat (sekarang baru nyadar) Aku habis-habisan meledek Ayah dan meminta traktiran. Hari itu kami pergi berdua dengan Mobil Eyang, kami pergi memancing, berenang, dan terakhir mampir ke makan Eyang Kakung. It was so fun!

    Hari ketiga, di pagi hari kami akhirnya pulang ke Jakarta. Masih menggunakan kereta, di kereta aku sempat bertanya, “Ayah, kenapa sih kalo ayah pulang kok perginya ke rumah Eyang terus?” Aku masih ingat dengan jelas jawaban Ayah,

    “Apa ya? Hmmm, Ayah sayang sama Eyang, Ayah juga mau Mbak Echa dan Mbak Icis (adikku) sayang sama Ayah dan Mama.”

    Aku gak paham kala itu.

    “Jadi, kalo Ayah sayang sama Eyang nanti pasti akan dibalas kok. Nanti anak Ayah juga sayang dan baik sama Ayah.”

    Waktu itu sih aku iya-iya aja maklum gak begitu paham. Tapi sekarang kok kalo inget tuh rasanya sedih dan terharu. Hal itu juga tentu tertanam di otakku, ‘Kalo kita baik sama orang tua kita, anak kita juga pasti begitu.’ AKU SAYAAAAAANG AYAHKU! Dia rela, kerja banting tulang jauh-jauh dari keluarga untuk membiayai segala macam kebutuhan hidup. Aku tahu itu memang sudah kewajiban tapi tetap saja :”)

    SEMANGAT UNTUK AYAH-AYAH DI LUARAN SANAAAAA! ε=ε=(ノ≧∇≦)ノ♥ ♥ ♥

  12. nama: wening
    twitter : @dabelyuphi
    email : dabelyu_phi[at]yahoo[dot]com
    pilihan buku : SBB 1/2 boleh saja😀

    kalo the most memorable moment sama bapak tuh mungkin yang terjadi pas kelas 5 atau 6 SD dulu kali ya.. dulu pas masih SD aku sering banget dibully sama teman sekelasku yang cowok. walaupun yang kena bully bukan cuma aku sendiri (ada dua temen cewekku juga), tapi bagaimana pun tiap kena bully aku yang sering gak berkutik karena aku seorang penyandang disabilitas yang untuk kegiatan sehari-hari aku harus menggunakan kursi roda. nah, tiap jam istirahat kalo gak cepet-cepet keluar harus siap diusilin deh.

    sebenarnya aku udah kena bully itu sejak kelas 2, tapi aku menganggap kalo keusilan temanku yang tengil itu masih dalam tahap tidak terlalu mengganggu, seperti jodoh-jodohin sama temen cowok yang lain (zaman dulu, saat hiburan cuma ada TV doang) diledekin kalo pacaran sama A atau B (walopun kenyataannya enggak) itu udah malu banget! dan kalo diledekin gitu aku cuma bisa diem aja sambil nahan rasa sedih, karena kalo aku bales dia pasti ngusilin aku lebih parah… apalagi anaknya tuh pernah gak naik kelas 2kali.. kan badannya jelas gedhe banget.

    dia itu kalo ngebully suka kumat-kumatan.. kadang intens banget, kadang beberapa bulan biasa aja. nah, dia mulai ngebully dengan parah tuh kelas 5 atau 6 itu. saat itu dia gak cuma ngebully secara verbal, tapi mulai fisik juga. entah lemparin mercon sama aku (yang walaupun kecil, tapi kalo diledakin deket banget kan sakit juga kalo kena), tiba-tiba dorong kursi roda aku kenceng banget saat aku lagi ngobrol sama temenku sampai aku hampir jatuh atau seperti kelas satu dulu, dikunci di dalem kelas saat jam istirahat dan ngebully secara verbal.

