The Girl on The Train

img_20170124_132225_081Detail buku:
Judul asli: The Girl on The Train
Penulis: Paula Hawkins
Penerjemah: Ingrid Nimpoena
Penyunting: Rina Wulandari
Penata aksara: Axin
Perancang sampul: Wida Sartika
Penerbit: Penerbit Noura Books
Format: e-book
Tebal: 212 hlm
Terbit: 4 September 2015
ISBN: 978-602-0989-97-6
Dibaca melalui aplikasi IJak pada 20-21 Januari 2017

Blurb:
Rachel menaiki kereta komuter yang sama setiap pagi. Setiap hari dia terguncang-guncang di dalamnya, melintasi sederetan rumah-rumah di pinggiran kota yang nyaman, kemudian berhenti di perlintasan yang memungkinkannya melihat sepasangan suami istri menikmati sarapan mereka di teras setiap harinya. Dia bahkan mulai merasa seolah-olah mengenal mereka secara pribadi. “Jess dan Jason,” begitu dia menyebut mereka. Kehidupan mereka-seperti yang dilihatnya-begitu sempurna. Tak jauh berbeda dengan kehidupannya sendiri yang baru saja hilang.

Namun kemudian, dia menyaksikan sesuatu yang mengejutkan. Hanya semenit sebelum kereta mulai bergerak, tapi itu pun sudah cukup. Kini segalanya berubah. Tak mampu merahasiakannya, Rachel melaporkan yang dia lihat kepada polisi dan menjadi terlibat sepenuhnya dengan kejadian-kejadian selanjutnya, juga dengan semua orang yang terkait. Apakah dia telah melakukan kejahatan alih-alih kebaikan?

Resensi:
Membaca buku ini membuat para pembaca harus memperhatikan detail-detail kecil yang disajikan di sepanjang cerita. Dari detail tersebut kita akan menemukan jejak-jejak kebenaran di dalamnya.

Menggunakan sudut pandang Rachel, seorang wanita pencandu alkohol yang mengalami depresi, pembaca diperkenalkan pada sepasang suami istri yang dilihatnya setiap hari saat kereta yang ditumpanginya dalam perjalanan pergi dan pulang dari Ashbury ke London berhenti. Sepasang suami istri yang disebutnya Jason dan Jess itu dijadikannya sosok ideal yang mengingatkan Rachel pada masa lalunya yang bahagia bersama Tom, mantan suaminya.

Saat itu dia dan mantan suaminya tinggal di area yang sama dengan pasangan suami istri itu dan merasakan kebahagiaan yang luar biasa dalam hidupnya. Namun segalanya mulai berubah karena satu dan lain hal yang membuatnya depresi dan akhirnya bercerai dengan sang suami. Perceraian membuat kehidupan Rachel terpuruk: tenggelam dalam ilusi kedamaian yang ditemukannya dalam alkohol yang dikonsumsinya terus menerus.

Rachel pun terpaksa menumpang tinggal dengan seorang teman semasa kuliah yang masih memberinya belas kasihan. Dia juga bermasalah dengan pekerjaannya dan menjadi sering berbohong sehingga mengaburkan batas antara kenyataan dan ilusi efek kecanduan alkohol. Bahkan tidak jarang dia melakukan tindakan yang disangkalnya kemudian hari dengan alasan tidak mengingat perbuatannya tersebut sama sekali.

Dalam kondisi itulah Rachel menjadi cukup terobsesi dengan kesempurnaan visual Jason dan Jess dan kemesraan yang selalu dilihatnya tersebut. Obsesi ini membuat Rachel menyadari bahwa ada hal yang tidak beres ketika dilihatnya Jess sedang bermesraan dengan pria yang bukan Jason. Rachel menduga-duga siapa pria itu dan kenapa Jess mengkhianati Jason. Dalam pikiran yang tidak jernih itu Rachel mendapati dirinya terbangun dengan keadaan berdarah dan terluka namun tidak bisa mengingat apa yang telah terjadi malam sebelumnya karena mabuk berat.

US Cover (2015)

Tidak lama kemudian beredar berita terkait menghilangnya Megan Hipwell, wanita yang dinamai Jess dalam benak Rachel. Rachel harus menghadapi pemeriksaan oleh polisi karena sesuai laporan istri baru Tom, Anna, dia terlihat di daerah tempat tinggal Megan pada malam menghilangnya wanita tersebut. Walaupun akhirnya dilepaskan karena tidak cukup bukti, namun Rachel akhirnya malah menjadi penasaran dengan kasus menghilangnya Megan. Dia nekat menemui suami Megan, Scott, pria yang disebutnya Jason dalam imajinasinya.