    awalnya sih aku mau diem aja (dan aslinya gak berani lapor sama ortu karena takut temenku yang tengil itu justru makin parah ngebully aku kalo lagi sendirian) tapi karena kelakuan dia makin menjadi, aku akhirnya lapor sama bapak karena tiap hari bapaklah yang nganter aku sekolah. nah.. esoknya saat baru masuk gerbang sekolah, bapak langsung minta tunjuk mana anak yang ngebully aku. pas akhirnya dia ada dihadapan bapak, bapak marahin dia habis-habisan di depan banyak orang. sejak saat itu temenku dan anak buahnya udah gak pernah ngebully lagi. baik sama aku mau pun temenku yang lain.

    dari perlakuan bapak saat ngebela aku di depan umum tuh bikin aku sangat terharu dan menumbuhkan keberanianku. kalo sebelumnya aku cuma bisa diem aja kalo dibully, sejak saat itu mulai berani melawan saat ada orang yang usil dan bikin aku gak nyaman… baik itu setelah SD, SMP, SMA dan sampai sekarang.

    tapi kalo diinget-inget lagi sebenarnya most memorable moment sama bapak tuh sebenarnya banyak banget. karena tiap momen berharga dalam hidupku selalu ada bapak. saat ada study tour saat SMP ke Jakarta, bapak yang nemenin. tiap berangkat sekolah dari SD-SMA sampai kelulusan, bapak yang nganterin (sampai pernah bapak sakit, beliau tetep nganterin aku sekolah). dan kemana pun aku mau pergi, bapaklah yang selalu ada buatku.
    dan bapaklah yang selalu mengingatkan anak²nya agar tidak lupa berdoa tiap mau bepergian, biar selamat sampai tujuan, pun selamat sampai rumah entar.

    mungkin bagi orang lain moment kayak gitu biasa aja.. tapi bagiku moment-moment tersebut sangat berarti bagiku. karena dengan adanya keterbatasan yang aku miliki kadang suka bikin aku minder sama orang. dan bapaklah yang selalu menyemangati dan menumbuhkan keberanian dalam diriku tiap berhadapan dengan lingkungan baru (^^,)

    hihi maaf ya kak, kalo ceritanya kepanjangan. terimakasih juga buat kesempatan giveaway novel Sabtu Bersama Bapak (yang udah lama jadi wishlistku) ini.. ^^

  13. nama: Rin Agustia Nur Maulida
    TW: @Rinchan34
    email: maulida.rin@gmail.com
    pilihan buku: SBB 01

    Sebenarnya, bagiku setiap momen bersama Ayah itu selalu spesial. Alasannya, karena Ayah adalah tipe orang yang menganggap anak-anaknya sebagai teman. Tapi, diantara momen-momen tersebut, ada satu momen yang sangat membekas untukku. Momen ketika aku berulang tahun yang ke-18.

    Saat itu, aku sedang kuliah di luar kota. Sebagai anak yang lebih mencintai rumah ketimbang kumpul-kumpul bareng teman, berada di sana membuat ku tidak betah. Selain rindu rumah, aku juga sulit bersosialisasi dengan orang-orang baru. Jadilah setiap seminggu sekali aku pulang ke rumah. Hal ini tentu saja membuat ayah jengkel.

    Hingga pada waktu, dikarenakan tugas yang menggunung, aku tidak bisa pulang ke rumah lebih dari sebulan. Hal itu ternyata berdampak bagi orang-orang rumah. Ayah akhirnya meneleponku, dan menanyakan bagaimana kabarku. Di akhir telepon, ayah menyuruhku untuk pulang ke rumah. Tentu saja aku menolak keras permintaan ayah. Bagaimana pun, ada tugas menumpuk yang harus segera aku selesaikan. Apalagi, aku menggunakan laptop teman atau kadang punya kakak asrama untuk menyelesaikan tugasku. Tapi, ayah tetap ngotot minta aku untuk pulang. Ayah bahkan sudah memesankan mobil travel untuk aku pulasng besok. Aku pun tidak bisa menolak.
    Keesokan harinya, aku pun pulang ke rumah. Sampai di rumah sekitar pukul sembilan malam. Aku tidak langsung ke kamar, tapi memilih untuk beristirahat di ruang tamu, ditemani ayah yang menanyakan bagaimana aktivitas ku selama di sana. Ketika sedang mengobrol bersama ayah, aku dikagetkan oleh mama dan kedua adik laki-laki ku yang masuk ke ruang tamu dengan membawa kue ulang tahun. Hal itu tentu saja membuat ku begitu terharu.
    Belum sempat mencicipi kuenya, ayah menyuruhku untuk menyimpan tas ku terlebih dahulu di dalam kamar. Masuk ke dalam kamar, aku kembali dibuat kaget dengan kotak berpia yang ada di atas tempat tidurku. Dan, setelah dibuka, ternyata isinya adalah laptop. Aku langsung loncat kegirangan begitu tahu ayah memberiku laptop. Sebelum masuk kuliah, aku memang sempat meminta ayah untuk membelikanku laptop. Tapi, tidak digubris oleh ayah. Ternyata, ayah mengabulkan permintaanku sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-18.Tapi, bukan ayah namanya jika tidak bisa membuatku kesal dengan hadiah yang ia berikan. Bukannya aku tidak bersyukur, hanya saja, ayah sangat tahu jika anak perempuan satu-satunya ini sangat tidak menyukai warna pink. Tapi, ayah malah membelikanku laptop berwarna pink. Tapi sungguh, aku sangat menghargai hadiah dari ayah ini!!😀

    Mungkin, inilah the most memorable moment-ku bersama ayah. ^^

  14. Nama: Rini Cipta Rahayu
    TW: @rinicipta
    Email: rinspiration95[at]gmail[dot]com
    Pilihan buku: SBB 02
    Jawaban:

    Sebenernya sih setiap moment bersama bapak itu adalah moment yang paling tidak terlupakan. Cara bapak menyayangi anak-anaknya bukan lewat perkataan seperti yang dilakukan oleh mama. Bapak menunjukkannya dengan aksi tanpa banyak berbicara sebelumnya.
    Tiga tahun lalu, bapak menemaniku untuk daftar ulang di universitas. Kami berangkat satu hari sebelumnya, dengan perkiraan sampai pada pagi hari sekitar pukul 04.00. Tapi nggak disangka, lalu lintas laut macet banget sampai akhirnya kapal harus mengapung selama 4 jam untuk menunggu giliran merapat. Waktu itu, aku udah sedih banget. Aku nangis dan terus menerus nanya sama bapak. Tapi beliau justru masih terlihat tenang dan cool gitu. Bapak meminta aku untuk berdoa biar segala hal dilancarkan.
    Sekitar pukul 04.00 kami baru mendarat di Banyuwangi, belum lagi perjalanan menuju Malang. Aku semakin waswas aja, takut nggak bisa daftar ulang. Di sepanjang perjalanan, bapak sibuk menghubungi teman yang bisa membantu kami. Beliau juga mengusahakan cara tercepat menuju kampus. Turun dari bus, kami dua kali menyewa angkot dengan harga yang cukup tinggi agar bisa sampai di kampus tepat waktu. Dan akhirnya aku sampai di kampus, tepat 5 menit sebelum daftar ulang selesai. Speechless banget deh pokoknya! Nggak henti-hentinya bersyukur sama Tuhan.
    Aku nggak ngebayangin aja kalau hari itu aku nggak pergi bareng bapak. Gimana aku masih bisa berpikiran cepat dan tepat? Bagaimana aku menggunakan logika tidak hanya mengikuti perasaanku saja. Salut banget deh sama bapak. Untuk mengantarku saja, beliau harus ijin nggak masuk kerja. Hari itu juga penuh perjuangan, aku yakin beliau lelah dan lapar karena kami nggak makan apapun dari pagi hingga tengah hari. Bapak bersikap tenang dalam keadaan genting sekalipun. Beliau masih bisa menyabarkanku dan memintaku berdoa bersama, tanpa terpengaruh rengekan dan tangisanku. Aku sadar, meskipun sudah dikatakan dewasa tapi aku belum bisa menentukan pilihan dan berani mengambil keputusan seperti yang bapak lakukan. Aku belajar banyak dari beliau🙂