Rachel mengaku berteman dengan Megan dan mencoba mengorek kebenaran dari Scott dan sempat menyampaikan kecurigaannya tentang affair Megan. Dari sini Rachel memperoleh kebenaran bahwa pasangan sempurna yang dilihatnya setiap hari itu tidaklah sebahagia kelihatannya. Megan diduga berselingkuh dengan psikiater pribadinya, Dr. Kamal Abdic. Berbekal informasi yang didapatnya dengan berbohong kepada orang-orang yang ditemuinya membuat Rachel semakin bersemangat untuk mengungkapkan kebenaran.

Ketika mayat Megan ditemukan dan kebohongan Rachel pada beberapa orang terkuak, ingatan Rachel akan malam mengilangnya Megan perlahan kembali. Kebenaran tentang siapa pembunuh wanita malang tersebut sekaligus membuka tabir masa lalu Rachel yang selama ini tidak mau diakuinya dan sering menghilang dari ingatannya.


Karakter Rachel yang sejak awal cerita selalu mengalami kebingungan, bertindak impulsif saat mabuk berat, dan beberapa kali kehilangan ingatan membawa para pembaca ikut menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi. Konsistensinya untuk selalu berbohong demi mendapatkan kebenaran setelah dia diinterogasi polisi merupakan salah satu bentuk ketidakpercayaan diri yang menghantuinya selama ini. Beberapa fakta terkait Megan yang diperolehnya membuat Rachel fokus dan merasa menemukan kebenaran yang dijadikannya sebagai sumber kekuatan dan sempat membuatnya terbebas dari kecanduan alkohol selama beberapa saat. Dukungan tulus dari teman yang sekaligus menjadi induk semangnya semakin menguatkan Rachel untuk bangkit dari keterpurukannya.

Megan yang diam-diam dikagumi Rachel karena kemesraannya dengan Scott di rumah yang sempat menjadi sumber kebahagiaan Rachel ternyata menyimpan masa lalu yang rumit dan ikut andil dalam menyebabkan kematiannya yang cukup mengenaskan.

Para tokoh di sekitar Rachel pun tidak luput untuk dilibatkan dalam buku ini, dimana Tom sebagai mantan suami Rachel terus saja mengalami gangguan dari Rachel yang masih belum move on dari kehidupan masa lalu mereka. Pun demikian karakter Anna yang diceritakan merasa sangat terganggu dengan kebiasaan Rachel yang masih saja menghubungi Tom saat mabuk berat. Hubungan buruk Rachel dengan kedua orang ini tentu saja membuat para pembaca menjadi penasaran dengan penyebab perceraian Rachel dan mengapa wanita pemabuk ini masih saja mengancam rumah tangga mereka, termasuk keselamatan anak mereka yang masih bayi.

Scott sebagai suami Megan pun menjadi terhubung dengan Rachel saat dia membohonginya demi mendapatkan kebenaran yang diinginkan Rachel. Keterlibatan Dr. Kamal Abdic perlahan ikut menuntun Rachel dalam mengingat hal yang yang sebenarnya terjadi pada malam menghilangnya Megan.

Pergantian sudut pandang Rachel dan Megan dalam bab-bab buku ini cukup pembaca membutuhkan konsentrasi lebih agar tidak tertukar sedang membaca bab dari sudut pandang siapa. Namun hal ini tidak mengaburkan kebenaran yang secara perlahan terungkap dari berbagai kejadian yang dialami kedua wanita yang tidak saling mengenal namun terhubung secara tidak langsung ini.

Gaya penulisan Paula Hawkins dan The Girl on the Train dikait-kaitkan dengan Gone Girl karya Gillian Flynn yang dianggap mirip karena menggunakan narator yang tidak bisa dipercaya dan mengambil seting kehidupan sub-urban. Namun sang Penulis menyangkalnya dengan mengemukakan perbedaan utama masing-masing karakter tokoh wanita dari kedua buku tersebut.

Ingin tahu mengapa Megan harus mengalami nasib nahas dan siapa pelaku pembunuhannya? Sebaiknya para pembaca mencari tahu sendiri dengan membaca buku yang meraih penghargaan 2015 Goodreads Choice Award pada katagori Mystery & Thriller ini. This book is worth to read.

Sensasi rasa susai baca: 4/5

Advertisements

One thought on “The Girl on The Train

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s