  15. Nama : Pida Alandrian
    TW : @PidaAlandrian92
    Email : shafrida.alandrian@gmail.com
    Pilihan Buku : SBB 02

    Ceritakan the most memorable moment kamu bersama ayah.

    Aku awalnya bingung dan memutar memori kepala ku tentang the most memorable moment bersama ayah. Karena ayah ku orangnya sangat2 super cuek dalam menunjukkan kasih sayangnya atau moment2 bersama kami anaknya. Tapi ada satu moment yang membuat aku sangat terharu terhadap ayah saya ,

    2 minggu yg lalu aku lg ngebet banget pengin beli novel yg wishlist-ku di Tobuk online, ketika aku transfer, rupanya tabunganku kurang  *Hiks Hiks, nggak nyangka kl tabungan ku terkuras banyak di awal2 tahun ini krn buku . tapi aku senang krn buku2 yg aku ingin tercapai aku punya. Dan utk memenuhi tabunganku yg kurang, aku memutar pikiranku gimana caranya supaya bukunya bs langsung aku transfer.
    Aku berniat utk meminjam uang sama ibu, tp ibu langsung mengatakan tidak, krn aku meminjam uang utk beli buku. Aku sedih. Ingin pinjam sama ayah tp segan. Jadi ketika lg baca2 buku, tb2 ayah memberiku uang lumayan cukup utk 5 buku *Hehehe. Ayah tidak blg kl itu untuk buku tp utk jajanku *Alhamdulillah. Aku sngat senang sampai terharuuu banget krn ayah sangat mengerti diriku.
    Nggak nyangka banget org yg selama ini cuek di keluarga, ternyata malah yg paling ngerti hobiku. Dan ketika itu ayah sempat memberiku pesan, ‘membeli buku boleh, tp di lihat dulu siatuasi keuangan sendiiri, jgn asal2 beli buku malah keperluan yg lebih penting malah tdk terpenuhi. Ini terakhir ayah beri kamu uang utk buku’. Gitu..
    Ya ampun aku excited, dan sejak itu aku mengurangi kegiatan membeli buku, dan rajin mengikuti berbagai GA yg di adakan oleh para blogger.

    Dan terima kasih krn sudah ngadain GA di blog ini dengan hadiah buku. Semoga aku bisa terpilih disini *AMIN 

    Salam kenal Pida Alandrian

  16. Nama: Bintang Permata Alam
    Twitter: @Bintang_Ach
    Email: bintangpermata45[at]gmail[dot]com
    Pilihan buku: SBB 02

    Jawaban:
    Sejak kecil, aku sudah hidup jauh dari orang tua. Sampai sekarang, aku masih tinggal bersama budhe. Orang tua hanya sesekali menjenguk, atau terkadang kalau sedang libur sekolah, aku yang berkunjung ke rumah mereka di Sidoarjo. Hubungan kami masih baik, layaknya anak dan orang tua pada umumnya. Lama tidak berjumpa dengan orang tua, terutama Papa, membuat momen langka yang kami lewat serasa menyenangkan. Memang, setelah sekian lama tidak bertatap muka dan berkomunikasi langsung, sekali ketemu ketemu, perasaan sudah sangat membuncah. Sebenarnya, ini sudah bisa disebut most memorable.

    Berbicara tentang most memorable bersama Papa, aku punya aku satu pengalaman yang menarik. Kisah ini datang saat aku sedang diajak ke Sidoarjo waktu liburan sekolah. Saat itu usiaku delapan tahun. Setiap pagi, Mama harus berangkat ke kantor. Begitu juga dengan Papa. Dan, mau tidak mau, setiap hari aku juga harus ikut mereka di kantor. Tidak lucu kan, kalau anak delapan tahun ditinggalin di rumah sendiri sama orang tuanya? Kebetulan hari itu aku ikut ke kantornya Papa. Sebenarnya bosan, karena memang aku di sana tidak ada kegiatan selain bermain sama beberapa pegawai, sampai akhirnya pulang kalau waktu udah sore. Tapi entah kenapa, siang itu habis makan siang, Papa ngajak aku ke perpustakaan kota. Waw, perasaanku saat itu senang sekali. Itu adalah kali pertama aku berkunjung ke perpustakaan besar. Inget banget, buku yang aku baca saat itu adalah serial kartun Donald duck sama lihat lihat buku astronomi. Lihat-lihat gambar planet dan tata surya.

    Itu adalah satu dari kejadian memorable antara aku sama Papa. Selain itu, pengalaman memorable yang lain bersama Papa adalah ngabuburit pas bulan ramadhan sama Papa. Saat itu aku kebetulan aku libur sekolah menjelang lebaran, jadi aku di berkunjung ke sana. Setaip sore menjelang buka, pasti kita selalu ngabuburit berdua. Entah itu cari menu buat buka, ke alun-alun, dan taman kota. Waahhhh pengalaman bersama Papa emang seru banget, terlebih pas masih kecil. Soalnya sekarang udah gede. Ngga mungkin bermanja-manja lagi, hehe.
    Tapi ada loh satu pengalaman memorable sama Papa beberapa bulan yang lalu. Baru aja. Yaitu pas dikasih tau aku bakal diajak ke gramedia. Wohoooo pokoknya seneng banget lah. Dibeliin dua novel pula, hahah. Soalnya sekalian Papa juga mau beli buku. Oh iya, FYI, kita berdua itu sama-sama suka baca buku. Kalau aku lebih cenderung novel, Papa lebih suka buku-buku filsafat, keagamaan, biografi orang-orang sukses. Beliau juga mendukung keinginanku untuk menjadi penulis. Alhamdulillah, seneng banget dapat dukungan dari orang tua, terlebih papa. Soalnya Papa itu dikenal sebagai orang yang fanatik banget sama agama. Jadi, setiap aku mau ambil keputusan, pasti ragu-ragu. Takut salah, takut nggak sesuai dengan kemauan beliau. Tapi, ternyata pas Papa tahu keinginanku ingin menekuni dunia sastra dan jadi penulis, alhamdulillah Papa mendukung sepenuhnya.

    Dan,,, pengalaman memorable yang terakhir adalah saat ulang tahun Papa tahun lalu. Karena kita hidup berjauhan, aku nggak sempat ngucapin selamat ulang tahun langsung. Cuma berkirim VN lewat bbm. Tapi dibalik itu, sebenarnya aku udah nyiapin kejutan, yaitu bikin video ucapan selamat ulang tahun untuk Papa dan aku unggah ke YouTube. Kemudian aku kirim link-nya ke Papa. Nah, nggak lama kemudian, Papa telpon kalau ia sudah lihat videonya. Dan, tau nggak apa yang tejadi? Papa nangissss. Ya allah, rasanya haru, seneng, pokoknya campur aduk lah. Seneng karena bisa lihat membuat Papa sebahagia itu. Sampe nangis pula. Katanya, saat itu Mama juga ikut nangis nonton videonya. Dalam hati, aku berucap syukur terus. Alhamdulillah Ya Allah. Dan, semoga…. Aku bisa lebih membahagiakan mereka untuk ke depannya. Aamiin

    Thanks kak, moga berunttuunnnggg😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s